GEBRAK.ID, JAKARTA -- Banyak orang tua masih menganggap keinginan bermain, mencari perhatian, atau ingin didengarkan sebagai sekadar kemauan anak. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi sinyal adanya kebutuhan emosional yang belum mampu diungkapkan si kecil melalui kata-kata.
Pemahaman mengenai perbedaan kebutuhan dan keinginan dinilai penting agar orang tua dapat membangun pola pengasuhan yang lebih sehat sekaligus meminimalkan konflik dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada laporan Psychology Today, Jumat (24/7/2026) yang mengulas pendekatan Nonviolent Communication (NVC), kebutuhan merupakan hal mendasar yang diperlukan setiap manusia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup aspek fisik seperti makan, minum, dan tidur, tetapi juga kebutuhan emosional, seperti rasa aman, diterima, memiliki pilihan, hingga kedekatan dengan orang lain.
Sebaliknya, banyak hal yang selama ini dianggap sebagai "kebutuhan" oleh orang tua sebenarnya hanyalah strategi untuk memenuhi kebutuhan lain.
Misalnya, keinginan agar rumah selalu rapi, anak segera tidur, atau pekerjaan rumah selesai tepat waktu bukanlah kebutuhan dasar. Hal tersebut lebih tepat dipahami sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan akan ketenangan, kenyamanan, maupun dukungan dalam kehidupan keluarga.
Pendekatan ini juga menjelaskan bahwa keinginan bukanlah lawan dari kebutuhan. Keinginan hanyalah salah satu cara seseorang membayangkan bagaimana kebutuhannya dapat terpenuhi.
Ketika orang tua hanya terpaku pada satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut, potensi terjadinya konflik dengan anak maupun pasangan akan semakin besar.
Konsep serupa juga berlaku pada perilaku anak. Anak yang terus menunda waktu tidur belum tentu hanya ingin bermain lebih lama. Bisa jadi, ia sedang mencari perhatian atau menginginkan lebih banyak waktu bersama orang tuanya sebelum beristirahat.
Begitu pula saat anak menolak menyikat gigi. Sikap tersebut tidak selalu berarti membangkang, melainkan bisa menjadi bentuk kebutuhan akan otonomi atau kesempatan menentukan pilihan terhadap dirinya sendiri.
Karena kemampuan anak dalam mengungkapkan perasaan dan kebutuhan emosional masih terbatas, para orang tua disarankan untuk melihat makna di balik perilaku yang muncul, bukan sekadar menilai tindakan yang tampak di permukaan.
Dengan memahami kebutuhan yang mendasari perilaku anak, orang tua dapat menemukan solusi yang lebih efektif, membangun komunikasi yang lebih hangat, serta menciptakan hubungan keluarga yang lebih harmonis.
(Sumber: Psychology Today)
