FTBI Jawa Tengah 2026: Anak-anak Angkat Misteri Uang hingga Kampanye Antiperundungan Lewat Bahasa Jawa

ftbi jateng 2026

Para murid mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Melalui komedi tunggal, cerita pendek, dan pidato berbahasa Jawa, para peserta menunjukkan bahwa bahasa daerah dapat menjadi ruang untuk berkreasi, menyampaikan pesan, dan mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari. (Foto: M. Irfan/BKHM Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, SEMARANG — Bahasa Jawa tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga media bagi anak-anak untuk menyampaikan gagasan, menghibur, dan menyuarakan persoalan sosial. Hal itu terlihat dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, ketika para murid menampilkan karya tentang misteri uang hingga ajakan menghentikan perundungan.

Festival yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Kabupaten Semarang tersebut melibatkan 560 peserta dari 35 kabupaten/kota. Mereka terdiri atas 490 murid sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta 70 pendamping.

Salah satu peserta, Ricky Wahyu Ramadan dari Kota Magelang, tampil dalam kategori komedi tunggal atau ndhagel ijen. Ia mengangkat cerita tentang Kaliangkrik, kawasan di bawah Gunung Sumbing, termasuk sayuran lokal yang dikenal masyarakat setempat sebagai wit onclang.

Ricky menyusun materi komedinya sendiri dengan bimbingan pelatih. Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari bahan cerita, melainkan mengatur intonasi dan membangun kejutan agar penonton tertawa.

“Kalau mau membuat (penonton) ketawa, (kita) itu harus excited,” ujar Ricky. Ia berharap keikutsertaannya dapat mengharumkan nama sekolah sekaligus menambah prestasi sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke SMA.

Berbeda dengan Ricky, Jaya Krishna, siswa SMP Negeri 4 Magelang, memilih menuangkan gagasan melalui cerkak atau cerita pendek berbahasa Jawa. Karyanya berjudul Wewadi berhasil mengantarkannya meraih juara pertama tingkat kabupaten.

Cerita tersebut mengangkat misteri uang yang ditemukan tanpa diketahui pemiliknya. Melalui kisah itu, Jaya ingin mengingatkan pembaca agar tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia mengembangkan cerita dari kata pemantik panitia hingga menjadi naskah sepanjang tiga halaman.

Jaya mengaku membangun konflik dan memilih kosakata Jawa yang tepat menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, ia ingin membuktikan bahwa bahasa Jawa tidak kuno ataupun membosankan.

“Ayo ikut lestarikan budaya Jawa. Karena itu juga turun-temurun, jadi, kita harus melestarikan agar tetap terjaga,” kata Jaya.

Pesan sosial juga disampaikan Nafisha Aurelia Putri Aldrin, siswi kelas VII SMP Negeri 1 Kota Magelang. Melalui pidato atau sesorah, ia menjelaskan pengertian perundungan sekaligus mengajak pendengar mencegah perilaku tersebut. Nafisha bahkan memasukkan tembang macapat untuk memperkaya penyampaiannya.

Kebiasaan menggunakan bahasa daerah di sekolah turut mendukung kemampuannya. Sekolahnya menetapkan Selasa sebagai hari berbahasa Inggris dan Kamis sebagai hari berbahasa Jawa.

Di balik penampilan para peserta, guru berperan penting dalam membimbing proses persiapan. Mukhtarus Shihah, guru Bimbingan Konseling sekaligus pendamping dari SMP Negeri 1 Jepara, mengatakan bahwa latihan harus disesuaikan dengan jadwal pembelajaran. Menurutnya, menulis dan membaca aksara Jawa juga membutuhkan ketekunan serta pendampingan guru yang kompeten.

Mukhtarus mencontohkan pengalaman murid bernama Umar yang semula pendiam, tetapi berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi setelah mendapatkan pendampingan dalam festival sebelumnya.

“Bahasa ibu nomor satu,” ujar Mukhtarus.

Pada pembukaan FTBI 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti turut mengapresiasi kreativitas para murid. Ia menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah berkaitan erat dengan upaya menjaga identitas bangsa.

“Melestarikan bahasa daerah adalah bagian dari kita merawat keindonesiaan kita,” kata Abdul Mu’ti.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, juga mengapresiasi dukungan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) dan Pemerintah Kabupaten Semarang dalam penyelenggaraan festival tersebut.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah memberikan piagam penghargaan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota atas komitmen mereka dalam pelestarian bahasa Jawa. Upaya tersebut juga diperkuat melalui layanan digital, seperti Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja) dan Sistem Adaptif Belajar Bahasa Daerah (SABDA).

Menurut Laily, kebanggaan anak-anak dalam menggunakan bahasa ibu perlu terus didukung melalui kegiatan yang memberi ruang bagi kreativitas mereka.

FTBI mempertandingkan tujuh kategori, yakni menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato atau sesorah, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, serta komedi tunggal atau ndhagel ijen.

Festival ini menjadi puncak program pelindungan bahasa daerah yang meliputi koordinasi dengan pemerintah daerah, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, hingga pembelajaran dan kompetisi berjenjang.

Beragam karya yang tampil di FTBI 2026 menunjukkan bahwa bahasa Jawa tetap relevan bagi generasi muda. Melalui cerita, humor, dan pesan antiperundungan, anak-anak membuktikan bahwa bahasa ibu dapat terus berkembang sekaligus menjadi sarana menyampaikan nilai-nilai positif.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID