Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID – FIFA mengambil langkah yang menarik perhatian publik pada gelaran Piala Dunia 2026. Badan sepak bola dunia itu mulai menerapkan versi khusus penghargaan Player of the Match bagi sejumlah pemain Muslim dengan menghilangkan branding sponsor minuman beralkohol saat seremoni penyerahan trofi.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan agama sekaligus mempertimbangkan sensitivitas budaya para pemain dari negara-negara yang melarang atau tidak menganjurkan konsumsi alkohol.
Perubahan itu mulai terlihat setelah gelandang Timnas Maroko, Ismael Saibari, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik usai mencetak gol tercepat sepanjang Piala Dunia 2026 dalam laga melawan Skotlandia.
Berbeda dari seremoni penghargaan pada umumnya, tidak tampak logo Michelob ULTRA, merek bir yang menjadi sponsor resmi penghargaan tersebut. Sebagai gantinya, FIFA menggunakan latar dan desain trofi yang lebih netral dengan tulisan "Superior Player of the Match" berdampingan dengan identitas visual resmi Piala Dunia 2026.
Menurut laporan Morocco World News, Rabu (1/7/2026), pendekatan serupa juga diberikan kepada sejumlah pemain Muslim lainnya, di antaranya Emam Ashour (Mesir), Ali Olwan (Yordania), Ramin Rezaeian (Iran), Mahmoud Abunada (Qatar), serta Yan Diomande (Pantai Gading).
FIFA Hormati Keyakinan Agama Pemain
Juru bicara FIFA menjelaskan bahwa versi penghargaan tanpa branding sponsor alkohol memang disediakan bagi pemain yang mengajukan permintaan tersebut.
"Penghargaan dan latar belakang tanpa branding sponsor tersedia atas permintaan pemain yang terpilih," ujar juru bicara FIFA.
FIFA juga menyebut kebijakan yang sama diterapkan apabila penerima penghargaan belum mencapai usia legal untuk mengonsumsi minuman beralkohol sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah ini dinilai menjadi bagian dari upaya FIFA menghadirkan turnamen yang lebih inklusif dengan tetap menghormati keberagaman agama, budaya, dan latar belakang para peserta.
Bukan Kali Pertama Terjadi
Penyesuaian semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia sepak bola internasional.
Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, kiper Timnas Mesir Mohamed El-Shenawy sempat menjadi sorotan setelah dilaporkan menolak penghargaan Player of the Match karena berkaitan dengan sponsor minuman beralkohol. Peristiwa tersebut memicu diskusi luas mengenai penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan dalam ajang olahraga internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kompetisi sepak bola dunia juga mulai menerapkan kebijakan serupa. Beberapa penyelenggara mengganti botol minuman beralkohol dalam seremoni dengan kemasan netral atau minuman nonalkohol ketika penghargaan diberikan kepada pemain Muslim.
Kebijakan terbaru FIFA di Piala Dunia 2026 pun mendapat perhatian positif dari berbagai kalangan karena dinilai menunjukkan fleksibilitas penyelenggara dalam menghormati keyakinan pribadi para atlet tanpa mengurangi nilai penghargaan yang diberikan.
Dengan semakin beragamnya peserta dan budaya dalam sepak bola internasional, langkah seperti ini dipandang sebagai bagian dari komitmen FIFA untuk menciptakan lingkungan kompetisi yang lebih inklusif dan menghargai perbedaan.
(Sumber: FIFA)
