Editor: Damar Pratama
Film Para Perasuk. (Foto: Tangkapan layar Youtube)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Dunia perfilman Tanah Air kembali dihebohkan dengan kehadiran sebuah karya yang tidak hanya menonjolkan sisi artistik, tetapi juga berani menyelami akar budaya yang masih hidup di masyarakat. Adalah Wregas Bhanuteja, sutradara jenius di balik film Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, yang baru saja meluncurkan film eksploratif terbarunya berjudul "Para Perasuk".
Berbeda dengan film horor kebanyakan yang mengandalkan jumpscare, Para Perasuk hadir dengan tawaran yang lebih dalam: sebuah eksplorasi mengenai living culture atau budaya hidup masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh tradisi, termasuk fenomena kerasukan atau perasukan.
Film yang baru saja menggelar Gala Premiere di Epicentrum XXI, Jakarta, ini langsung mendapat apresiasi luas, bahkan dari kalangan pemerintah.
"Saya baru saja menyaksikan karya terbaru dari sutradara sekaligus penulis skenario yang telah berulang kali meraih penghargaan, Wregas Bhanuteja. Film ini sangat menarik, kuat, dan out of the box. Menurut saya, karya ini membawa perfilman Indonesia ke capaian baru dengan mengangkat beragam latar belakang budaya yang masih hidup dan berkembang sebagai bagian dari living culture,” ujar Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon, Kamis (16/4/2026).
Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon menyoroti kekuatan narasi, musik, serta pesan sosial yang dihadirkan dalam film tersebut. “Melaluipenggarapan musik, konteks cerita, serta pesan-pesan sosial dan kebaikan yang disampaikan, saya melihat film ini memiliki potensi besar untuk mendapatkan apresiasi luas, baik dari penonton di dalam negeri maupun di tingkat internasional serta dapat meraih berbagai penghargaan,” jelasnya.
Bukan Horor, tapi Drama Obsesi Manusia
Banyak yang mungkin mengira Para Perasuk adalah film horor karena mengangkat tema kesurupan. Namun, Wregas Bhanuteja dengan tegas membantah anggapan tersebut. Dalam sesi konferensi pers baru-baru ini, ia menyatakan bahwa film ini adalah tentang "obsesi manusia".
“Jadi ini film bukan film horor, film ini tentang obsesi manusia. Apalagi dari yang memerankan tokoh Bayu ini yang berambisi untuk jadi perasuk terbaik,” ujar Wregas di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Film ini bahkan terinspirasi dari pengalaman pribadi Wregas sedari kecil. Obsesi dalam berkarya yang sempat membuatnya "lupa" terhadap kehidupan nyata menjadi bumbu utama yang membuat cerita Para Perasuk terasa sangat personal dan emosional. Jadi, siap-siap untuk dibawa menyelami konflik batin karakter, bukan sekadar teriak ketakutan.
Sederet Bintang dan Debut Anggun C Sasmi
Salah satu daya tarik utama film Para Perasuk adalah jajaran bintangnya yang bertabur nama besar. Mulai dari aktor muda berbakat Angga Yunanda, Maudy Ayunda yang selalu memukau, hingga komedian senior Indra Birowo.
Yang paling dinantikan tentu saja debut akting layar lebar dari diva internasional Anggun C. Sasmi. Kehadiran Anggun dalam film ini menjadi kejutan manis yang menambah dimensi baru pada dinamika cerita yang mengangkat konflik sosial dan spiritual.
Untuk memerankan karakternya, para pemain pun tak main-main. Angga Yunanda, misalnya, harus berlatih memainkan alat musik tradisional Selompret demi adegan yang sempurna.
Gaung Internasional: Standing Ovation di Sundance
Sebelum tayang di Indonesia, Para Perasuk lebih dulu terbang ke ajang Sundance Film Festival 2026 di Amerika Serikat. Di festival film independen paling prestisius sejagat itu, film yang diproduksi selama lebih dari dua tahun ini berhasil mencuri perhatian.
Bahkan, tim produksi mengaku awalnya khawatir apakah penonton internasional akan paham dengan konteks budaya kerasukan di Indonesia. Ternyata, kekhawatiran itu sirna setelah mereka mendapatkan standing ovation usai pemutaran. Ini membuktikan bahwa cerita dengan akar budaya lokal yang kuat mampu menembus batasan bahasa dan lintas budaya.
Melibatkan 1.000 Figuran, Megah, dan Spektakuler
Wregas Bhanuteja memang tidak pernah main-main dalam menggarap proyeknya. Untuk Para Perasuk, ia melibatkan lebih dari 1.000 pemeran figuran serta ratusan penari dan stuntman. Adegan-adegan "sambetan" atau pesta desa dalam film ini digarap secara monumental, menghadirkan nuansa komunal yang sangat kental.
Produser Iman Usman pun mengakui bahwa tantangan terbesar adalah masalah biaya produksi yang membengkak karena skala yang sangat besar ini. Namun, hasil akhir yang terlihat di layar sepadan dengan usaha tersebut.
Sinema Sebagai Diplomasi Budaya
Lebih dari sekadar hiburan, Para Perasuk menjadi bukti nyata bahwa sinema bisa menjadi medium diplomasi budaya. Dengan mengangkat "living culture", film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga alat untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia bahwa praktik spiritual seperti ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.
Film Para Perasuk rencananya akan mulai tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 23 April 2026. Siapkan diri untuk menyaksikan pengalaman sinematik yang berbeda, magis, dan menggugah pikiran.
(Berbagai Sumber)
Posting Komentar untuk "Bukan Sekadar Horor! Wregas Bhanuteja Bawa "Para Perasuk" ke Panggung Dunia, Angkat Living Culture Indonesia yang Magis"