Surat Terbuka Pezeshkian kepada Rakyat AS: Suara dari Iran tentang Keadilan, Kekuasaan, dan Kemanusiaan

Haidar Bagir. (Foto: islamindonesia.id)

Oleh Haidar Bagir *)

Di tengah memuncaknya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), muncul sebuah surat terbuka yang menarik—bukan karena kerasnya retorika, melainkan justru sebaliknya. Surat yang ditulis oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan ditujukan kepada rakyat Amerika ini seolah ingin menembus langsung dinding propaganda, melewati pemerintah, media, dan narasi geopolitik yang saling karut-marut.

Isi surat itu pada dasarnya sederhana, tetapi sarat makna: Iran tidak memusuhi rakyat Amerika. Permusuhan, jika ada, bukan kepada manusia biasa yang hidup, bekerja, dan membesarkan keluarga di Amerika, melainkan kepada ke-(tidak)-bijakan politik yang menindas, khususnya keterlibatan Amerika dalam konflik Timur Tengah dan dukungannya terhadap Israel. Ia bukan sekadar klarifikasi diplomatik, melainkan sebuah upaya memisahkan—secara tegas—antara negara dan rakyat.

Dalam surat itu, Pezeshkian juga menantang narasi dominan di AS bahwa Iran adalah ancaman. Ia justru membaliknya: Iran tidak memulai perang, melainkan hanya bereaksi terhadap tekanan, sanksi, dan berbagai bentuk agresi yang telah berlangsung pukulan tahun. 

Lebih jauh, Pezeshkian menyampaikan kritik tajam bahwa Amerika, dalam banyak kasus, bertindak bukan semata atas kepentingannya sendiri, tetapi lebih kerapkali terseret dalam kepentingan lain. Ini bukan hanya tuduhan geopolitik, melainkan ajakan kepada rakyat Amerika untuk bertanya—apakah perang ini benar-benar demi mereka, atau justru mengorbankan mereka?

Namun surat ini tidak berhenti pada kritik. Ia juga merupakan seruan moral. Pezeshkian seakan berkata: jika rakyat Amerika benar-benar menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan, maka mereka perlu melihat kembali apa yang dilakukan para rezim-rezim di AS atas nama mereka. 

Dengan kata lain, surat ini adalah bentuk diplomasi langsung kepada publik—sebuah upaya untuk menggeser medan pergulatan dari sekadar bersifat militer ke ranah pembangunan jembatan kesadaran moral.

Untuk memahami nada surat ini, kita perlu melihat siapa Pezeshkian. Ia bukan figur tipikal "garis keras" Iran. Bukannya terbiasa dengan keruwetan politik, ia adalah seorang dokter bedah jantung, yang sepanjang kariernya terbiasa berhadapan dengan kehidupan manusia secara konkret. 

Sebagai politisi, Pezeshkian dikenal sebagai politisi dengan kecenderungan reformis—lebih terbuka pada dialog, lebih sensitif terhadap isu keadilan sosial, dan dalam beberapa kesempatan bahkan mengkritik apa yang dilihatnya sebagai pendekatan negara yang represif terhadap rakyatnya sendiri. Latar belakang ini menjelaskan mengapa bahasa yang digunakannya dalam surat tersebut lebih bersifat humanis ketimbang ideologis.

Dalam kerangka yang lebih luas, surat ini juga membantu menjelaskan satu slogan yang sering disalahpahami di luar Iran: “Death to America”. Bagi banyak orang di Barat, kalimat ini terdengar sebagai seruan literal untuk membunuh warga Amerika. 

Namun para pemimpin Iran, termasuk Ayatullah Ali Khamenei, berulang kali menjelaskan bahwa yang dituju bukanlah rakyat Amerika, melainkan sistem politik, kebijakan, dan kepemimpinan yang dianggap zalim—yang melakukan intervensi, penindasan, dan dominasi atas bangsa lain.
Dalam pengertian ini, “kematian bagi Amerika” lebih tepat dipahami sebagai “kematian bagi imperialisme AS”, bagi kesombongan kekuasaan, dan bagi struktur penindasan—bukan kematian manusia-manusianya.

Saya, sedini tahun 1985, pernah mewawancarai Ayatullah Hadi Khoshroeshahi—waktu itu masih Hujjatul Islam—yang mengatakan bahwa Iran tak membenci rakyat AS. Bahkan, menurutnya, sesungguhnya rakyat AS adalah kaum tertindas di negerinya. 

Dan, kiranya, kita bisa segera bersetuju dengan ini: sudah cukup lama negeri AS dikuasai oleh pemimpin-pemimpin yang bukan benar-benar pilihan rakyat, melainkan kurang-lebih adalah boneka kekuatan-kekuatan lobi politik—utamanya lobi politik Israel—dan oligarki. Calon seperti Bernie Sanders, Ralph Nader, dan lain-lain, nyaris tak punya harapan untuk menang di negeri ini. Dan banyak lagi calon-calon alternatif lain yang pernah mencoba.

Surat Pezezkian ini kiranya hanya menggemakan jeritan yang sudah makin sering dilaungkan oleh manusia-manusia bijak di berbagai era, yang sesungguhnya lebih benar-benar mencintai rakyat AS.

Akankah sampai, dan bisa membantu suara-suara dari relung-relung di dalam negeri AS, yang gemanya makin lama makin nyaring itu?

6 April 2026

*) Cendekiawan, filantropis, penulis, dan presiden direktur Mizan Group.


Posting Komentar untuk "Surat Terbuka Pezeshkian kepada Rakyat AS: Suara dari Iran tentang Keadilan, Kekuasaan, dan Kemanusiaan"