PONTIANAK – Kesempatan emas terbuka bagi generasi muda Kalimantan Barat untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendukung penuh program beasiswa internasional yang tak hanya memberikan akses kuliah gratis di Tiongkok, tetapi juga membuka peluang kerja setelah lulus.
Komitmen tersebut ditunjukkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti saat menghadiri penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Trilateral Program Beasiswa Pendidikan Internasional di SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (25/6/2026).
Program ini diinisiasi salah satu alumni SMA 1 Pontianak yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR RI, Rifqi Nizhomi Karsayuda serta berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Yangzhou Polytechnic Institute, dan PT Konsumen Indonesia. Sebanyak 10 siswa SMAN 1 Pontianak yang sebelumnya berprestasi dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI akan menjadi angkatan pertama yang memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke Tiongkok (China).
Menurut Abdul Mu'ti, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan internasional menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia.
"Sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo, kami menerjemahkannya melalui visi menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua dengan partisipasi semesta," ujar Abdul Mu'ti.
Abdul Mu'ti menilai keberhasilan program tersebut tidak lepas dari sinergi banyak pihak, termasuk dukungan anggota Komisi II DPR RI, M. Rifqinizamy Karyasuda, yang turut menginisiasi lahirnya program beasiswa tersebut.
"Ini adalah contoh bagaimana seorang alumni berbakti kepada almamaternya dan bagaimana seorang tokoh memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara," kata Abdul Mu'ti.
Tak Sekadar Kuliah Gratis
Rifqinizamy menjelaskan bahwa program tersebut dirancang lebih dari sekadar memberikan beasiswa pendidikan. Para penerima akan memperoleh pembiayaan penuh selama menempuh studi di Yangzhou Polytechnic Institute, termasuk fasilitas tempat tinggal di asrama.
"Beasiswa pertama adalah beasiswa studi. Seluruh biaya pendidikan ditanggung hingga selesai dan para mahasiswa juga akan tinggal di asrama," jelasnya.
Selain mendapatkan pendidikan dengan standar internasional, peserta juga akan dibekali karakter disiplin, etos kerja, serta pengalaman belajar yang mengadopsi sistem pendidikan dan industri di Tiongkok.
Yang menarik, terdapat skema beasiswa kedua berupa ikatan kerja setelah lulus. Lulusan yang mampu mempertahankan prestasi akademik dengan indeks prestasi yang baik akan memperoleh kesempatan bekerja di PT Semen Conch Indonesia yang merupakan bagian dari Conch Group.
Skema tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan dunia industri sekaligus mengurangi kesenjangan antara lulusan pendidikan dan dunia kerja.
Siapkan SDM Berdaya Saing Global
Program beasiswa ini dirancang untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri, khususnya di Kalimantan Barat.
Beberapa bidang yang akan dipelajari meliputi teknik analisis kimia, konstruksi bangunan, mekatronika, hingga pemasaran digital dan e-commerce. Selama masa pendidikan, mahasiswa juga akan menjalani program magang di dunia industri sehingga memiliki pengalaman kerja sebelum menyelesaikan studi.
Model pendidikan seperti ini dinilai mampu meningkatkan daya saing lulusan Indonesia di tengah persaingan tenaga kerja global yang semakin kompetitif.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, nota kesepahaman yang telah ditandatangani membuka peluang baru bagi putra-putri daerah untuk mengakses pendidikan bertaraf internasional melalui dukungan pemerintah, dunia usaha, dan mitra global.
Ia pun berpesan kepada seluruh penerima beasiswa agar memanfaatkan kesempatan langka tersebut sebaik mungkin.
"Kepada anak-anak kami yang menerima beasiswa, manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh. Jagalah nama baik daerah dan bangsa, lalu pulanglah membawa ilmu, pengalaman, dan semangat untuk membangun Kalimantan Barat yang lebih maju," ujar Ria Norsan.
Program ini menjadi salah satu bentuk penguatan pendidikan vokasi yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia industri. Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kerja sama internasional tersebut diharapkan mampu mencetak generasi muda Indonesia yang memiliki kompetensi global, pengalaman industri, serta siap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional setelah kembali ke tanah air.
(Sumber: Kemendikdasmen)
