Gelombang Kebangkrutan Hantam Jepang: 5.346 Perusahaan Gulung Tikar dalam 6 Bulan, Terbanyak dalam 12 Tahun

 

Jepang catat rekor kebangkrutan tertinggi 12 tahun. 5.346 perusahaan gulung tikar, 90% UKM. Sektor jasa dan konstruksi paling terpukul. ( Foto: pu.go.id)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA — Jepang menghadapi gelombang kebangkrutan perusahaan yang signifikan pada paruh pertama 2026. Data dari lembaga riset kredit Tokyo Shoko Research menunjukkan sebanyak 5.346 perusahaan bangkrut sepanjang semester I-2026, meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencatat rekor tertinggi dalam 12 tahun terakhir. 

Angka ini sekaligus menjadi kali pertama sejak 2014 jumlah kebangkrutan semester I melampaui angka 5.000 kasus. Krisis ini didominasi oleh usaha kecil dan menengah (UKM), dengan sekitar 90% di antaranya merupakan perusahaan yang mempekerjakan kurang dari 10 orang, dan hampir 80% memiliki utang di bawah 100 juta yen. 

Sektor Jasa dan Konstruksi Paling Terpukul

Tekanan paling besar terjadi di sektor jasa yang menyumbang sekitar sepertiga dari total kebangkrutan, dengan 1.819 kasus atau meningkat 7,2% secara tahunan. Restoran, toko makanan, dan bisnis akomodasi menjadi kelompok yang paling banyak mengalami likuidasi akibat konsumen menahan belanja. 

Sektor konstruksi menyusul di posisi kedua dengan 1.026 kasus kebangkrutan, naik 5,8% dan untuk pertama kalinya dalam 12 tahun menembus angka 1.000 kasus. Tukang kayu, tukang cat, tukang ledeng, hingga kontraktor listrik paling terdampak, sementara kontraktor besar relatif lebih mampu bertahan. 

"Fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Jepang. Artinya, tekanan yang dialami dunia usaha bukan hanya persoalan daerah tertentu, melainkan mencerminkan perlambatan yang bersifat nasional," demikian bunyi laporan Tokyo Shoko Research. 

Lemahnya Penjualan Jadi Penyebab Utama

Berbeda dengan anggapan umum, penyebab utama kebangkrutan bukan semata-mata pelemahan nilai tukar yen, melainkan lemahnya penjualan. Tokyo Shoko Research mencatat hampir tiga perempat kasus kebangkrutan pada 2025 hingga semester I-2026 dikategorikan sebagai akibat "penjualan yang buruk".

Kondisi ini mencerminkan masih lemahnya daya beli masyarakat. Meskipun upah nominal telah naik lebih dari 3%, pendapatan riil rumah tangga baru mulai membaik pada awal 2026 setelah sebelumnya tergerus inflasi sepanjang 2025. Pengeluaran rumah tangga riil bahkan tercatat turun selama enam bulan berturut-turut hingga Mei 2026, yang membuat pendapatan banyak UKM terus tertekan. 

Inflasi dan Pelemahan Yen Memicu Efek Domino

Jepang yang bergantung pada impor pangan, energi, dan bahan baku industri harus menghadapi kenaikan biaya akibat pelemahan yen serta konflik di Asia Barat. Pada Juni-Juli 2026, ribuan produk makanan mengalami kenaikan harga karena meningkatnya biaya bahan baku, kemasan, transportasi, dan energi. 

Data Tokyo Shoko Research mencatat kebangkrutan yang dipicu oleh kenaikan harga melonjak 27,6% secara tahunan menjadi 439 kasus, sementara kebangkrutan terkait kelangkaan tenaga kerja melonjak 37,7% menjadi 237 kasus keduanya merupakan rekor tertinggi untuk periode semester I. 

Di sisi lain, pelemahan yen dinilai lebih banyak menjadi pemicu tidak langsung. Berdasarkan survei Tokyo Shoko Research, kebangkrutan akibat depresiasi yen tercatat mencapai 45 kasus pada paruh pertama 2026, meningkat 32,3% secara tahunan. Mekanismenya dimulai dari kenaikan biaya impor yang mendorong harga barang naik, melemahkan permintaan konsumen, menekan pendapatan perusahaan, hingga akhirnya berujung pada kebangkrutan. 

Krisis Tenaga Kerja Memperburuk Keadaan

Kekurangan tenaga kerja turut memperburuk situasi, terutama di sektor konstruksi yang sangat bergantung pada pekerja terampil. Dari total 237 kasus kebangkrutan terkait ketenagakerjaan, 120 di antaranya dipicu oleh melonjaknya biaya upah melonjak 2,4 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Perusahaan kecil kesulitan bersaing dengan perusahaan besar dalam menarik tenaga kerja. Survei Tankan Maret 2026 dari Bank of Japan (BoJ) menunjukkan bahwa kekurangan tenaga kerja di semua skala bisnis dan industri berada pada tingkat "terparah dalam 34 tahun".

Proyeksi ke Depan: "Musim Gugur Bisa Semakin Buruk"

Peringatan penting datang dari pejabat Tokyo Shoko Research yang menyatakan bahwa kecepatan kebangkrutan dapat meningkat mulai musim gugur. Pada Juni 2026 saja, kebangkrutan melonjak 20,4% secara tahunan menjadi 1.021 kasus untuk pertama kalinya dalam 25 bulan angka bulanan melampaui 1.000 kasus. 

Lonjakan kebangkrutan ini menjadi gambaran beratnya masa transisi ekonomi Jepang dari era deflasi dan suku bunga ultra-rendah menuju periode inflasi, kenaikan upah, dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi. Bank of Japan sendiri telah mengambil langkah menuju normalisasi kebijakan moneter dengan mulai menaikkan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 0,75% pada Desember 2025.

Perusahaan-perusahaan besar masih mampu beradaptasi, namun ribuan UKM justru harus berjuang keras untuk bertahan di tengah perubahan lanskap ekonomi yang berat tersebut. 

( berbagai sumber)