Harga Plastik Melonjak 60 Persen, Pakar UPER Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah dan Ancaman pada Industri FMCG

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo (kelima dari kiri), bersama tim Universitas Pertamina dalam kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence beberapa pekan lalu. (Foto: Dok.UPER)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memukul industri hilir di dalam negeri. Salah satu yang terdampak signifikan adalah industri plastik. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat harga plastik naik tajam hingga 40–60 persen per April 2026, imbas terganggunya distribusi minyak bumi sebagai bahan baku petrokimia, khususnya nafta.

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah berdampak langsung pada melonjaknya harga nafta. Dari nafta inilah dihasilkan olefin, bahan baku utama pembentuk plastik.

“Ketika harga minyak mentah naik, harga nafta ikut terkerek. Otomatis harga olefin meningkat dan biaya produksi polimer di dalam negeri ikut membengkak,” ujar Wegik dalam keterangannya pada Senin (20/4/2026).

Wegik menambahkan, kapasitas kilang nasional saat ini masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar transportasi. Sementara itu, produksi bahan baku plastik domestik belum memadai. Akibatnya, industri petrokimia Indonesia masih sangat bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah yang memiliki kapasitas produksi nafta dan olefin jauh lebih besar.

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo (kanan) mewakili kampus menyerahkan tanda apresiasi kepada pembicara pada kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence. (Foto: Dok.UPER)
Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik. Data Reuters (2025) menyebutkan, Arab Saudi memproduksi sekitar 9,51 juta barel minyak per hari dan menjadi salah satu pemasok utama dunia, terutama jenis light crude oil yang paling efisien untuk diolah menjadi bahan baku plastik. Ketika pasokan terganggu, harga plastik global pun ikut terdongkrak.

Di dalam negeri, meskipun Indonesia memiliki cadangan Sumatera Light Crude, produksi nafta baru mencapai 7,1 juta ton per tahun. Padahal kebutuhan nasional menyentuh 9,2 juta ton. Artinya, terdapat defisit sekitar 2,1 juta ton yang harus ditutup melalui impor.

“Bagi masyarakat, dampak paling cepat terasa adalah kenaikan harga kantong plastik, kemasan pangan, hingga botol minuman. Jika situasi geopolitik tak menentu, harga di sektor ritel dan industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) juga berpotensi terdampak,” kata Wegik.

Sebagai solusi, Wegik mendorong diversifikasi impor dari kawasan non-konflik, optimalisasi gas alam melalui teknologi Gas-to-Olefins, serta peningkatan kapasitas kilang petrokimia nasional. Selain itu, pengembangan bioplastik dan plastik daur ulang dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil.

Hasil riset Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo, berupa bio-oils dari ko-pirolisis pelepah kelapa sawit dan polistirena. (Foto: Dok.UPER)
Upaya tersebut sejalan dengan peran Universitas Pertamina sebagai pelaksana nasional program internasional The Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP) bersama Yale University, UNIDO, Global Environment Facility, dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Sekretaris Universitas Pertamina, Raden Panji Adhitiyo Putera, menegaskan komitmen kampusnya dalam mendorong inovasi kimia hijau. 

“Kami memperkuat riset dan kurikulum Teknik Kimia dengan fokus Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi. Ini guna mencetak talenta yang mampu menjawab tantangan industri sekaligus mendukung target SDGs poin 9 dan 12,” ujar Raden Panji menandaskan.

(Siaran Pers UPER)




Posting Komentar untuk "Harga Plastik Melonjak 60 Persen, Pakar UPER Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah dan Ancaman pada Industri FMCG"