GEBRAK.ID; DUMAI – Program Indonesia Pintar (PIP) kembali menunjukkan dampak nyata bagi dunia pendidikan. Di Kota Dumai, Riau, bantuan pendidikan dari pemerintah tidak hanya membantu kebutuhan sekolah siswa, tetapi juga menjadi penyemangat bagi ribuan anak untuk terus belajar dan mengejar cita-cita hingga perguruan tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengapresiasi capaian pendidikan Kota Dumai yang terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di Dumai meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,30 tahun pada 2025. Sementara Harapan Lama Sekolah telah mencapai 13,36 tahun.
"Data BPS ini memperlihatkan capaian pendidikan di Kota Dumai telah melampaui nasional," ujar Fajar saat berkunjung ke Sekolah Maitreyawira, Dumai, belum lama ini, dan dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Selasa (9/6/2026).
Menurut Fajar, salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah optimalisasi Program Indonesia Pintar yang menjangkau ribuan peserta didik dari keluarga kurang mampu.
Hingga Mei 2026, Kemendikdasmen telah menyalurkan PIP kepada 7.579 siswa di Kota Dumai dengan total anggaran lebih dari Rp4,6 miliar. Bantuan tersebut diberikan kepada 4.195 siswa SD, 2.135 siswa SMP, 584 siswa SMA, dan 665 siswa SMK.
PIP Ringankan Beban Orang Tua
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para penerimanya. Jolin, siswa kelas IX SMP Maitreyawira, mengaku dana PIP yang diterimanya digunakan untuk berbagai kebutuhan sekolah sehingga membantu meringankan beban ekonomi keluarganya.
Jolin mulai menerima bantuan sejak kelas VIII setelah mendapatkan informasi dari pihak sekolah. Proses administrasi hingga pencairan dana juga didampingi oleh sekolah.
"Waktu itu saya dipanggil ke ruang guru dan diberi surat untuk dibawa ke bank. Setelah itu saya bersama orang tua melakukan aktivasi rekening sampai bantuan bisa diterima," jelas Jolin.
Cerita serupa datang dari Aprillia Givanny, siswi SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, April merasakan langsung manfaat bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, membeli perlengkapan sekolah, hingga biaya transportasi.
"Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan lainnya," ujarnya.
Jadi Motivasi Mengejar Cita-cita
Tidak hanya membantu secara finansial, PIP juga menjadi sumber motivasi bagi para siswa untuk terus berprestasi.
Alan Seven Cordiassimus Dakhi, siswa SMK Maitreyawira yang bercita-cita menjadi pengembang perangkat lunak atau programmer, mengaku bantuan PIP membuatnya semakin optimistis menatap masa depan.
Putra sulung dari keluarga sederhana itu telah menerima bantuan PIP sejak duduk di bangku SD. Meski sempat terhenti saat SMP, ia kembali memperoleh bantuan ketika melanjutkan pendidikan di SMK.
"Dengan PIP ini saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Setelah lulus SMK, saya ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika agar bisa menjadi seorang developer program," kata Alan.
PIP akan Terhubung dengan PKH dan KIP Kuliah
Sementara itu, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan integrasi antara Program Indonesia Pintar, Program Keluarga Harapan (PKH), dan KIP Kuliah.
Melalui integrasi tersebut, siswa yang berasal dari keluarga penerima PKH nantinya akan otomatis mendapatkan PIP. Bahkan setelah lulus sekolah dan diterima di perguruan tinggi melalui jalur seleksi apa pun, mereka berpeluang langsung memperoleh KIP Kuliah tanpa proses seleksi tambahan.
"Dengan pengintegrasian itu, murid yang keluarganya terdaftar sebagai penerima bansos PKH akan otomatis menerima PIP. Setelah itu, jika lolos ke perguruan tinggi, otomatis menerima KIP Kuliah," jelas Adhika.
Tak hanya itu, mulai tahun ajaran 2026/2027 pemerintah juga akan memperluas cakupan penerima PIP hingga jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Program tersebut ditargetkan menjangkau lebih dari 888 ribu anak usia dini sebagai bagian dari implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun.
Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan sejak usia dini sekaligus memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan ekonomi.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)
