Pertama di Dunia? Rakyat Justru Jadi Kelinci Percobaan, Nasib Jutaan Tabung LPG Tua Tak Jelas

 

Ilustrasi tabung gas 3 kg ( foto: Gebrak. id) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemerintah dengan penuh ambisi mengklaim telah menciptakan terobosan dunia: tabung gas serat fiber komposit Tipe 4 berkapasitas 3 kilogram sebagai pengganti tabung LPG hijau konvensional. Namun di balik kegaduhan "pertama di dunia", satu pertanyaan mengganjal yang hingga kini tak terjawab: bagaimana nasib puluhan juta tabung LPG 3 kg yang saat ini beredar di masyarakat?

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari Kementerian ESDM mengenai skema pergantian tabung lama. Apakah akan ada program tukar tambah gratis? Atau rakyat kecil justru dipaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tabung serat fiber yang teknologinya masih dalam proses paten?

Janji Manis di Atas Kertas

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Dirjen Migas Laode Sulaeman dengan lantang mempromosikan tabung serat fiber ini sebagai solusi atas ketergantungan impor LPG yang mencapai 75-80% dari total kebutuhan nasional lebih dari 8 juta ton per tahun.

Klaimnya, tabung berbahan serat fiber ini lebih ringan, lebih aman menahan tekanan tinggi, dan mampu memangkas subsidi energi hingga 30% karena gasnya berasal dari dalam negeri (CNG), bukan impor.

"Penelitian untuk menggunakan CNG ini sudah cukup lama. Yang paling penting sekarang, paten belum. Makanya target 3 bulan ke depan itu harus sudah paten," ujar Laode Sulaeman dalam acara diskusi energi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Ya, paten belum rampuh. Standardisasi Lemigas pun masih berjalan. Artinya, produk yang katanya akan diproduksi masif dalam waktu dekat ini belum memiliki kepastian hukum dan keamanan teknis.

Nasib Tabung Lama: Abu-abu dan Mencemaskan

Publik berhak resah. Selama ini, tabung LPG 3 kg bersubsidi telah menjadi urat nadi kebutuhan energi rumah tangga miskin. Namun ketika pemerintah gencar membicarakan inovasi, tidak ada frasa "tukar tambah otomatis" atau "konversi gratis" dalam seluruh pernyataan pejabat ESDM.

Menteri Bahlil hanya menyebut kata "konversi" secara abstrak. "2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya, kemudian kalau sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi," katanya usai rapat terbatas di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).

Konversi seperti apa? Apakah rakyat cukup menukarkan tabung lamanya dengan yang baru tanpa biaya? Atau justru ada pungutan? Tidak ada jawaban.

Yang lebih mengkhawatirkan, Bahlil justru membuka opsi bahwa subsidi hanya untuk gasnya, bukan untuk tabung. "Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa," ujarnya. Kalimat diplomatis yang bisa diartikan: tabung baru bisa jadi tidak disubsidi, alias rakyat harus bayar penuh.

Ironi "Pertama di Dunia" bagi Rakyat Kecil

Skenario terburuk yang sangat mungkin terjadi:

1. Tabung serat fiber resmi diluncurkan dengan harga jual tinggi karena teknologi komposit.

2. Tidak ada skema penukaran gratis. Masyarakat miskin yang tak mampu membeli tabung baru otomatis terdampak.

3. Distribusi LPG konvensional mulai dikurangi, memaksa rakyat beralih meskipun dengan biaya besar.

4. Subsidi gas CNG hanya dinikmati oleh mereka yang mampu beli tabung baru.

Ini bukan skenario tanpa bukti. Sejarah kebijakan konversi energi di Indonesia kerap meninggalkan persoalan di tingkat bawah. Dari minyak tanah ke LPG dulu pun, masyarakat sempat mengalami kelangkaan dan kepanikan harga.

Uji Coba? Rakyat Bukan Laboratorium

Pemerintah mengaku akan melakukan uji coba dalam 2-3 bulan ke depan. Tapi untuk tabung yang katanya "belum ada di dunia" untuk ukuran 3 kg, siapa yang menjamin keamanannya setelah diproduksi masif untuk puluhan juta rumah tangga?

Kecelakaan akibat kebocoran tabung gas selama ini sudah sering terjadi. Jika material serat fiber gagal di lapangan, masyarakat kecil lagi-lagi yang jadi korban.

Sementara itu, pejabat ESDM sibuk mengejar gelar "penemu pertama di dunia" tanpa menyediakan pagar pengaman sosial yang jelas.

Gelap Tanpa Kepastian

Hingga detik ini, tidak ada kabar baik bagi pemilik tabung LPG 3 kg. Tidak ada janji penukaran otomatis, tidak ada skema perlindungan, tidak ada angka pasti berapa biaya yang harus dikeluarkan rakyat jika ingin beralih ke tabung serat fiber.

Yang ada hanya target 3 bulan, paten yang masih diurus, dan klaim penghematan 30% yang masih sebatas kalkulasi di atas kertas.

Rakyat hanya bisa menunggu. Dan dalam penantian itu, pesimisme tumbuh subur. Karena pengalaman membuktikan, inovasi tanpa skema konversi yang berpihak pada rakyat miskin, hanyalah cara halus untuk memindahkan beban biaya dari APBN ke kantong warga.

Kami akan terus mengawal. Tapi untuk saat ini, tak ada secercah harapan pun.


(Redaksi)

Posting Komentar untuk "Pertama di Dunia? Rakyat Justru Jadi Kelinci Percobaan, Nasib Jutaan Tabung LPG Tua Tak Jelas"