Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Dikebut Rampung, Kemendikdasmen Gandeng TNI Percepat Rekonstruksi

Kemendikdasmen bersama TNI mempercepat rehabilitasi sekolah terdampak bencana di Aceh agar siap digunakan pada tahun ajaran 2026/2027. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, PIDIE – Pemerintah terus mempercepat pemulihan sektor pendidikan di Aceh pascabencana hidrometeorologi. Melalui kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah daerah, dan TNI Angkatan Darat, proses rehabilitasi serta rekonstruksi sekolah yang mengalami kerusakan kini dikebut agar dapat digunakan kembali pada tahun ajaran 2026/2027.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ribuan peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan yang aman, nyaman, dan layak meski sejumlah sekolah masih berada dalam tahap pembangunan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, saat meninjau progres rehabilitasi sekolah di Kabupaten Pidie, Aceh, Selasa (23/6/2026), menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan pembangunan sekolah.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran TNI AD yang telah bermitra dengan kami dalam proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah-sekolah terdampak bencana," ujar Abdul Mu'ti.

Target Digunakan pada Tahun Ajaran Baru

Abdul Mu'ti mengatakan pemerintah menargetkan sebagian besar sekolah yang terdampak bencana sudah dapat kembali digunakan ketika tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai.

Sementara bagi sekolah yang masih menunggu proses pembangunan maupun relokasi, Kemendikdasmen telah menyiapkan ruang kelas darurat dengan fasilitas yang lebih representatif agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti.

"Mudah-mudahan proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar secara optimal di sekolahnya," katanya.

Salah satu sekolah yang menjadi fokus rehabilitasi adalah SD Negeri Utue di Kabupaten Pidie. Sekolah yang berdiri sejak 1984 itu mengalami kerusakan pada ruang kelas, plafon, toilet, hingga sistem drainase yang menyebabkan genangan saat musim hujan.

Untuk memperbaiki fasilitas tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,83 miliar. Dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi lima ruang kelas, membangun tiga paket toilet, ruang administrasi, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), pengadaan perabot belajar, fasilitas perpustakaan, hingga penataan lingkungan sekolah.

TNI Turun Langsung Bangun 190 Sekolah

Komandan Pelaksana Rehabilitasi, Letkol Infanteri Arino Vranta Sinurat, menjelaskan bahwa SD Negeri Utue merupakan bagian dari program rehabilitasi terhadap 190 sekolah terdampak bencana di Aceh yang dikerjakan oleh TNI AD.

"Di Provinsi Aceh terdapat 190 sekolah yang direhabilitasi oleh TNI AD akibat dampak bencana hidrometeorologi. Khusus di SD Negeri Utue, kami mengerjakan tujuh ruang kelas, dua ruang administrasi, kamar mandi, pengadaan mebel, serta penataan lingkungan sekolah," jelasnya.

Menurut Arino, proses pembangunan menggunakan pola swakelola tipe II yang memadukan tenaga profesional sipil dengan personel TNI agar pekerjaan berjalan lebih efektif dan sesuai target.

"Kami melibatkan delapan tenaga tukang sipil dan tiga personel TNI yang bekerja bersama agar pembangunan berjalan efektif dan selesai sesuai target," katanya.

Belajar Tetap Berjalan

Di tengah proses pembangunan, aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Utue tetap berlangsung. Kepala sekolah, Suwarni, mengatakan pihaknya menerapkan sistem pembelajaran bertahap sehingga siswa tidak perlu dipindahkan ke lokasi lain.

"Alhamdulillah, kami tidak perlu merelokasi siswa ke tempat lain. Pekerjaan dilakukan bertahap sehingga ruang yang masih layak tetap bisa digunakan. Guru bersama TNI juga memastikan keamanan siswa selama pembangunan berlangsung," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengungkapkan hasil pendataan pemerintah menunjukkan terdapat 2.920 sekolah yang terdampak bencana di Aceh. Dari jumlah tersebut, sebanyak 188 sekolah mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah harus direlokasi.

Menurutnya, masih adanya sekolah yang menggunakan ruang belajar darurat bukan berarti belum mendapatkan perhatian pemerintah, melainkan karena proses revitalisasi masih berlangsung.

"Yang terpenting, pembelajaran tetap berjalan sambil pembangunan dilakukan," kata Murthalamuddin.

Semangat Baru bagi Para Siswa

Percepatan pembangunan sekolah juga membawa harapan baru bagi para siswa. Mereka mengaku tidak sabar menempati ruang kelas yang lebih nyaman setelah proses rehabilitasi selesai.

Farhan, siswa kelas 4 SD Negeri Utue, mengaku senang melihat sekolahnya mulai direnovasi. "Senang sekali kalau sekolah kami bisa tambah bagus nanti," katanya.

Hal senada disampaikan Afkar yang bercita-cita menjadi prajurit TNI. Ia berharap segera bisa belajar di ruang kelas yang baru. "Saya tidak sabar untuk bisa belajar di kelas baru. Saya senang sekolah di sini," ujarnya.

Sementara itu, Salman mengaku semakin termotivasi belajar setelah sekolahnya dikunjungi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

"Saya akan giat belajar, bermain dengan rukun, dan menjadi anak yang pemberani," ucap Salman yang bercita-cita mengikuti jejak pesepak bola idolanya, Neymar.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan TNI AD diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan infrastruktur pendidikan di Aceh, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, berkualitas, dan mampu mendukung lahirnya generasi unggul pascabencana.

(Sumber: Kemendikdasmen)