GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemerintah RI mempercepat transformasi digital di sekolah dasar, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerjunkan 150 alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke 150 SD di daerah 3T dan wilayah khusus untuk memastikan ratusan ribu perangkat digital benar-benar dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
Langkah ini menjadi bagian dari Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital, sebuah gerakan kolaboratif yang menghubungkan kebijakan nasional dengan praktik nyata di ruang kelas. Fokus utamanya adalah mengoptimalkan penggunaan lebih dari 288 ribu Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) yang telah didistribusikan pemerintah ke sekolah-sekolah di berbagai daerah.
Jembatani Kesenjangan Teknologi dan Praktik Belajar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengakui bahwa belum semua satuan pendidikan mampu memaksimalkan perangkat digital yang tersedia.
“Masih ada sekolah yang belum memanfaatkan IFP secara optimal. Karena itu, kehadiran para alumni ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara teknologi dan praktik belajar di kelas,” ujar Abdul Mu’ti saat membuka pembekalan program di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Mu'ti menegaskan, digitalisasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan alat canggih di ruang kelas. Lebih dari itu, teknologi harus mampu mendorong pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.
“Teknologi tidak boleh berhenti sebagai alat. Ia harus menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi siswa,” tegas Mu'ti.
Tiga Bulan Mendampingi dari dalam Sekolah
Sebanyak 150 sekolah sasaran tersebar di empat kabupaten, yakni Sumedang (Jawa Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Halmahera Utara (Maluku Utara), dan Merauke (Papua Selatan). Penentuan lokasi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kategori wilayah 3T, ketersediaan perangkat digital, serta kebutuhan peningkatan literasi dan numerasi siswa.
Selama tiga bulan penugasan, setiap alumni akan ditempatkan di satu sekolah. Pendampingan tidak hanya berfokus pada penggunaan perangkat IFP di kelas, tetapi juga mencakup penguatan manajemen sekolah dan pengimbasan praktik baik ke sekolah lain di sekitarnya. Dengan pendekatan ini, dampak program diharapkan meluas hingga tingkat kecamatan bahkan kabupaten.
Sebelum terjun ke lapangan, para peserta mengikuti pembekalan intensif selama sembilan hari, mulai 29 Maret hingga 6 April 2026, dengan total 63 jam pelajaran. Materi yang diberikan meliputi pedagogi digital, literasi digital, komunikasi lintas budaya, hingga teknik coaching bagi guru.
Pengabdian Nyata Alumni LPDP
Program ini juga menjadi ruang pengabdian bagi para alumni LPDP yang memiliki latar belakang pendidikan global. Fitri Mardikas Teddy, lulusan Master of International Relations dari University of Groningen, Belanda, mengaku terpanggil untuk berkontribusi langsung di lapangan.
“Bagi saya ini bukan sekadar program, tetapi bentuk tanggung jawab kepada negara. Saya percaya pendidikan bisa mengubah masa depan seseorang. Anak-anak di mana pun berada harus punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mencapainya,” ujar Fitri.
Senada dengan itu, Hikmahshanty Suci Larasati, alumni University of Glasgow jurusan Media Digital and Society, menilai digitalisasi pendidikan harus melampaui aspek teknis.
“Digitalisasi bukan hanya soal alat, tetapi bagaimana pengetahuan itu terus hidup dan dibagikan. Saya ingin membantu guru dan siswa berani berdialog di kelas. Kelas yang baik adalah ruang diskusi, tempat semua pihak saling belajar dan tumbuh bersama,” kata Suci.
Transformasi Digital yang Berkelanjutan
Program Alumni Pejuang Digital menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan dasar melalui transformasi digital yang berkelanjutan. Dengan pendampingan langsung dan pendekatan kontekstual, Kemendikdasmen berharap pemanfaatan IFP tidak lagi sebatas pelengkap fasilitas, melainkan menjadi motor penggerak pembelajaran yang interaktif dan adaptif.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan investasi besar pada infrastruktur digital pendidikan berdampak nyata terhadap peningkatan literasi, numerasi, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama di wilayah 3T.
(Sumber: BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Sekolah 3T, Kemendikdasmen Pastikan 288 Ribu Papan Digital tak Sekadar Pajangan"