Kemendikdasmen Genjot Integrasi Dapodik agar Program Makan Bergizi Gratis Tepat Sasaran

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq (dua kiri, sedang berbicara), dalam rapat koordinasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (29/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI terus memperkuat dukungan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mempercepat integrasi data pokok pendidikan (dapodik) nasional sekaligus meningkatkan kesiapan sarana dan prasarana sekolah di berbagai daerah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas jangkauan program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto agar semakin banyak peserta didik menerima manfaat secara tepat sasaran.

Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Rabu (29/7/2026), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengatakan bahwa saat ini Kemendikdasmen tengah mengerjakan dua agenda utama terkait pengelolaan data.

Agenda pertama adalah membangun integrasi data lintas kementerian dan lembaga yang melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta sejumlah instansi terkait. Integrasi tersebut diharapkan menghasilkan satu basis data yang akurat dan menjadi rujukan bersama.

Sementara agenda kedua adalah menyelaraskan data peserta didik berbasis Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) melalui proses sinkronisasi dan validasi agar data penerima manfaat semakin akurat.

Menurut Fajar, kualitas data menjadi faktor penting dalam memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis berjalan efektif dan menjangkau siswa yang benar-benar membutuhkan.

Tak hanya memperbaiki sistem pendataan, Kemendikdasmen juga terus memperkuat infrastruktur sekolah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Salah satu fokusnya adalah mengoptimalkan fungsi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai bagian dari upaya mendukung peningkatan kesehatan peserta didik.

Menurut Fajar, pemenuhan gizi harus berjalan seiring dengan peningkatan sanitasi dan layanan kesehatan di lingkungan sekolah.

"Hingga saat ini, sekitar 80 persen murid di Indonesia telah menjadi penerima manfaat program MBG. Kami berharap, upaya yang kami lakukan melalui percepatan data dan penguatan infrastruktur di sekolah akan berdampak kepada peningkatan kualitas kesehatan murid serta mendukung perluasan jangkauan MBG," ujar Fajar.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi langkah Kemendikdasmen dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.

Zulkifli Hasan menegaskan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar tata kelola program berjalan semakin efektif dan terintegrasi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjelaskan bahwa implementasi Program MBG akan dilakukan secara bertahap dengan target yang terukur.

Menurut Sudaryono, BGN akan memfokuskan pembaruan data penerima manfaat melalui proses verifikasi dan pemutakhiran data peserta didik. Selain itu, cakupan penerima manfaat juga akan diperluas ke sekolah keagamaan serta dipercepat pelaksanaannya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), terutama daerah yang masih memiliki angka stunting tinggi.

"Kami menegaskan bahwa dukungan dari kementerian dan lembaga merupakan hal yang sangat penting sebagai dukungan pada program MBG. Khusus di Kemendikdasmen, pendataan dan konfirmasi kesiapan satuan pendidikan untuk menerima MBG menjadi langkah penting agar pelaksanaan program dapat berjalan tepat sasaran dan sesuai dengan kesiapan masing-masing sekolah," kata Sudaryono.

Melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis semakin efektif, menjangkau lebih banyak siswa di seluruh Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kualitas gizi, kesehatan, dan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

(Sumber: Kemendikdasmen)