BI Nilai Tekanan Rupiah akibat Sentimen MSCI Masih Terkendali

Foto Pejabat Bank Indonesia (BI) - 1

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan materi dalam taklimat media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih dapat dikelola dengan baik. Bank sentral juga memastikan kecukupan likuiditas rupiah serta menyiapkan intervensi apabila tekanan arus keluar modal memicu volatilitas nilai tukar yang berlebihan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah setelah pengumuman MSCI belum menunjukkan tekanan yang melampaui kemampuan BI untuk mengelolanya. “Sejauh ini, kalau kami lihat, masih manageable. Tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Sempat melemah di atas Rp18.000 (pascapengumuman MSCI), tapi tidak terlalu jauh. Kita masih bisa kelola dengan baik. Dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai di-digest oleh pelaku pasar,” kata Erwin di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat. Pengumuman tersebut memicu respons negatif di pasar keuangan domestik. Pada Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,57 persen. Sementara itu, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat sebesar Rp18.052 per dolar Amerika Serikat (AS).

Erwin mengungkapkan, BI mengamati adanya arus keluar modal (capital outflow) dari pasar saham. Arus keluar modal juga terpantau pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, ia tidak merinci besaran arus keluar modal tersebut. Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, BI memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai sehingga transaksi di pasar keuangan dapat berlangsung dengan baik.

Selain itu, BI memiliki ruang untuk melakukan intervensi apabila tekanan arus keluar modal merambat ke pasar valuta asing dan menyebabkan volatilitas nilai tukar melampaui batas toleransi. Langkah tersebut terutama diperlukan ketika permintaan dan penawaran valuta asing tidak bertemu di pasar.

BI Perkuat Insentif Lindung Nilai
Upaya menjaga stabilitas rupiah juga tercermin dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2026. BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,5 persen. Di sisi lain, BI menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

BI juga memperkuat kebijakan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang digunakan sebagai instrumen lindung nilai, guna mendorong aliran masuk modal asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Insentif biaya lindung nilai (hedging) tersebut ditujukan bagi transaksi yang mendasari pendanaan luar negeri, meliputi arus masuk investasi portofolio (portfolio inflows), pinjaman luar negeri oleh perbankan, serta investasi langsung asing (foreign direct investment).

Melalui penguatan insentif DNDF, pengurangan premi untuk tenor enam bulan ditingkatkan menjadi 40 persen dari sebelumnya 25 persen. Sementara itu, untuk tenor 12 bulan, pengurangan premi naik menjadi 45 persen dari sebelumnya 30 persen. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik instrumen lindung nilai bagi investor dan pelaku pasar, sekaligus mendukung stabilitas rupiah di tengah tekanan sentimen eksternal terhadap pasar keuangan Indonesia.

BI Terus Mewaspadai Risiko di Pasar Saham
Sebelumnya pada konferensi pers RDG BI pada Rabu (21/10/2026), Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa bank sentral Indonesia terus mewaspadai risiko yang terjadi di pasar saham domestik, termasuk memantau risiko outflow asing, usai pengumuman MSCI.

Menurut Destry, BI telah melakukan asesmen atas risiko MSCI tersebut. BI memandang tekanan terhadap rupiah masih dalam batas yang cukup normal, karena pada saat yang bersamaan kondisi regional juga tidak terlalu baik.“Dan sejauh ini dua hari kemarin memang kami duduk berdiskusi secara tight (ketat) sekali bagaimana kita menyikapi ini,” kata Destry. (*)

(Zaky Al Hamzah/antaranews)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID