Apakah Geisha Tidur dengan Klien? Memahami Fakta, Sejarah, dan Perbedaannya dengan Oiran
Perbedaan maiko (kiri) dan geiko (kanan). (Foto: Wikipedia).
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID– Geisha (芸者), yang secara harfiah berarti “seniman”, merupakan seniman sekaligus penghibur tradisional Jepang. Mereka dikenal karena keterampilan dalam berbagai kesenian, seperti tari, musik, nyanyian, serta kemampuan berinteraksi dan menghibur tamu. Di Kyoto, istilah geiko digunakan untuk menyebut geisha, sedangkan perempuan yang masih menjalani masa pelatihan dikenal sebagai maiko.
Geisha berkembang pesat terutama pada abad ke-18 dan ke-19. Meskipun jumlahnya kini jauh lebih sedikit dibandingkan masa lalu, profesi ini masih bertahan dan menjadi bagian dari warisan budaya Jepang. Istilah geiko dan maiko lebih umum digunakan di wilayah Kansai, khususnya Kyoto, dengan penggunaan maiko yang secara khusus berkaitan dengan tradisi di distrik-distrik geisha Kyoto.
Dalam sejarahnya, istilah “geisha” juga pernah mengalami perubahan makna ketika diperkenalkan kepada masyarakat Barat. Pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang setelah Perang Dunia II, istilah seperti “geisha girl” kadang digunakan dengan konotasi seksual atau prostitusi. Penggunaan tersebut turut menyebabkan munculnya kesalahpahaman mengenai profesi geisha yang masih bertahan hingga sekarang.
Kehidupan seorang geisha tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menghibur pelanggan. Mereka menjalani pelatihan dalam berbagai bidang seni dan budaya Jepang. Para calon geisha biasanya tinggal dan belajar di okiya, yaitu rumah tempat komunitas geisha menjalani kehidupan serta pelatihan profesional. Dalam perjalanan menuju profesi tersebut, mereka dapat memulai dari tugas-tugas sebagai pembantu sebelum memasuki tahap pelatihan sebagai maiko.
Pelatihan geisha mencakup berbagai keterampilan seni yang kemudian digunakan dalam pertunjukan maupun kehidupan profesional mereka. Proses tersebut membutuhkan waktu, kedisiplinan, dan penguasaan tradisi yang mendalam.
Pada Desember 2007, kawasan Asakusa di Tokyo menjadi tempat debut Sayuki, yang dikenal sebagai perempuan Barat non-Jepang pertama yang menjalani profesi geisha dalam sejarah modern Jepang. Awalnya, keterlibatannya sebagai geisha berkaitan dengan penelitian akademis. Namun, ia kemudian memilih untuk melanjutkan aktivitas tersebut secara profesional. Kisah dan pengalamannya sebagai geisha juga menjadi subjek berbagai proyek publikasi dan dokumenter.
Pertanyaan tentang apakah geisha berhubungan seksual dengan klien merupakan salah satu kesalahpahaman paling populer mengenai budaya Jepang. Gambaran geisha sebagai perempuan yang menawarkan layanan seksual memang pernah beredar luas, terutama di kalangan orang asing setelah Perang Dunia II.
Dilansir dari mai-ko.com/travel/culture-in-japan, geisha pada dasarnya bukan pekerja seks. Geisha adalah seniman yang dilatih secara khusus untuk menghibur tamu melalui seni tradisional Jepang, seperti tari, musik, permainan, percakapan, dan berbagai bentuk kesenian lainnya.
Apakah geisha tidur dengan klien?
Tidak. Hubungan seksual bukan bagian dari profesi geisha.
Istilah geisha (芸者) secara harfiah berkaitan dengan seseorang yang berkecimpung dalam seni. Para geisha menjalani pendidikan dan latihan dalam berbagai kesenian tradisional sebelum tampil untuk pelanggan di rumah teh atau acara jamuan tertentu.
Kesalahpahaman mengenai profesi mereka muncul karena geisha pada masa lalu bekerja di kawasan hiburan yang juga menjadi tempat beroperasinya berbagai jenis pekerja hiburan dan pekerja seks. Bagi pengunjung asing yang tidak memahami struktur sosial dan profesi di Jepang pada masa tersebut, semua perempuan yang bekerja di kawasan hiburan terkadang dianggap memiliki pekerjaan yang sama.
Padahal, geisha dan pekerja seks memiliki fungsi serta status profesi yang berbeda.
Mengapa geisha sering dianggap sebagai courtesan atau prostitusi?
Salah satu penyebabnya adalah kondisi kawasan hiburan Jepang pada masa lalu. Rumah geisha, teater kabuki, rumah teh, dan tempat hiburan lainnya dapat berada dalam kawasan yang berdekatan.
Pada masa pascaperang, kesalahpahaman tersebut semakin menyebar. Sebagian perempuan yang sebenarnya bekerja sebagai pekerja seks memperkenalkan diri kepada tentara asing sebagai “geisha girls”. Bagi orang yang belum mengenal budaya Jepang, istilah tersebut kemudian diasosiasikan dengan prostitusi.
Padahal, istilah geisha merujuk pada seniman penghibur yang memiliki keterampilan khusus.
Geisha dan Oiran: Dua profesi yang berbeda
Untuk memahami kesalahpahaman ini, kita perlu melihat sejarah oiran.
Pada periode Edo (1603–1868), kawasan hiburan Jepang dihuni oleh berbagai kelompok profesional. Salah satunya adalah yūjo, yaitu pekerja seks. Di antara kelompok tersebut terdapat oiran dan tayū, yang menempati tingkatan paling tinggi dalam hierarki pekerja seks pada masa itu.
Berbeda dengan geisha, oiran memang merupakan courtesan atau pekerja seks kelas atas. Namun, mereka juga mendapatkan pendidikan dalam seni, musik, sastra, dan etiket sehingga mampu berinteraksi dengan pelanggan dari kalangan berada.
Oleh sebab itu, ada kemiripan tertentu antara geisha dan oiran dalam hal pendidikan seni dan penampilan. Akan tetapi, tujuan utama kedua profesi tersebut berbeda.
Geisha menawarkan keterampilan seni dan hiburan, sedangkan oiran merupakan bagian dari sistem prostitusi pada masa itu.
Perbedaan penampilan geisha dan oiran
Meskipun sekilas sama-sama mengenakan kimono dan riasan tradisional, geisha dan oiran memiliki sejumlah ciri visual yang berbeda.
1. Posisi obi
Salah satu perbedaan yang paling mudah dikenali adalah posisi simpul obi, yaitu sabuk kimono.
- Geisha: obi diikat di bagian belakang.
- Oiran: secara historis obi dikenakan dengan simpul di bagian depan.
2. Gaya rambut
Geisha umumnya menggunakan gaya rambut yang lebih sederhana dengan aksesori yang tidak terlalu berlebihan.
Sebaliknya, oiran dikenal dengan tata rambut yang sangat rumit dan dihiasi banyak aksesori, termasuk ornamen dari kulit penyu dan material dekoratif lainnya.
3. Kimono
Geisha biasanya menggunakan kimono dengan tampilan yang relatif elegan dan tidak terlalu mencolok.
Oiran justru terkenal dengan pakaian yang lebih mewah, berlapis, dan penuh ornamen sebagai simbol status sosial serta kekayaan.
4. Alas kaki
Geisha menggunakan sandal tradisional yang relatif sederhana.
Oiran dikenal menggunakan geta tinggi berwarna hitam yang menjadi bagian penting dari penampilan mereka.
5. Riasan
Gaya riasan juga dapat membedakan keduanya. Geisha memiliki gaya rias tradisional yang khas, sementara oiran memiliki aturan dan gaya rias tersendiri yang berbeda menurut periode serta statusnya.
Dengan kata lain, kimono, riasan, dan tata rambut tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi juga dapat menunjukkan profesi dan posisi sosial seseorang dalam sistem hiburan tradisional Jepang.
Seperti apa kehidupan seorang geisha?
Geisha bekerja di kawasan yang dikenal sebagai hanamachi, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “kota bunga”. Kawasan ini menjadi pusat kehidupan profesional geisha, termasuk tempat mereka berlatih dan menerima undangan pertunjukan.
Di Kyoto, kawasan geisha yang terkenal mencakup Gion Kobu, Gion Higashi, Miyagawa-cho, Pontocho, dan Kamishichiken.
Dalam sebuah jamuan, geisha dapat menghibur tamu dengan berbagai cara, antara lain:
- memainkan alat musik tradisional;
- menyanyi;
- menampilkan tarian;
- menuangkan minuman bagi tamu;
- mengajak tamu berbincang;
- memainkan permainan tradisional;
- serta menciptakan suasana jamuan yang menyenangkan dan berkelas.
Jadi, pekerjaan geisha bukan sekadar “melayani tamu”, melainkan menghadirkan pengalaman hiburan berbasis seni dan budaya tradisional Jepang.
Geisha harus menjalani latihan seni
Menjadi geisha bukanlah profesi yang dapat dilakukan tanpa persiapan. Pelatihan tradisional mencakup berbagai bidang seni.
Beberapa keterampilan yang umum dipelajari meliputi:
- tari tradisional Jepang;
- permainan shamisen;
- musik dan nyanyian;
- upacara minum teh;
- permainan drum;
- tata krama dan percakapan;
- kaligrafi;
- merangkai bunga;
- serta kesenian tradisional lainnya.
Di Kyoto, geisha dikenal dengan sebutan geiko, sementara perempuan yang masih menjalani tahap pelatihan disebut maiko.
Karena itu, melihat geisha hanya dari pakaian dan riasannya tidak cukup untuk memahami profesi tersebut. Di balik penampilan mereka terdapat proses pendidikan seni dan tradisi yang panjang.
Dari mana asal profesi geisha?
Sejarah geisha berkembang dalam lingkungan hiburan Jepang pada masa Edo. Menariknya, geisha pertama yang dikenal dalam sejarah justru adalah laki-laki.
Mereka sering disebut taikomochi dan bertugas menghibur tamu melalui musik, nyanyian, humor, serta percakapan. Seiring waktu, perempuan yang bekerja di rumah-rumah teh juga mulai mengambil peran sebagai penghibur.
Popularitas para penghibur perempuan tersebut kemudian meningkat dan berkembang menjadi bentuk profesi geisha yang lebih dikenal saat ini.
Perkembangan ini berlangsung di kawasan hiburan yang juga dihuni oleh berbagai profesi lain. Kedekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sejarah geisha kemudian sering bercampur dengan sejarah prostitusi dalam persepsi masyarakat modern.
Apa yang terjadi dengan oiran?
Sistem prostitusi legal di Jepang mengalami perubahan besar pada abad ke-20. Prostitusi secara resmi dilarang berdasarkan Anti-Prostitution Law yang berlaku mulai 1958, sehingga sistem prostitusi tradisional seperti yang dikenal pada masa Edo tidak lagi memiliki bentuk legal seperti sebelumnya.
Oiran sebagai profesi historis pun pada akhirnya menghilang.
Sementara itu, tradisi tayū masih dipertahankan dalam bentuk yang berbeda di Kyoto. Tayū modern lebih berfungsi sebagai seniman dan penghibur dalam acara budaya, bukan sebagai pekerja seks seperti dalam sistem historisnya.
Mengapa mitos tentang geisha masih bertahan?
Mitos tentang geisha sulit hilang karena gambaran mereka sering disederhanakan dalam film, buku, media populer, dan budaya Barat.
Penampilan geisha yang sangat khas—kimono, riasan putih, rambut tradisional, serta aktivitas mereka di rumah teh—memang terlihat misterius bagi orang yang belum mengenal budaya Jepang.
Selain itu, sejarah geisha dan pekerja seks memang pernah berlangsung di lingkungan geografis yang sama. Namun, berada di kawasan hiburan yang sama tidak berarti memiliki profesi yang sama.
Kesalahpahaman tersebut semakin kuat ketika istilah “geisha girl” digunakan oleh sebagian pekerja seks pada era pascaperang untuk memperkenalkan diri kepada tentara asing.
Jadi, apa sebenarnya pekerjaan geisha?
Singkatnya, geisha adalah seniman profesional dalam tradisi hiburan Jepang.
Mereka tidak dibayar untuk melakukan hubungan seksual dengan pelanggan. Keahlian mereka terletak pada kemampuan menghibur melalui musik, tari, percakapan, permainan, etiket, dan berbagai seni tradisional.
Karena itu, anggapan bahwa “geisha adalah prostitusi” merupakan penyederhanaan sejarah yang tidak tepat.
Memahami perbedaan antara geisha, maiko, oiran, dan yūjo membantu kita melihat bahwa dunia hiburan tradisional Jepang memiliki struktur profesi yang jauh lebih kompleks daripada gambaran yang sering muncul dalam budaya populer
Dengan memahami sejarahnya, kita dapat melihat geisha bukan sebagai simbol prostitusi, melainkan sebagai bagian penting dari warisan seni pertunjukan dan budaya tradisional Jepang
