CNG 3 Kg Diklaim 40% Lebih Murah dari LPG, Bahlil: Subsidi Energi Bisa Hemat hingga Rp30 Triliun

 


Bahlil menyebut CNG 3 kg lebih murah 30-40% dari LPG. Uji coba ditargetkan rampung Juli 2026 dan berpotensi hemat subsidi Rp30 triliun. ( Foto: ist) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Pemerintah terus mematangkan rencana penggunaan tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram sebagai alternatif pengganti sebagian konsumsi LPG bersubsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga CNG diperkirakan 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG 3 kg, sehingga berpotensi menghemat anggaran subsidi energi negara.

Menurut Bahlil, efisiensi tersebut dapat mengurangi beban subsidi LPG yang selama ini mencapai sekitar Rp86 triliun hingga Rp90 triliun per tahun. Jika implementasi berjalan sesuai rencana, pemerintah memperkirakan penghematan anggaran bisa mencapai Rp27 triliun hingga Rp30 triliun.

"Kalau harga CNG lebih murah 30-40 persen dari LPG, maka negara memiliki ruang fiskal yang lebih besar untuk membiayai program pembangunan lainnya," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Uji Coba Tahap Ketiga Masih Berlangsung

Meski optimistis, Bahlil menegaskan pemerintah belum akan menerapkan program tersebut secara nasional sebelum uji coba tahap ketiga selesai.

Ia menjelaskan tabung CNG memiliki tekanan sekitar 200-250 bar, jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG, sehingga aspek keselamatan menjadi prioritas utama.

"Kita harus benar-benar memastikan keamanan sebelum dipasarkan kepada masyarakat," katanya.

Kementerian ESDM menargetkan evaluasi uji coba rampung pada Juli 2026. Hasil pengujian tersebut akan menjadi dasar pemerintah menentukan waktu implementasi secara luas.

Distribusi Mengikuti Skema LPG

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan distribusi CNG 3 kg akan menggunakan mekanisme yang sudah diterapkan pada LPG bersubsidi.

Agen dan pangkalan LPG nantinya tetap berperan dalam penyaluran CNG sehingga masyarakat tidak perlu beradaptasi dengan sistem distribusi yang benar-benar baru.

Menurut Laode, masyarakat juga tidak diwajibkan membeli tabung CNG. Pemerintah akan menerapkan sistem tukar tabung, sementara kepemilikan tabung tetap berada di tangan badan usaha penyedia.

Dengan sistem tersebut, pengguna hanya membayar isi gas ketika melakukan penukaran, serupa dengan mekanisme yang telah berjalan pada LPG.

Tabung Masih Diimpor dari China

Untuk tahap awal pelaksanaan, pemerintah memutuskan mengimpor tabung CNG bertekanan tinggi dari China.

Keputusan tersebut diambil karena industri dalam negeri belum memproduksi tabung bertekanan tinggi hingga 250 bar secara massal sesuai standar keselamatan internasional.

Namun demikian, pemerintah membuka peluang peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) apabila industri nasional telah mampu memproduksi tabung CNG dengan spesifikasi yang dipersyaratkan.

Bagian dari Strategi Transisi Energi

Program CNG 3 kg merupakan salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini terus membebani neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi.

Pemanfaatan gas bumi domestik dinilai mampu meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengoptimalkan sumber daya gas yang tersedia di Indonesia.

Apabila uji coba berhasil dan implementasi berjalan sesuai target, penggunaan CNG 3 kg diharapkan menjadi alternatif energi rumah tangga yang lebih ekonomis, aman, serta mampu menekan beban subsidi pemerintah dalam jangka panjang.

(berbagai sumber)