GEBRAK.ID -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas rungu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membekali para pendidik dengan metode pembelajaran Al-Qur'an menggunakan bahasa isyarat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (TOT) Al-Qur'an Bahasa Isyarat Batch 3 yang digelar Masjid Baitut Tholibin Kemendikdasmen Jakarta, bekerja sama dengan Baitul Maal Muamalat, Senin (20/7/2026).
Selama dua hari pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan teori dan praktik mengajar Al-Qur'an berbasis bahasa isyarat. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi pendidik agar mampu memberikan layanan pembelajaran yang lebih inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas rungu, baik di sekolah maupun di lingkungan komunitas.
Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen, Mariman Darto, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang memberikan kesempatan belajar setara bagi seluruh anak Indonesia.
"Karena memang ini terkait langsung dengan apa yang disebut Pak Menteri sebagai pendidikan inklusi, dan juga sekaligus sebagai pendidikan khusus yang memang membutuhkan perhatian kita sekalian," ujar Mariman di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut Mariman, pengembangan pendidikan inklusif tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Karena itu, Kemendikdasmen menggandeng berbagai mitra, di antaranya Baitul Maal Muamalat, Yayasan Wakaf Salman, serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen VPKPLK).
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembelajaran Al-Qur'an bagi penyandang disabilitas rungu sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang lebih ramah dan inklusif.
Mariman juga mengungkapkan bahwa program TOT Al-Qur'an Bahasa Isyarat akan terus dikembangkan. Kemendikdasmen berencana kembali menggelar pelatihan serupa pada peringatan Hari Tuli Internasional dan Hari Bahasa Isyarat Internasional dengan menggandeng Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sementara itu, Sekretaris Ditjen VPKPLK Kemendikdasmen, Suparto, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak setiap penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang inklusif.
"Training of Trainers Al-Qur'an Bahasa Isyarat Batch 3 ini diperuntukkan bagi kawan-kawan kita penyandang disabilitas rungu atau teman tuli. Ini merupakan satu kegiatan merealisasikan dan mewujudkan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas," kata Suparto.
Suparto menjelaskan, pembelajaran Al-Qur'an tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan agama, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya dalam membiasakan anak untuk beribadah.
Karena itu, menurut Suparto, kesempatan mempelajari Al-Qur'an harus dapat diakses seluruh warga negara tanpa terkecuali, termasuk peserta didik penyandang disabilitas rungu.
Melalui peningkatan kompetensi pendidik dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, Kemendikdasmen berharap layanan pendidikan yang inklusif terus berkembang sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara sesuai kebutuhan, potensi, dan karakteristik masing-masing.
(Sumber: Kemendikdasmen)
