Editor: Endro Yuwanto
GEBRAK.ID; BOYOLALI – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus dilakukan pemerintah dengan pendekatan yang lebih dekat ke realitas di lapangan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali kini mendorong model pelatihan guru berbasis sekolah melalui program “Hari Belajar Guru”.
Program ini mengemuka dalam audiensi antara Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali Dwi Hari Kuncoro di SMP Negeri 1 Ngemplak, Sabtu (2/5/2026).
Pelatihan Guru Berbasis Sekolah
Nunuk menjelaskan, program “Hari Belajar Guru” dirancang agar pelatihan tidak lagi terpusat di hotel atau ruang formal, melainkan langsung di sekolah. Guru tetap hadir ke sekolah, namun pada hari tertentu tidak mengajar, melainkan mengikuti pelatihan bersama kelompok kerja seperti MGMP.
“Misalnya hari Kamis, guru mata pelajaran tertentu tidak mengajar, tetapi berkumpul untuk belajar bersama. Kami kirim pelatih ke sana, sehingga pelatihan lebih relevan dengan kondisi nyata di kelas,” ujarnya.
Model ini dinilai lebih efektif karena memungkinkan guru langsung mempraktikkan materi, melakukan refleksi, dan berdiskusi berdasarkan pengalaman mengajar sehari-hari.
Menurut Nunuk, pendekatan lama yang berbasis pelatihan di hotel kerap tidak menyentuh kebutuhan riil guru di lapangan. Karena itu, pemerintah kini mengedepankan metode Teaching Experimental Training yang lebih kontekstual.
Kejar Target Kualifikasi dan Sertifikasi
Selain peningkatan kompetensi, Kemendikdasmen juga tengah mengejar penuntasan kualifikasi akademik dan sertifikasi guru. Di Boyolali, masih terdapat ratusan guru yang belum memenuhi standar tersebut.
Data menunjukkan sekitar 255 guru belum menuntaskan Pendidikan Profesi Guru (PPG), sementara 211 lainnya belum memiliki kualifikasi akademik S1/D4.
“Tahun ini menjadi momentum penting untuk penuntasan. Kami akan mendampingi dan memastikan seluruh data valid,” tegas Nunuk.
Pemerintah pun membuka kesempatan bagi guru untuk mengikuti gelombang pendaftaran lanjutan sebagai bagian dari upaya percepatan.
Persoalan Kepala Sekolah Jadi Sorotan
Audiensi ini juga mengangkat persoalan kekosongan jabatan kepala sekolah di sejumlah SD dan SMP di Boyolali. Dwi Hari Kuncoro menilai masalah tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sistemik.
Menurutnya, banyak guru dengan pangkat tertentu yang sebenarnya memenuhi syarat, namun terkendala aturan penempatan yang kaku.
“Guru yang sudah memenuhi kualifikasi seharusnya diberi fleksibilitas untuk mengisi jabatan kepala sekolah, tanpa terhambat sekat administratif,” ujarnya.
Solusi Lewat Regrouping Sekolah
Untuk mengatasi ketimpangan distribusi guru dan keterbatasan sumber daya, Pemkab Boyolali juga mendorong kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah.
Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan penggunaan fasilitas dan tenaga pendidik, terutama di sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit.
“Saat ini, 48 sekolah dasar sudah siap bergabung. Ini bukan sekadar penggabungan, tetapi strategi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara berkelanjutan,” jelas Dwi.
Kolaborasi Jadi Kunci
Langkah-langkah strategis ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat ekosistem pendidikan.
Dengan pendekatan pelatihan yang lebih relevan, penataan sumber daya yang lebih efisien, serta percepatan sertifikasi guru, diharapkan kualitas pendidikan di daerah dapat meningkat secara signifikan.
Sejumlah pakar pendidikan juga menilai bahwa pelatihan berbasis praktik langsung di sekolah mampu meningkatkan kompetensi guru secara lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
Dengan inovasi seperti “Hari Belajar Guru”, pemerintah berharap transformasi pendidikan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke ruang kelas.
(Sumber: Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Gebrakan Baru: Kemendikdasmen Dorong “Hari Belajar Guru” di Boyolali, Pelatihan tak Lagi di Hotel"