Cinematherapy: Ketika Film Membantu Memahami dan Menghadapi Kesedihan

Cinematherapy: Ketika Film Membantu Memahami dan Menghadapi Kesedihan. (Foto: Pixabay).

Cinematherapy: Ketika Film Membantu Memahami dan Menghadapi Kesedihan. (Foto: Pixabay).

GEBRAK.ID Terkadang, memahami perasaan sendiri justru menjadi lebih mudah ketika melihat kisah orang lain. Film dapat menjadi media yang membuat penonton ikut merasakan emosi tokoh, bahkan ketika mereka hanya duduk diam di dalam ruangan bioskop.

Gagasan inilah yang menjadi salah satu dasar dari cinematherapy atau terapi berbasis film. Pendekatan ini digunakan sebagai pelengkap psikoterapi dengan memanfaatkan cerita, karakter, dan konflik dalam film untuk membantu seseorang mengeksplorasi perasaan serta pengalaman batinnya.

Menurut Vinita Mehta Ph.D., Ed.M dalam Psychology Today, salah satu kerangka cinematherapy menggambarkan proses tersebut melalui empat tahap, yaitu mengidentifikasi diri dengan karakter, mengalami katarsis atau pelepasan emosi, memperoleh pemahaman mengenai diri sendiri, dan universalization, yaitu menyadari bahwa pengalaman yang dirasakan bukanlah sesuatu yang hanya dialami seorang diri.

Meskipun penelitian mengenai cinematherapy masih terus berkembang, pendekatan ini menawarkan cara yang menarik untuk membicarakan dan memahami emosi yang terkadang sulit diungkapkan secara langsung.

Film “Fall” dan Perjalanan Menghadapi Kehilangan

Film survival thriller “Fall” yang dirilis pada 2022 dapat menjadi contoh bagaimana sebuah cerita menggunakan situasi ekstrem untuk menggambarkan pengalaman berduka.

Tokoh utamanya, Becky, mengalami perubahan besar setelah suaminya, Dan, meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika melakukan panjat tebing. Setelah kejadian tersebut, Becky menarik diri dari kehidupan dan kesulitan untuk kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya.

Temannya kemudian mengajaknya melakukan sebuah aksi berbahaya: memanjat menara televisi terbengkalai setinggi sekitar 2.000 kaki untuk menaburkan abu Dan. Bagi Becky, kegiatan tersebut bukan sekadar penghormatan kepada suaminya. Panjat tebing merupakan bagian penting dari identitas dirinya dan sesuatu yang dahulu ia lakukan bersama Dan.

Hal serupa muncul dalam “Fall 2: Deadpoint”. Film ini kembali menggunakan kehilangan sebagai titik awal cerita. Jax dan Luce masing-masing kehilangan orang yang mereka sayangi. Mereka kemudian mencoba mewujudkan impian orang yang telah meninggal dengan melakukan aksi berbahaya di Gunung Kwan, Thailand.

Namun, sebuah longsoran batu membuat mereka terjebak di atas sebuah papan sempit yang berada ribuan kaki dari permukaan tanah. Tujuan awal mereka adalah mendapatkan rasa lega setelah kehilangan orang tercinta. Namun, situasi kemudian berubah menjadi perjuangan untuk mempertahankan hidup.

Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa seseorang rela mempertaruhkan nyawa demi menghormati orang yang telah meninggal?

Mencari Kembali Diri Setelah Kehilangan

Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam keinginan untuk mendapatkan kembali bagian diri yang hilang setelah mengalami duka.

Bagi Becky, panjat tebing bukan hanya aktivitas olahraga. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari identitasnya sekaligus sesuatu yang menghubungkannya dengan Dan. Setelah kematian suaminya, bagian dari dirinya itu ikut menghilang.

Karena itu, kembali memanjat dapat dilihat sebagai usaha untuk mengambil kembali bagian dirinya yang selama ini tertinggal bersama kenangan tentang Dan.

Dalam “Fall 2: Deadpoint”, Jax juga memiliki motivasi yang serupa. Ia berusaha mewujudkan impian saudara perempuannya dengan menghadapi Gunung Kwan. Tindakan tersebut sekaligus menjadi cara baginya untuk menghadapi ketakutannya terhadap ketinggian.

Dengan demikian, pendakian dalam kedua film tidak hanya berfungsi sebagai elemen aksi atau ketegangan. Aktivitas tersebut menjadi representasi fisik dari perjalanan seseorang dalam menghadapi kehilangan.

Ironisnya, penghormatan terhadap orang yang telah meninggal tersebut justru berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.

Apakah Melarikan Diri dari Duka Sama dengan Menghadapinya?

Kedua film menggambarkan kesedihan melalui sebuah perjalanan menuju tempat yang sangat tinggi. Semakin jauh para karakter bergerak dari tanah, semakin besar pula bahaya yang mereka hadapi.

Dalam “Fall”, Becky memiliki gagasan bahwa seseorang perlu melakukan sesuatu yang membuatnya kembali merasa hidup. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah sensasi, adrenalin, dan bahaya benar-benar dapat membantu seseorang keluar dari kesedihan?

Ketika berada di tempat yang sangat tinggi, tubuh dan otak harus bekerja keras untuk menjaga keseimbangan. Informasi dari penglihatan, telinga bagian dalam, dan berbagai bagian tubuh harus terus dipadukan agar seseorang dapat mempertahankan posisi dan orientasi tubuh.

Sistem vestibular di batang otak dan otak kecil berperan dalam menjaga postur serta orientasi tubuh. Pada saat yang sama, bagian otak seperti amigdala, anterior insula, dan anterior cingulate cortex ikut berperan dalam memproses ancaman serta respons tubuh terhadap situasi berbahaya.

Ketinggian juga dapat membuat informasi visual menjadi kurang dapat diandalkan. Ketika tidak terdapat banyak objek di sekitar sebagai titik acuan, seseorang dapat mengalami kesulitan dalam menjaga keseimbangan.

Bagi karakter dalam film, seluruh kemampuan tersebut harus diarahkan pada satu tujuan utama: bertahan hidup.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada masalah yang sedang dihadapi saat itu. Kesedihan yang sebelumnya memenuhi pikiran seolah mendapatkan ruang yang lebih kecil karena seluruh perhatian diarahkan pada bagaimana caranya tetap hidup.

Penonton Ikut Merasakan Ketegangan

Menariknya, penonton juga dapat mengalami sebagian kecil dari ketegangan tersebut meskipun sebenarnya berada dalam kondisi aman.

Ketika menyaksikan adegan ketinggian, penonton mungkin tanpa sadar mencengkeram kursi, menahan napas, berteriak kepada karakter agar berhati-hati, atau merasa seolah-olah dirinya sendiri sedang berada di tempat tersebut.

Hal ini berkaitan dengan cara otak merespons ancaman ketika seseorang menyaksikan film dengan ketegangan tinggi. Adegan mengejutkan dapat meningkatkan aktivitas jaringan otak yang berkaitan dengan respons terhadap ancaman. Sementara itu, ketegangan yang berlangsung lebih lama dapat meningkatkan aktivitas sejumlah wilayah otak yang memproses informasi visual dan suara.

Sistem saraf simpatik juga dapat ikut aktif. Akibatnya, detak jantung dan pernapasan dapat meningkat, sementara telapak tangan menjadi berkeringat.

Yang menarik, semua itu terjadi ketika penonton sebenarnya mengetahui bahwa mereka berada dalam keadaan aman. Otak dan tubuh tetap memberikan respons seolah-olah sedang menghadapi bahaya.

Film sebagai Ruang Aman untuk Merasakan Emosi

Di sinilah konsep cinematherapy menjadi menarik.

Film memungkinkan seseorang mengalami berbagai emosi secara tidak langsung. Penonton dapat merasakan ketakutan, kesedihan, kehilangan, ketegangan, bahkan harapan melalui pengalaman karakter tanpa harus benar-benar mengalami peristiwa yang sama.

“Fall” dan “Fall 2: Deadpoint” memperlihatkan bagaimana pengalaman fisik yang ekstrem dapat menjadi gambaran dari perjuangan seseorang menghadapi duka.

Kembalinya Becky kepada aktivitas panjat tebing serta keputusan Jax untuk menghadapi ketakutannya dapat dibaca sebagai gambaran bahwa seseorang terkadang ingin melarikan diri dari perasaannya sekaligus harus berhadapan dengannya.

Bagi penonton, pengalaman tersebut dapat memunculkan pertanyaan pribadi. Apakah kita pernah merasa kehilangan bagian dari diri sendiri setelah kehilangan seseorang? Apakah kita pernah mencoba menghindari kesedihan dengan menyibukkan diri? Dan bagaimana kita dapat membawa kenangan orang yang telah pergi sambil tetap melanjutkan kehidupan?

Cinematherapy dan Proses Memahami Diri

Pada dasarnya, cinematherapy berangkat dari gagasan bahwa film mampu membangkitkan respons emosional dan bahkan respons fisik dalam diri penonton.

Karena semua itu terjadi dalam lingkungan yang relatif aman, film dapat membantu seseorang mendekati emosi yang sebelumnya terasa terlalu sulit untuk dihadapi secara langsung.

Bagi seseorang yang sedang mengalami duka mendalam, misalnya, film seperti “Fall” atau “Fall 2: Deadpoint” mungkin memberikan pengalaman emosional yang intens. Ketegangan dan bahaya yang dialami karakter dapat membuat penonton merasakan kembali sensasi “hidup”, sekaligus membuka ruang untuk merenungkan pengalaman kehilangan mereka sendiri.

Proses tersebut dapat menghasilkan katarsis, yaitu pelepasan emosi, yang kemudian dapat dilanjutkan dengan refleksi diri.

Pada akhirnya, nilai sebuah film dalam konteks cinematherapy bukan hanya terletak pada ceritanya, tetapi juga pada bagaimana penonton menghubungkan cerita tersebut dengan kehidupannya sendiri.

Melalui karakter, konflik, ketakutan, dan kehilangan yang ditampilkan di layar, seseorang dapat menemukan gambaran mengenai dirinya sendiri. Film dengan demikian bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memahami emosi dan menyadari bahwa pengalaman kehilangan, ketakutan, maupun perjuangan untuk kembali menjalani hidup adalah sesuatu yang dapat dialami banyak orang.

(Damar Pratama/ Sumber: Psychology Today 3 September 2026)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID