GEBRAK.ID -- Perjalanan yang seharusnya berlangsung singkat berubah menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Víctor Calderon (54 tahun). Pria asal Amerika Serikat (AS) itu salah menaiki pesawat hingga akhirnya terbang ke Tokyo, Jepang, padahal tujuan awalnya adalah Houston sebelum melanjutkan perjalanan ke Managua, Nikaragua.
Insiden tersebut terjadi pada Agustus 2025 dan menjadi perhatian setelah kisahnya diungkap oleh sejumlah media internasional.
Calderon memulai perjalanan dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX). Sesuai rencana, ia akan terbang menuju Houston, Texas, dengan durasi penerbangan sekitar 3,5 jam, kemudian melanjutkan penerbangan transit ke Managua.
Namun tanpa disadarinya, ia justru menaiki pesawat tujuan Bandara Haneda, Tokyo, yang menempuh penerbangan lintas Samudra Pasifik selama sekitar 11 jam.
Sesaat setelah duduk di kursinya, Calderon mengenakan headphone, menikmati musik, dan menonton film. Ia bahkan mengaku tidak terlalu memperhatikan pengumuman keselamatan yang disampaikan awak kabin.
Di tengah perjalanan, Calderon mulai merasa ada yang tidak biasa. Awak kabin membagikan bantal dan menyajikan makan malam lengkap, sesuatu yang menurutnya tidak lazim untuk penerbangan domestik menuju Houston.
"Aneh sekali," ujar Calderon seperti dikutip dari Travel and Leisure, Rabu (22/7/2026).
Kecurigaannya semakin besar ketika waktu penerbangan terasa jauh lebih lama dari perkiraan. Sekitar enam jam setelah lepas landas, ia akhirnya memanggil pramugari untuk memastikan tujuan penerbangan.
Saat itulah Calderon mengetahui bahwa pesawat yang ditumpanginya ternyata sedang menuju Tokyo.
Setibanya di Bandara Haneda, masalah baru muncul. Calderon tidak diizinkan keluar dari area bandara karena tidak memiliki dokumen perjalanan yang sesuai untuk memasuki Jepang.
Petugas maskapai menjelaskan bahwa ia harus tetap berada di terminal transit sambil menunggu pengaturan penerbangan kembali. Calderon mengaku sempat diliputi rasa takut.
"Jujur saja, saya sangat takut. Saya memikirkan hal terburuk. Saya khawatir mereka mengira saya seorang teroris, jadi saya sangat gugup," katanya kepada Los Angeles Times.
United Airlines kemudian mengatur penerbangan baru agar Calderon kembali ke rute yang benar. Sebagai bentuk kompensasi awal, maskapai memindahkannya ke kursi kelas satu untuk penerbangan pulang dan memberikan voucher perjalanan senilai 300 dolar AS atau sekitar Rp5,6 juta.
Meski demikian, dampak yang dialami Calderon jauh lebih besar. Seluruh perjalanan hingga akhirnya tiba di Managua memakan waktu sekitar 48 jam.
Selain itu, kopernya lebih dahulu tiba di Houston tanpa dirinya, reservasi hotel di Nikaragua hangus, dan ia harus mengeluarkan biaya sekitar 1.095 dolar AS atau setara Rp19,5 juta untuk membeli pakaian baru serta menginap selama dua malam.
Calderon menilai kompensasi awal dari maskapai belum sebanding dengan kerugian yang dialaminya. Ia kemudian melaporkan kasus tersebut kepada media Telemundo 52.
Setelah proses komunikasi dan penyerahan bukti pengeluaran, United Airlines akhirnya meningkatkan nilai kompensasi menjadi 1.000 dolar AS atau sekitar Rp17,8 juta serta menyampaikan permintaan maaf secara resmi.
Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan mengenai proses pemeriksaan penumpang di bandara. Sebab, Calderon mengaku telah melalui seluruh prosedur keberangkatan secara normal. Tiketnya dipindai di pintu keberangkatan dan ia bahkan duduk sesuai nomor kursi yang tertera pada boarding pass, yakni 34D.
Meski mengalami pengalaman yang melelahkan, Calderon mengaku memperoleh pelajaran penting dari kejadian tersebut. "Hal paling utama adalah memastikan Anda berdiri di gate penerbangan yang benar sebelum naik," ujarnya menandaskan.
(Sumber: Travel and Leisure)
