97 Persen Perusahaan RI Beralih Rekrut Berbasis Skill, Ijazah tak Lagi Jadi Patokan Utama

Laporan Coursera 2026: 97% perusahaan Indonesia menerapkan perekrutan berbasis keterampilan. Ijazah bergeser, micro-credentials jadi kunci gaji dan karier. (Foto: freepik) 
Editor: Devona R

GEBRAK.ID,JAKARTA - Dunia kerja di Indonesia sedang mengalami pergeseran besar. Laporan Micro Credentials Impact Report 2026 dari Coursera mengungkapkan bahwa sebanyak 97 persen perusahaan di Indonesia kini telah menerapkan sistem perekrutan berbasis keterampilan (skills-based hiring), terutama untuk posisi entry level. Hal ini menandakan bahwa ijazah formal mulai bergeser sebagai patokan utama, digantikan oleh bukti kompetensi nyata dari calon karyawan. 

Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 3.500 pemberi kerja, mahasiswa, dan pimpinan perguruan tinggi di tujuh negara ini menegaskan bahwa perusahaan lebih mencari kandidat yang terbukti memiliki kemampuan, bukan hanya sekadar gelar akademis. 

Ijazah dan Skill: Kini Harus Seiring

Meskipun perekrutan berbasis skill mendominasi, pakar menilai ijazah tidak serta merta kehilangan nilainya. Pengamat Pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jejen Musfah, menyatakan bahwa ijazah tetap penting sebagai dasar. Namun, keterampilan spesifik kini menjadi pembeda utama.

"Keduanya penting. Skill yang dimaksud tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kerja sama, kreatif, dan kritis, ditambah keterampilan digital seperti coding dan AI," ujarnya dilansir dari Kompas.com.

Micro-Credentials: Tiket Emas Menuju Karier dan Gaji Lebih Tinggi

Salah satu temuan paling menarik adalah soal micro-credentials. Sertifikasi keterampilan spesifik ini dinilai sebagai indikator nyata kesiapan kerja. Laporan menunjukkan bahwa 96 persen pemberi kerja di Indonesia menilai lulusan dengan micro-credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama bekerja. 

Tak hanya kinerja, kepemilikan sertifikasi ini juga berdampak langsung pada kantong. Survei mencatat, 96 persen perusahaan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi bagi pemegang micro-credentials. Bahkan, 49 persen di antaranya siap memberikan kenaikan gaji lebih dari 15 persen, khususnya untuk sertifikasi di bidang Generative AI (GenAI). 

Managing Director Asia Pacific Coursera, Ashutosh Gupta, menegaskan bahwa micro-credentials bukan lagi nilai tambah, melainkan indikator penting daya saing kandidat. Hal ini terbukti, di mana 97 persen lulusan dengan micro-credentials berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidang studinya dalam waktu 12 bulan setelah lulus. 

Respon Dunia Pendidikan: Kampus Mulai Beradaptasi

Pergeseran ini memaksa institusi pendidikan untuk beradaptasi. Sebanyak 67 persen pimpinan perguruan tinggi di Indonesia menilai bahwa kampus yang tidak mengintegrasikan micro-credentials ke dalam kurikulum berisiko tinggi kehilangan relevansi. 

Beberapa kampus seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Katolik Atma Jaya telah meluncurkan program micro-credentials yang terintegrasi, memungkinkan mahasiswa mendapatkan kredit akademik sekaligus sertifikasi yang diakui industri. 

Durasi Cari Kerja Masih Jadi Tantangan

Di sisi lain, data dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa durasi rata-rata pencarian kerja lulusan di Indonesia masih mencapai hampir 20 bulan atau 1 tahun 8 bulan. Ini mengindikasikan adanya kesenjangan (mismatch) antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

Temuan LPEM FEB UI juga memperkuat data Coursera, bahwa individu yang memiliki pengalaman magang dan sertifikat kompetensi dapat mempercepat masa pencarian kerja hingga 3,6 bulan lebih cepat dibandingkan yang tidak memilikinya. 

(berbagai sumber)