PP Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Raksasa, Target Operasi 2028, Siap Akhiri Ketergantungan Impor?

Langkah besar digerakkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia itu resmi menyiapkan pembangunan pabrik cairan infus sendiri melalui entitas bisnis barunya, PT Suryavena Farma Indonesia. (Foto: Dok.Muhammadiyah)
Editor: A Rayyan K


GEBRAK.ID; JAKARTA -- Langkah besar digerakkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia itu resmi menyiapkan pembangunan pabrik cairan infus sendiri melalui entitas bisnis barunya, PT Suryavena Farma Indonesia. Targetnya tak main-main: mulai beroperasi pada akhir 2027 atau paling lambat awal 2028.

Selama ini, Muhammadiyah dikenal kokoh di sektor pendidikan dan kesehatan. Data internal menunjukkan organisasi ini mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai daerah. Namun ironisnya, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, termasuk cairan infus, Muhammadiyah masih bergantung pada produsen lain.

“Selama ini kita kuat di hilir, tetapi belum punya industri hulu sendiri. Kebutuhan besar, tapi suplai masih bergantung pihak luar,” ujar Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Dari Maklon ke Pabrik Sendiri


Dua tahun terakhir, produk infus merek Suryavena sebenarnya sudah beredar. Namun produksinya masih dilakukan lewat skema maklon atau kerja sama dengan pabrik lain. Skema ini dinilai menyisakan persoalan, terutama keterbatasan kapasitas dan konsistensi pasokan.

Padahal kebutuhan internal Muhammadiyah sangat besar. Jika dihitung dari ratusan rumah sakit dan klinik, kebutuhan cairan infus per tahun bisa mencapai jutaan botol.

Karena itu, Muhammadiyah memutuskan naik kelas: membangun pabrik sendiri di Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra industri cairan infus nasional. Lahan seluas sekitar 14 hektare telah disiapkan dan dinyatakan layak, termasuk dari sisi kualitas air yang menjadi faktor krusial dalam produksi farmasi steril.

Kapasitas 15 Juta Botol per Tahun

Pabrik ini ditargetkan memproduksi hingga 15 juta botol infus per tahun. Sekitar 13 juta botol akan menyuplai kebutuhan internal Muhammadiyah, sementara sisanya dipasarkan ke rumah sakit umum lainnya.

Langkah ini sejalan dengan agenda kemandirian industri kesehatan nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan berbagai laporan industri farmasi, Indonesia masih menghadapi tantangan ketergantungan bahan baku dan produk kesehatan dari luar negeri. Investasi sektor swasta nasional dalam industri farmasi dinilai penting untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan.

Studi kelayakan proyek ini telah melibatkan akademisi dari ITB serta konsultan keuangan independen. Skema pendanaan akan memadukan pembiayaan eksternal, termasuk perbankan dan investor.

Jika terealisasi sesuai target, pabrik ini bukan hanya memperkuat ekosistem kesehatan Muhammadiyah, tetapi juga berpotensi menjadi pemain penting di industri cairan infus nasional.

Langkah ini menjadi sinyal kuat: Muhammadiyah tak lagi sekadar operator layanan kesehatan, tetapi siap masuk ke jantung industri farmasi Indonesia.

(Siaran Pers)



Posting Komentar untuk "PP Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Raksasa, Target Operasi 2028, Siap Akhiri Ketergantungan Impor?"