Radja Nainggolan Menyesal tak Sempat Bela Timnas Indonesia
Mantan pemain Timnas Belgia, Radja Nainggolan, kembali mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier profesionalnya. (Foto: Transfermarkt)
GEBRAK.ID — Mantan pemain Tim nasional (Timnas) Belgia, Radja Nainggolan, kembali mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier profesionalnya. Pemain yang pernah memperkuat AS Roma itu mengaku kini memiliki pandangan berbeda tentang Indonesia, terutama setelah merasakan langsung atmosfer sepak bola dan kehidupan masyarakat Tanah Air.
Dalam wawancara dengan media Belgia, Nieuwsblad, Radja mengatakan dirinya tidak pernah mempertimbangkan untuk memperkuat Timnas Indonesia ketika pertama kali datang ke Indonesia pada 2013. Saat itu, ia masih berada dalam periode terbaik kariernya dan belum melihat sepak bola Indonesia sebagai pilihan yang menarik.
Namun, pandangannya berubah setelah ia kembali ke Indonesia untuk memperkuat Bhayangkara FC pada pengujung kariernya. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari besarnya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola nasional.
“Saat itu, saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun, saya melihat hal-hal secara berbeda,” kata Radja, dikutip dari Nieuwsblad, Senin (12/10/2026).
Radja juga menyinggung perjalanan karier internasionalnya bersama Belgia yang berakhir di bawah pelatih Roberto Martinez. Menurut Radja, jika dahulu mengambil keputusan berbeda, ia berpeluang menjalani karier internasional yang panjang bersama Indonesia.
Baca Juga
“Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini dan bagaimana berakhirnya di bawah Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” ujarnya.
Besarnya dukungan suporter menjadi salah satu hal yang paling membekas bagi Radja. Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki kecintaan luar biasa terhadap sepak bola. Bahkan, pertandingan melawan Vietnam atau Irak dapat menarik puluhan ribu penonton ke stadion.
“Ada 70 ribu orang di sana untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Begitulah fanatiknya mereka. Uang juga bertebaran di sana,” jelas dia.
Radja turut menyoroti dukungan komersial yang diterima sejumlah pemain sepak bola di Indonesia. Ia menyebut merek-merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex sebagai contoh sponsor yang melekat pada pemain.
Menurutnya, kondisi tersebut kontras dengan situasi sejumlah pemain muda Indonesia yang berkarier di Eropa, termasuk Ivar Jenner yang bermain untuk Jong Utrecht.
Selain sepak bola, Radja mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia dan interaksi sosial di tengah perbedaan ekonomi. Ia melihat masyarakat dari berbagai latar belakang dapat duduk berdampingan, termasuk di sekitar kawasan gedung-gedung tinggi dan tempat penjualan makanan sederhana.
“Keramahan orang-orangnya luar biasa. Bagaimana orang kaya dan miskin berinteraksi di sana,” katanya.
Radja mengaku nyaman menikmati makanan di warung-warung lokal dan merasakan suasana kehidupan sehari-hari masyarakat. Pengalaman tersebut memperkuat kesan positifnya terhadap Indonesia.
Meski kini menyesali keputusan masa lalu, peluang Radja untuk memperkuat Timnas Indonesia sudah tertutup. Ia telah menjalani karier internasional bersama Belgia sehingga keinginannya membela skuad Garuda hanya bisa menjadi penyesalan yang tak dapat diulang.
(Damar Pratama/Nieuwsblad)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID