Sutradara Train to Busan Ungkap Ibunya Jadi Inspirasi Film Paradise Lost
Poster resmi film "Paradise Lost" yang jadi karya terbaru dari Sutradara Yeon Sang Ho. (Foto: Instagram @cjenmmovie)
GEBRAK.ID — Sutradara Korea Selatan Yeon Sang Ho kembali menghadirkan film dengan kisah psikologis yang kelam. Menariknya, ide awal karya terbarunya, Paradise Lost, justru berawal dari cerita pendek yang ditulis oleh ibunya sendiri.
Film tersebut dijadwalkan tayang di Korea Selatan pada 21 Oktober 2026. Sebelumnya, Paradise Lost telah diperkenalkan kepada penonton internasional melalui pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival pada 13 September 2026.
Yeon mengungkap cerita tersebut dalam konferensi pers di Seoul. Ia mengatakan sang ibu pernah mengkhawatirkan pekerjaannya sebagai penulis skenario karena dianggap terlalu sulit.
“Saya sudah mengatakan ini sebelumnya, tetapi ibu saya sangat menyayangi saya. Suatu hari, saat saya mengunjunginya, dia mengatakan dia khawatir bahwa penulisan skenario terlalu sulit bagi saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa itu tidak sulit dan siapa pun bisa menulis,” kata Yeon, Minggu (20/9/2026).
Pada kunjungan berikutnya, ibunya menunjukkan sebuah cerita sepanjang tiga halaman. Yeon kemudian membeli tulisan tersebut sambil bercanda dengan harga diskon. Dari bahan sederhana itu, ia mengembangkan skenario Paradise Lost hingga menghasilkan versi ketiga yang menjadi dasar film.
Paradise Lost menghadirkan Kim Hyun Joo sebagai So Young dan Bae Hyun Sung sebagai Sun Woo. Ceritanya mengikuti So Young yang kehilangan putranya dalam kecelakaan bus sekolah sembilan tahun sebelumnya. Ketika Sun Woo yang selama ini dianggap telah meninggal ternyata kembali, kehidupan sang ibu berubah drastis.
Konflik semakin rumit karena selama bertahun-tahun So Young menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk menciptakan kembali sosok putranya dalam versi yang lebih muda dan sempurna. Ia kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa anak kandung yang kembali tidak sama dengan sosok ideal yang selama ini ia simpan melalui teknologi.
Yeon menyebut Paradise Lost sebagai salah satu film tergelap yang pernah dibuatnya. Setelah mengeksplorasi hubungan ayah dan anak dalam film The Ugly, kali ini ia mengangkat hubungan ibu dan anak sekaligus mempertanyakan batas antara ingatan, identitas manusia, dan teknologi.
Judul Paradise Lost juga memiliki hubungan dengan karya sastra klasik Inggris. Yeon mengatakan skenarionya turut terinspirasi puisi epik Paradise Lost karya penyair John Milton.
“Saya ingin menceritakan kisah tentang memperoleh identitas manusia setelah meninggalkan surga yang sempurna dan memasuki dunia yang tidak sempurna,” ujar Yeon.
Yeon juga membandingkan ingatan manusia yang dapat disimpan dalam kondisi sempurna melalui teknologi dengan pilihan manusia yang selalu memiliki keterbatasan dan ketidaksempurnaan.
Paradise Lost menjadi proyek film beranggaran rendah kedua bagi Yeon. Menurutnya, pola produksi tersebut memberikan ruang lebih santai bagi sutradara, pemain, dan kru karena tekanan terhadap pengembalian investasi tidak sebesar produksi komersial.
Yeon dikenal luas setelah mengarahkan Train to Busan pada 2016. Ia kemudian mengembangkan karya di berbagai format, termasuk film The Ugly dan serial Netflix Jepang Human Vapor. Baginya, berpindah dari satu format ke format lain justru memberikan energi baru.
“Saya bahkan tidak bisa membayangkan berhenti. Saya merasa seolah-olah saya menghilangkan stres pekerjaan melalui lebih banyak pekerjaan,” kata Yeon menandaskan.
(Devona R/Sumber: Yonhap)
