Guruh Soekarnoputra: Meniti Jalan Seni hingga Memasuki Dunia Politik di Parlemen
Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Presiden Pertama RI, dalam diskusi sejarah lisan sebagai sumber sejarah dan materi film dokumenter tentang Presiden Soekarno yang digelar ANRI, di Jakarta, Senin (26/2/2024). (Foto: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra dikenal sebagai salah satu figur yang menjalani dua lintasan sekaligus dalam kehidupan publik Indonesia: seni dan politik. Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati ini membangun kiprah panjang sebagai seniman sebelum kemudian aktif sebagai politikus PDI Perjuangan dan menghabiskan sekitar tiga dekade di parlemen.
Guruh Soekarnoputra lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Ia merupakan adik kandung Megawati Soekarnoputri, presiden kelima RI. Sejak usia dini, Guruh telah menunjukkan ketertarikan kuat terhadap seni. Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat, pada usia lima tahun Guruh sudah mempelajari tari Jawa, Sunda, dan Bali, sekaligus bermain piano dan membentuk kelompok musik anak.
Latar belakang tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang di dunia seni. Guruh mendirikan Swara Mahardhika pada 1977, yang kemudian berkembang menjadi yayasan, serta mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa (GSP) pada 1989. Karya-karyanya mencakup musik, tari, koreografi dan pertunjukan panggung.
Dari Guruh Gipsy hingga Swara Mahardhika
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan seni Guruh adalah kolaborasinya dengan kelompok musik Gipsy. Proyek tersebut melahirkan album Guruh Gipsy yang dirilis pada 1977 bersama sejumlah musisi, termasuk Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution dan Abadi Soesman.
Album tersebut dikenal karena mempertemukan instrumen musik modern dengan unsur musik tradisional Indonesia. Kajian sejarah desain dan musik Indonesia yang dimuat Desain Grafis Indonesia mencatat kolaborasi Guruh dan Gipsy sebagai karya eksperimental yang memadukan musik etnik Bali dengan musik Barat.
Kiprah Guruh tidak berhenti pada rekaman. Ia juga mengembangkan pertunjukan seni berskala besar melalui berbagai produksi dan kelompok kesenian. Arsip Nasional mencatat sejumlah karya pertunjukan, termasuk Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra pada 1979 dan Untukmu Indonesiaku pada 1980.

Pengaruh Guruh di bidang musik kemudian mendapat sejumlah pengakuan. Dokumen Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mencatat bahwa ia menerima Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari PAPPRI pada 23 Maret 2011. Ia juga disebut pernah menerima penghargaan Knight of the Order of Arts and Letters dari Pemerintah Prancis pada 1991.
Karya Guruh juga tetap muncul dalam ruang publik bertahun-tahun kemudian. Pada Welcoming Dinner KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo pada Mei 2023, lagu Puspa Warni ciptaannya menjadi salah satu karya yang dibawakan dalam acara tersebut.
Memasuki dunia politik
Di luar dunia seni, Guruh kemudian mengikuti jejak politik keluarga Soekarno. Catatan Kompas menyebut Guruh menjadi anggota DPR dari PDI-P sejak 1992 hingga 2024, dengan jeda pada periode 1997–1999. Dengan demikian, kiprahnya di parlemen berlangsung sekitar 30 tahun secara keseluruhan.
Keterlibatan keluarga Soekarno dalam PDI pada periode tersebut juga menjadi bagian dari dinamika politik nasional. Kompas mencatat Megawati dan Guruh menjadi figur yang turut menarik dukungan bagi PDI pada Pemilu 1987 dan 1992.

Setelah perubahan politik di tubuh PDI pada pertengahan 1990-an, Guruh melanjutkan kiprahnya bersama PDI Perjuangan. Ia kemudian kembali duduk di DPR sejak 1999 dan beberapa kali terpilih kembali pada pemilu berikutnya. Pada Pemilu 2009, misalnya, ANTARA mencatat Guruh sebagai calon anggota DPR dari PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan Jawa Timur I.
Baca juga: Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Keluarga Besar Bung Karno dan PDIP Berduka
Di parlemen, Guruh antara lain tercatat sebagai anggota Komisi X DPR yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda dan olahraga. Dalam pemberitaan mengenai Pemilu 2014, detikcom mencatat Guruh kembali maju sebagai calon anggota DPR dari PDI Perjuangan di daerah pemilihan Jawa Timur I.
Aktif menyuarakan pandangan politik
Perjalanan politik Guruh juga diwarnai sejumlah sikap yang disampaikannya secara terbuka. Pada 2013, misalnya, ia menyatakan belum saatnya Joko Widodo dicalonkan sebagai presiden untuk Pemilu 2014 dan mengatakan pandangan tersebut merupakan pendapat pribadinya.
Setahun kemudian, posisinya berada dalam konteks berbeda. Pada Juli 2014, ANTARA memberitakan Guruh sebagai kader senior PDI Perjuangan yang mengajak pengurus partai di Jakarta Barat bekerja memenangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.
Guruh juga pernah terlibat dalam dinamika internal PDI Perjuangan. Pada 2010, menjelang Kongres III PDIP di Bali, ia mengungkapkan adanya persoalan komunikasi dengan Megawati. Dalam pemberitaan ANTARA saat itu, Guruh menyatakan dirinya tetap menghormati hubungan persaudaraan sekaligus menyampaikan pandangannya mengenai arah partai.
Seni tetap menjadi bagian penting
Meski dikenal sebagai politikus dan anggota parlemen, identitas Guruh sebagai seniman tetap melekat. The Jakarta Post pada 2010 mencatat bahwa Guruh lebih dikenal publik melalui kiprahnya di bidang seni dibandingkan aktivitas politiknya. Media tersebut juga menggambarkan seni dan politik sebagai dua sarana yang digunakan Guruh dalam menjalankan gagasan dan pengabdiannya.
Keterlibatan tersebut masih terlihat dalam berbagai kegiatan budaya pada dekade terakhir. Pada Juni 2023, Guruh terlibat dalam persiapan peringatan Bulan Bung Karno di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, yang menampilkan ribuan penari dalam pertunjukan tari kecak.
Pada September 2024, Guruh juga hadir bersama sejumlah anggota keluarga Soekarno dalam acara silaturahmi kebangsaan pimpinan MPR dengan keluarga besar Bung Karno di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Jejak tiga dekade di Senayan
Berakhirnya masa keanggotaan DPR pada 2024 menandai berakhirnya salah satu fase panjang perjalanan politik Guruh Soekarnoputra. Kompas mencatat ia berada di DPR dari 1992 hingga 2024, dengan total sekitar 30 tahun masa pengabdian legislatif.
Perjalanan tersebut menempatkan Guruh dalam posisi yang khas dalam sejarah politik dan kebudayaan Indonesia. Ia berasal dari keluarga Presiden Soekarno, membangun reputasi terlebih dahulu melalui seni dan kebudayaan, lalu menjalani karier politik selama puluhan tahun melalui PDI dan kemudian PDI Perjuangan.
Di sisi lain, karya-karyanya di bidang musik dan tari terus menjadi bagian dari rekam jejak kebudayaan Indonesia. Dari Guruh Gipsy, Swara Mahardhika, berbagai pergelaran seni, hingga karya yang kembali ditampilkan dalam agenda kenegaraan dan internasional, perjalanan Guruh menunjukkan keterkaitan yang panjang antara seni, budaya dan kehidupan publik yang dijalaninya. (*)
(Zaky Al Hamzah/Berbagai sumber)
