![]() |
| Haidar Bagir. (Foto: Mizan) |
Oleh Haidar Bagir *)
Di tengah dunia yang kembali dipenuhi dentuman senjata mematikan dan teriakan-teriakan menghasut peperangan seperti sekarang ini, muncul satu suara yang tampak tidak biasa. Paus Leo XIV dalam berbagai pernyataan publiknya, tampil dengan posisi yang nyaris bisa terkesan sebagai anti-perang.
Paus Leo secara konsisten menolak legitimasi moral atas perang. Ia tidak sekadar menyerukan perdamaian sebagai tujuan, tetapi juga mempertanyakan dasar-dasar etis yang selama ini dipakai untuk membenarkan penggunaan kekerasan.
Dalam sejumlah pernyataannya, ia mengingatkan bahwa para pengambil keputusan yang memilih jalan perang “tidak bisa mencuci tangan mereka dari darah yang melumurinya.”
Dalam kesempatan lain, Paus Leo juga mengecam keras “penyalahgunaan agama untuk membenarkan kekerasan,” seolah ingin menutup pintu legitimasi atas perang apa pun.
Paus Leo seperti tampak tidak lagi menempatkan perang sebagai “opsi terakhir” yang masih mungkin dibenarkan—sebagaimana dalam tradisi perang adil/perang yang dibenarkan (just war) dalam pandangan yang umum—melainkan sebagai kegagalan moral itu sendiri. Dalam perspektif ini, bahkan perang yang dimaksudkan untuk tujuan “baik” tetap mengandung cacat etis yang mendasar.
Inilah yang membuat posisinya, di mata pengkritiknya, tampak bukan lagi sekadar kritis terhadap perang, melainkan hampir-hampir menolaknya secara total.
Sikap ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bagaimana bahasa agama digunakan di sisi lain spektrum. Pernyataan-pernyataan Paus Leo, yang berasal dari Amerika Serikat (AS) ini–meski bisa dilihat sebagai ditujukan kepada siapa pun yang mempromosikan perang–dalam konteks geopolitik mutakhir bisa diduga sebagai diarahkan utamanya kepada AS di bawah Donald Trump dan Israel—yang dengan semena-mena menggunakan kekuatan militer secara agresif.
Donald Trump sendiri dalam berbagai pernyataan publiknya, kerapkali menggunakan retorika religius dengan menyatakan bahwa ia “dilindungi Tuhan”. Atau bahwa tindakannya berada dalam kerangka misi lebih besar yang bersifat religius.
Kenyataannya, Trump juga mendapatkan dukungan dari sebagian komunitas Evangelis di Amerika Serikat—yang dalam beberapa kasus secara terbuka mendoakan dan mendukung inisiatif perang Trump— bahkan juga dari sebagian kelompok Katolik di negeri ini.
Dilihat dari perspektif Paus Leo, hal ini bisa dipandang sebagai bentuk “membajak” simbol dan otoritas Tuhan untuk memberikan legitimasi moral pada kebijakan yang, oleh banyak kalangan, justru dianggap tidak memiliki justifikasi etis yang bisa diterima.
Di sinilah artikel opini di The Wall Street Jurnal yang berjudul “Pope Leo XIV Goes to War” (6 April, 2026) menemukan konteksnya.
Penulisnya, William McGurn, membaca sikap Paus Leo sebagai bentuk “perang” terhadap tradisi gereja sendiri, khususnya terhadap konsep just war. Baginya, Paus tidak hanya mengimbau perdamaian, tetapi secara implisit sedang mengikis kerangka moral yang selama ini memungkinkan negara untuk menggunakan kekuatan secara sah.
Menurut McGurn, pendekatan ini problematis. Ia berargumen bahwa dunia nyata tidak selalu memungkinkan pilihan damai, dan bahwa dalam kondisi tertentu, penggunaan kekuatan justru diperlukan untuk mencegah kejahatan yang lebih besar. Dengan melemahkan atau menolak konsep just war, Paus—dalam pandangan McGurn—berisiko meninggalkan dunia tanpa kerangka etis yang memadai untuk menghadapi agresi.
Jika McGurn melihat posisi Paus sebagai bentuk idealisme yang berbahaya, saya melihatnya sebagai kritik terhadap kecenderungan manusia modern untuk terlalu mudah menerima perang–yang sebenarnya lebih sering bersifat agresif— sebagai sesuatu yang “tak terelakkan”.
Paus Leo tampaknya ingin mengganggu kenyamanan moral itu—memaksa kita untuk kembali menunjukkan besarnya beban moral dalam setiap keputusan untuk berperang, alih-alih menormalkannya melalui bahasa-bahasa etis.
Dalam pembacaan saya, Paus Leo sedang berusaha merebut kembali bahasa moral dari tangan kekuatan yang telanjang. Ia tidak sedang menolak perang secara langsung, melainkan menolak cara agama diperalat untuk membenarkan perang.
Bagi McGurn, Paus Leo sedang "berperang" melawan tradisi gereja dan realisme politik. Dalam pembacaan saya, Paus Leo justru sedang berperang melawan banalitas kekerasan—dan terhadap kecenderungan manusia untuk menyelubungi kekerasan itu dengan nama Tuhan.
Dan, mungkin, di dunia yang semakin terbiasa dengan kekerasan, justru suara yang tampak “tidak realistis” itulah yang paling dibutuhkan: suara yang mengingatkan bahwa tidak semua yang mungkin dilakukan, layak untuk dibenarkan.
7 April 2026
*) Pendiri Gerakan Islam Cinta

Posting Komentar untuk "Paus yang Digelisahkan oleh (Para Penghasut) Perang "