Editor: Devona R
Foto dokumentasi ini memperlihatkan seekor paus sperma terlihat di perairan Laut China Selatan. (Foto: Xinhua)
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru mengungkap fakta menarik tentang kehidupan paus sperma di Laut China Selatan. Mamalia laut terbesar bergigi di dunia itu ternyata memiliki cara berkomunikasi yang kompleks, bahkan disebut menyerupai sistem bahasa manusia.
Di kedalaman lebih dari 2.000 meter, paus sperma saling bertukar informasi menggunakan rangkaian bunyi klik pendek yang berulang dan terdengar seperti kode Morse. Pola suara tersebut dikenal sebagai koda, yakni susunan bunyi ritmis yang menjadi sarana komunikasi sosial antarpaus.
Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the Acoustical Society of America 2026 setelah penelitian selama tujuh tahun yang dipimpin Li Songhai dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa Laut Dalam, Akademi Ilmu Pengetahuan China.
Menurut para peneliti, koda berfungsi layaknya kata atau kalimat sederhana yang memungkinkan paus sperma saling mengenali identitas serta kelompok asalnya.
Yang lebih menarik, setiap kelompok paus sperma memiliki "dialek" yang berbeda. Sama seperti manusia yang memiliki logat atau bahasa daerah, setiap klan paus menggunakan pola koda khas yang diwariskan secara turun-temurun.
Para ilmuwan menemukan kemampuan tersebut bukan diperoleh sejak lahir, melainkan dipelajari. Anak paus sperma bahkan melewati fase menyerupai "mengoceh" sebelum akhirnya mampu menguasai pola komunikasi kelompoknya.
Selama periode 2019 hingga 2025, tim peneliti melakukan delapan ekspedisi ilmiah di Laut China Selatan. Dari penelitian tersebut, mereka mencatat 13 kali penampakan paus sperma dan berhasil mengumpulkan lebih dari 1.200 menit rekaman suara bawah laut.
Li Songhai menjelaskan, bunyi klik yang dihasilkan paus sperma berasal dari bagian kepala. Suara tersebut memantul melalui berbagai struktur internal sehingga menghasilkan serangkaian pulsa yang dapat dianalisis.
Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, panjang pulsa suara itu juga dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan ukuran tubuh seekor paus.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar paus sperma yang ditemukan di Laut China Selatan merupakan paus betina dan paus muda. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan perairan tropis tersebut menjadi lokasi penting untuk membesarkan anak-anak paus sperma.
Penelitian juga mengungkap hubungan menarik antara populasi paus sperma di Laut China Selatan dengan kelompok paus di berbagai belahan dunia.
Pola dialek yang mereka gunakan ternyata sangat mirip dengan populasi paus sperma di Kepulauan Galápagos, Peru, Chile, Tonga, hingga Papua Nugini. Kesamaan tersebut mengindikasikan bahwa populasi di Laut China Selatan memiliki hubungan migrasi jangka panjang dari kawasan Samudra Pasifik.
Para peneliti menyebut, jika bunyi klik biasa digunakan untuk mengetahui keberadaan paus lain, maka koda menjadi penanda identitas kelompok atau klan mereka.
Di sisi lain, paus sperma saat ini masih berstatus Rentan dalam Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Spesies ini menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia, mulai dari tabrakan dengan kapal, terjerat alat tangkap ikan, hingga meningkatnya kebisingan di bawah laut yang dapat mengganggu sistem komunikasi mereka.
Para ilmuwan berharap hasil penelitian ini menjadi dasar penting dalam upaya konservasi paus sperma, terutama melalui pemanfaatan data akustik untuk memantau populasi sekaligus melindungi habitat mereka di Laut China Selatan.
(Sumber: Xinhua)