Dulu Ada yang Kebanjiran dan Atap Roboh, Kini 401 Sekolah di Bali Direvitalisasi
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam kunjungannya ke SDN 15 Dangin Puri, Kota Denpasar, Bali, pada Jumat (2/10/2026).(Foto: Destian/BKHM Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, DENPASAR — Program revitalisasi satuan pendidikan di Bali membawa perubahan bagi sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai persoalan sarana dan prasarana. Ruang kelas yang pernah roboh hingga bangunan yang rutin terendam banjir kini mulai mendapat penanganan melalui program revitalisasi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pemerintah meningkatkan program revitalisasi sekolah di Bali sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas sarana pendidikan di berbagai daerah.
“Tahun 2025 terdapat 188 sekolah, kemudian pada 2026 ada peningkatan yang sangat signifikan untuk revitalisasi di Provinsi Bali. Untuk satuan pendidikan secara keseluruhan ada 401 sekolah,” ujar Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan di Bali, Jumat (2/10/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan oleh sekolah dan peserta didik. Pelaksanaan revitalisasi juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja di daerah.
“Ini menunjukkan bahwa revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan satuan pendidikan, tapi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja di daerah,” jelas dia.
Ruang Kelas Pernah Roboh
Salah satu sekolah yang merasakan perubahan tersebut adalah SD Negeri 15 Dangin Puri, Kota Denpasar. Guru sekolah tersebut, Ni Gusti Ayu Trisna Dewi, mengatakan sekolah tempatnya mengajar sejak 2019 baru mendapatkan program revitalisasi pada 2026.
Sebelum diperbaiki, kondisi bangunan sekolah sempat menimbulkan persoalan serius. Salah satu ruang kelas di lantai tiga bahkan pernah roboh akibat kondisi bangunan yang terdampak hujan dan angin.
“Sebelum direvitalisasi, kebetulan di lantai 3 ada kelas yang roboh pada saat itu. Kebetulan mungkin hujan angin, jadi mungkin rembes dari atas, jadi roboh kelasnya,” ujar Trisna di Kota Denpasar.
Setelah proses revitalisasi berjalan, kondisi ruang belajar dan fasilitas sekolah berubah. Ruang kelas yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah diperbaiki, sementara lingkungan sekolah terlihat lebih rapi dan bersih.
“Lalu setelah direvitalisasi, kelas yang roboh akhirnya sudah baik. Jadi kelas-kelas juga lebih rapi, lebih bersih juga,” kata Trisna.
Perubahan tersebut turut dirasakan dalam kegiatan belajar-mengajar. Menurut Trisna, lingkungan sekolah yang lebih nyaman membuat murid semakin bersemangat mengikuti pembelajaran. Mereka bahkan berinisiatif mempercantik ruang kelas menggunakan hasil karya sendiri.
“Dampaknya justru pastinya untuk proses belajar-mengajar pasti akan lebih bagus. Kelihatan kelasnya juga lebih bagus, lebih rapi. Anak-anak juga lebih semangat buat belajar, karena lingkungannya, tempat dia untuk proses belajar-mengajarnya jauh lebih rapi, lebih bersih,” ungkapnya.
Salah seorang murid kelas V SDN 15 Dangin Puri, Kanaya, juga mengaku senang dengan perubahan yang terjadi di sekolahnya.
“Sekolah kami telah diperbaiki, kami merasa sangat senang, semakin semangat untuk belajar bersama teman-teman di sekolah. Terima kasih Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Abdul Mu’ti,” ucap Kanaya.
TK Indraprasta Kuta Hadapi Banjir Dua Kali Setahun
Kisah serupa datang dari TK Indraprasta Kuta, Kabupaten Badung. Sekolah yang berdiri sejak 1975 tersebut kemudian pindah ke lokasi sekarang pada 1989.
Selama bertahun-tahun, bangunan sekolah menghadapi berbagai persoalan. Atap bocor, dinding rapuh, serta kusen yang rusak akibat rayap dan banjir menjadi bagian dari kondisi yang harus dihadapi dalam kegiatan belajar-mengajar.
Kepala TK Indraprasta Kuta, Wayan Leniasih, mengatakan sekolah tersebut sudah lama membutuhkan perbaikan.
“Kondisi TK Indraprasta Kuta sebelum mendapatkan program revitalisasi tahun 2026, kondisinya sangat miris karena ini berdiri sejak tahun 1975, terus dipindahkan ke sini pada tahun 1989. Dari situlah bangunan kami tidak pernah direnovasi dan kondisinya banyak atap yang bocor, dinding juga sudah rapuh,” kata Wayan saat ditemui di Kabupaten Badung, Jumat (2/10/2026).
Melalui program revitalisasi 2026, sejumlah bagian sekolah mendapatkan perbaikan. Wayan menyebut enam ruang kelas, satu ruang administrasi, satu toilet, serta taman bermain yang sebelumnya roboh dan diterjang banjir masuk dalam pekerjaan rehabilitasi.
“Untuk TK Indraprasta Kuta mendapatkan rehabilitasi 6 ruang kelas, 1 ruang admin, 1 toilet, penataan taman bermain yang roboh dan diterjang banjir,” jelas Wayan.
Persoalan banjir menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah tersebut. Menurut Wayan, banjir dapat terjadi dua kali dalam setahun dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.
“Kusen-kusen dimakan rayap setelah banjir. Dua kali setahun banjir sampai sebatas pinggang orang dewasa. Jadi banyak yang rusak sehingga solusinya pun belum ditemukan sampai saat ini,” ujar Wayan.
Kini, setelah fasilitas sekolah mendapatkan perbaikan, pihak TK Indraprasta Kuta berkomitmen menjaga sarana yang telah dibangun dan dilengkapi melalui program tersebut.
“Kami berjanji akan menjaga dan merawat fasilitas ini yang sudah diberikan berupa rehab beserta perabotan-perabotannya. Kami di sini semua sepakat, semua berkomitmen untuk menjaga dan merawat,” lanjut Wayan.
Program revitalisasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perbaikan fasilitas pendidikan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Bagi sekolah seperti SD Negeri 15 Dangin Puri dan TK Indraprasta Kuta, pembenahan sarana menjadi bagian penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak sekaligus mendukung aktivitas guru dan murid.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID