TKA 2026 Inklusif di Bandung: Kisah Haru Siswa ABK hingga Kelas Paket B Taklukkan Tantangan Ujian Berbasis Komputer

Di SMPN 17 Bandung, Jawa Barat, hari pertama TKA Paket B berlangsung tertib dan lancar. Peserta berasal dari berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Bandung dan sekitarnya. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; BANDUNG – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi sorotan. Bukan sekadar soal ujian berbasis komputer, tetapi juga tentang bagaimana negara berupaya menghadirkan sistem pemetaan mutu pendidikan yang inklusif dan berkeadilan—termasuk bagi peserta didik pendidikan kesetaraan Paket B dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Di SMPN 17 Bandung, Jawa Barat, hari pertama TKA Paket B berlangsung tertib dan lancar. Peserta berasal dari berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Bandung dan sekitarnya. Mereka datang dengan latar belakang beragam, membawa semangat yang sama: membuktikan kemampuan diri melalui asesmen nasional yang kini menjadi instrumen penting pemetaan kompetensi.

TKA untuk Pendidikan Kesetaraan, Bukan Penentu Kelulusan

TKA merupakan instrumen evaluasi untuk memetakan capaian akademik peserta didik secara nasional. Berbeda dengan ujian kelulusan, hasil TKA tidak menentukan lulus atau tidaknya siswa. Kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan.

Kebijakan ini sejalan dengan arah reformasi evaluasi pendidikan yang ditekankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni menjadikan asesmen sebagai alat diagnosis mutu pembelajaran, bukan sebagai alat seleksi semata.

Pelaksanaan TKA untuk pendidikan kesetaraan umumnya dipusatkan di sekolah yang memiliki infrastruktur memadai, seperti laboratorium komputer dan jaringan internet stabil. Di Bandung, sejumlah PKBM seperti Guna Persada dan Yayasan Nura Amalia bergabung di satu lokasi guna memastikan standar teknis terpenuhi.

Kepala PKBM Guna Persada, Ali Umar Hamdani, menjelaskan bahwa persiapan dilakukan cukup detail. “Mulai dari verifikasi data peserta, simulasi sistem, penyiapan ruang ujian, hingga penugasan proktor dan teknisi. Semua dilakukan agar peserta merasa nyaman,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Fasilitas Khusus untuk Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Yang menarik, aspek inklusivitas menjadi perhatian utama. Peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan penyesuaian layanan, mulai dari perangkat dengan fitur aksesibilitas, aplikasi pembaca layar, hingga pendamping yang memahami kebutuhan khusus.

Langkah ini sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif yang juga diatur dalam berbagai regulasi nasional tentang hak pendidikan bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.

Bagi Heri Gunawan, peserta Paket B dari PKBM Guna Persada yang merupakan penyandang tunanetra, TKA menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

“Deg-degan, tapi puas bisa menyelesaikannya,” kata Heri usai ujian.

Dalam persiapan, Heru mengandalkan buku braille, materi audio digital, dan bimbingan guru. Namun tantangan tetap ada, terutama saat menghadapi soal berbasis visual dan istilah matematika yang belum familiar. “Kalau tidak ada pendamping, cukup sulit. Soal harus dibacakan dulu,” ujarnya.

Meski demikian, Heri mengapresiasi fasilitas yang disediakan panitia. Menurutnya, dukungan teknis dan pendampingan membuatnya lebih percaya diri.

Matematika Masih Jadi Momok

Pengalaman serupa dirasakan Stefhanie Yemimma Aurellia dari PKBM Yayasan Nura Amalia. Ia mengaku sempat panik saat ujian dimulai. “Saya deg-degan, apalagi matematika cukup menantang,” katanya.

Namun, Stefhanie tetap optimistis karena telah mempersiapkan diri sejak sepekan sebelumnya. Bagi dia, TKA bukan sekadar ujian, melainkan momentum untuk mengukur sejauh mana pemahaman yang telah ia bangun selama ini.

Tantangan PKBM: Infrastruktur dan SDM

Di Kota Bandung, jumlah PKBM tercatat lebih dari seratus lembaga yang tersebar di berbagai kecamatan. Peserta didiknya pun datang tidak hanya dari dalam kota, tetapi juga dari wilayah sekitar.

Tantangan pelaksanaan TKA di pendidikan kesetaraan cukup kompleks. Mulai dari kesiapan infrastruktur teknologi, kompetensi sumber daya manusia, hingga penyesuaian kebutuhan peserta ABK.

Namun pemerintah terus mengoptimalkan dukungan melalui pedoman teknis, pelatihan proktor, serta fasilitasi sarana prasarana. Upaya ini diharapkan memperkecil kesenjangan mutu antara jalur pendidikan formal dan nonformal.

Harapan untuk TKA yang Lebih Ramah ABK

Menutup pengalamannya, Heri menyampaikan harapan sederhana namun penting. “Semoga ke depan waktunya bisa lebih panjang. Kami butuh waktu lebih untuk memahami soal, terutama yang berkaitan dengan angka dan gambar,” ujarnya.

Harapan itu menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar membuka akses, tetapi juga memastikan setiap peserta mendapat kesempatan yang adil untuk menunjukkan potensinya.

Pelaksanaan TKA di Bandung kali ini menjadi gambaran bahwa asesmen nasional tidak lagi sekadar angka dan nilai. Di balik layar komputer, ada perjuangan, keberanian, dan semangat belajar yang tak kalah besar—terutama dari mereka yang selama ini kerap berada di pinggir sistem pendidikan formal.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "TKA 2026 Inklusif di Bandung: Kisah Haru Siswa ABK hingga Kelas Paket B Taklukkan Tantangan Ujian Berbasis Komputer"