Editor: A. Rayyan K
Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris sekaligus pemimpin Partai Buruh di 10 Downing Street, London, Senin (22/6/2026). (Foto: Dok.Reuters)
GEBRAK.ID, LONDON – Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris sekaligus pemimpin Partai Buruh. Keputusan tersebut mengakhiri masa kepemimpinannya yang belum genap dua tahun setelah membawa Partai Buruh meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum.
Pengumuman disampaikan Starmer dalam pidato emosional di depan kantor resmi Perdana Menteri Inggris di 10 Downing Street, London, Senin (22/6/2026). Dalam pernyataannya, ia mengakui tidak lagi menjadi sosok yang dianggap paling tepat untuk memimpin Partai Buruh menghadapi pemilu berikutnya.
Starmer mengatakan dirinya menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada setelah mendengar aspirasi dari anggota parlemen partainya.
"Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya orang yang paling tepat untuk memimpin kita menuju pemilu berikutnya. Saya telah mendengar jawaban partai parlemen saya atas pertanyaan itu, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada," ujar Starmer.
Politikus berusia 63 tahun itu juga menegaskan seluruh keputusan yang diambil selama menjabat selalu didasarkan pada kepentingan nasional. Karena alasan itu pula, ia memilih mengundurkan diri demi memberikan kesempatan kepada Partai Buruh mempersiapkan kepemimpinan baru.
"Setiap keputusan yang saya ambil adalah untuk mengutamakan negara yang saya cintai. Itulah mengapa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh," katanya dengan suara bergetar.
Meski telah mengumumkan pengunduran diri, Starmer belum langsung meninggalkan jabatannya sebagai perdana menteri. Ia memastikan akan tetap menjalankan tugas hingga Partai Buruh menyelesaikan proses pemilihan pemimpin baru yang nantinya secara otomatis akan menjadi kepala pemerintahan Inggris.
Starmer juga berjanji memastikan proses transisi kekuasaan berjalan tertib dan stabil agar tidak mengganggu jalannya pemerintahan maupun pelayanan publik.
Pengunduran diri Starmer terjadi setelah dalam beberapa pekan terakhir muncul tekanan politik dari internal partai. Sejumlah anggota parlemen Partai Buruh disebut mulai meragukan kepemimpinannya menyusul merosotnya tingkat popularitas pemerintah serta sejumlah perubahan kebijakan yang menuai kritik.
Spekulasi mengenai mundurnya Starmer semakin menguat setelah politisi senior Partai Buruh, Andy Burnham, dijadwalkan kembali menduduki kursi parlemen usai memenangkan pemilihan sela yang dinilai sangat penting bagi partai.
Kembalinya Burnham ke parlemen memunculkan peluang terjadinya persaingan dalam perebutan kursi pemimpin Partai Buruh. Berdasarkan aturan internal partai, pemimpin Partai Buruh harus berasal dari anggota parlemen yang sedang aktif menjabat.
Masa pemerintahan Starmer terbilang singkat. Setelah membawa Partai Buruh kembali berkuasa melalui kemenangan telak pada pemilu, pemerintahannya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan ekonomi, tekanan terhadap kebijakan domestik, hingga menurunnya tingkat kepercayaan publik.
Pergantian kepemimpinan ini juga memperpanjang daftar cepatnya rotasi perdana menteri di Inggris dalam satu dekade terakhir. Dengan mundurnya Starmer, Inggris akan memiliki perdana menteri ketujuh dalam kurun waktu sekitar 10 tahun, sebuah situasi yang mencerminkan dinamika politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern negara tersebut.
Kini perhatian publik Inggris tertuju pada proses pemilihan pemimpin baru Partai Buruh. Sosok yang terpilih nantinya tidak hanya akan memimpin partai, tetapi juga mengambil alih jabatan Perdana Menteri dan menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan kepercayaan publik menjelang pemilihan umum berikutnya.
(Sumber: Guardian/Reuters)