Hari Pustakawan Indonesia: Kemendikdasmen Ubah Perpustakaan Jadi Rumah Pendidikan

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, memberikan sambutan  dalam kegiatan Bedah Buku Bermutu bertajuk Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto yang digelar di Jakarta, Selasa (7/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memanfaatkan momentum Hari Pustakawan Indonesia untuk menegaskan transformasi peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, ruang dialog, dan penguatan budaya literasi.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Bedah Buku Bermutu bertajuk Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto yang digelar di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Acara ini dihadiri secara langsung maupun daring oleh pejabat kementerian, asosiasi pustakawan, pegiat literasi, komunitas perbukuan, hingga perwakilan siswa berprestasi dari berbagai daerah.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan Hari Pustakawan Indonesia menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali bahwa perpustakaan kini memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar tempat menyimpan koleksi buku.

"Sebagaimana kita ketahui, dengan berkembangnya teknologi dan berbagai kebijakan, perpustakaan tidak lagi hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang belajar, ruang dialog gagasan, dan simpul kolaborasi," ujar Suharti.

Menurut Suharti, buku yang dibedah dipilih karena mengangkat tema kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pendekatan yang berorientasi pada solusi dalam kebijakan publik. Tema tersebut dinilai relevan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis serta memahami proses pengambilan kebijakan secara objektif.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memberikan penghargaan kepada para pustakawan yang selama ini berperan penting dalam membangun budaya literasi di Indonesia.

Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pandangan lama yang menempatkan pustakawan hanya sebagai penjaga rak buku sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, pustakawan merupakan penggerak literasi, fasilitator pengetahuan, sekaligus mitra strategis dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas.

"Satu kenikmatan yang tentu saja paling membuat kita bahagia dan bermakna adalah ketika dengan buku kita bisa menginspirasi, dengan perpustakaan kita bisa menggerakkan anak-anak kita untuk menjadi Generasi Indonesia Hebat menuju Generasi Emas 2045," kata Abdul Mu'ti.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti juga membagikan pengalaman pribadinya saat merintis perpustakaan desa sejak masih muda hingga pernah bertugas sebagai pustakawan di lingkungan kampus.

Abdul Mu'ti kemudian mengaitkan pentingnya budaya membaca dengan sosok Presiden Prabowo Subianto. Abdul Mu'ti mengaku pernah melihat secara langsung koleksi buku yang dimiliki Presiden saat berkunjung ke Hambalang.

Menurutnya, kebiasaan membaca menjadi salah satu ciri pemimpin yang memiliki wawasan luas dalam mengambil keputusan.

"Pemimpin besar adalah pemimpin yang banyak membaca, pemimpin yang senantiasa memberikan inspirasi dengan gagasan-gagasannya yang cemerlang dan keberanian untuk mengambil sikap karena wawasan dan ilmu yang dimiliki," ujar Abdul Mu'ti.

Kemendikdasmen juga terus mendorong penerapan pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam sebagai salah satu kebijakan strategis di bidang pendidikan.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya didorong membaca buku, tetapi juga mampu mereviu isi bacaan, mengeksplorasi lingkungan sekitar, berpikir kritis, dan menghasilkan karya nyata berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

Selain itu, kementerian menargetkan perpustakaan sekolah bertransformasi menjadi learning commons, yakni pusat pembelajaran aktif yang terbuka, inklusif, dan kolaboratif.

Abdul Mu'ti menegaskan perpustakaan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai ruang yang kaku ataupun sekadar pelengkap akreditasi sekolah. Karena itu, Kemendikdasmen tengah melakukan transformasi terhadap perpustakaan kementerian agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Perpustakaan yang telah terakreditasi A tersebut kini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti studio multimedia, ruang membaca, hingga area diskusi, sehingga diharapkan menjadi tempat belajar yang nyaman bagi seluruh masyarakat.

"Kami ingin menghadirkan Kementerian Pendidikan bukan semata-mata sebagai kantor layanan administrasi, tetapi menjadi Rumah Pendidikan, tempat siapa pun anak Indonesia dapat belajar dan membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan," tegas Abdul Mu'ti.

Menurutnya, budaya membaca harus terus ditanamkan sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter sekaligus bekal menghadapi tantangan abad ke-21.

Abdul Mu'ti pun mengajak generasi muda menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar memenuhi tugas akademik.

"Jadikanlah membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar kewajiban. Jadikanlah setiap buku yang kalian baca sebagai bahan refleksi, bukan sekadar informasi yang lewat begitu saja," pesannya.

Melalui peringatan Hari Pustakawan Indonesia, Kemendikdasmen berharap perpustakaan semakin berkembang menjadi ruang belajar yang hangat, inklusif, serta mampu melahirkan generasi pembelajar yang kritis, kreatif, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

(Sumber: Kemendikdasmen)