Editor: Devona R
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, bersama murid dari TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus, Jawa Tengah. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
SEMARANG – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus diarahkan menjadi proses yang ramah anak. Alih-alih menguji kemampuan membaca, menulis, atau berhitung, sejumlah sekolah kini mengedepankan kegiatan bermain dan asesmen ringan untuk mengenal karakter calon peserta didik.
Pendekatan tersebut diterapkan di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus, Jawa Tengah. Saat masa orientasi, suasana sekolah dipenuhi tawa anak-anak yang mengikuti berbagai aktivitas bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, serta mengenal lingkungan sekolah secara bertahap.
Bagi para guru, kegiatan tersebut menjadi cara yang lebih tepat untuk memahami karakter, kesiapan, dan kebutuhan setiap anak sebelum memulai proses pembelajaran.
Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Eni Uswati ketika mendaftarkan putri bungsunya melalui SPMB tahun ini.
Eni mengaku proses pendaftaran berlangsung sederhana dan tidak membuat anak merasa tertekan. Setelah proses administrasi selesai, orang tua bersama anak mengikuti orientasi yang dirancang dengan suasana santai.
"Persyaratannya cukup membawa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah diverifikasi, kami mengikuti orientasi bersama anak. Anak-anak diajak asesmen awal agar guru mengenal karakter mereka sejak awal," ujar Eni.
Fondasi Karakter Lebih Penting daripada Akademik
Bagi Eni, memilih sekolah tersebut bukanlah keputusan baru. Tiga anaknya sebelumnya juga mengenyam pendidikan di tempat yang sama.
Ia menilai pendekatan pembelajaran yang mengutamakan pembentukan karakter, kemandirian, dan pendidikan agama memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak.
"Guru-gurunya sangat peduli. Anak saya yang dulu sangat aktif sekarang menjadi lebih terarah, lebih fokus, dan mulai terbiasa menjalankan ibadah. Kami berharap anak yang sekarang juga mendapatkan fondasi agama, ilmu pengetahuan, dan kemandirian sebagai bekal untuk jenjang berikutnya," jelas Eni.
Pengalaman serupa juga disampaikan Fathur Rohman. Setelah putranya menempuh pendidikan di Kelompok Bermain, ia kembali memilih sekolah yang sama untuk melanjutkan ke jenjang taman kanak-kanak.
Menurutnya, pendidikan usia dini seharusnya menjadi masa untuk membangun karakter, bukan sekadar mengejar kemampuan akademik.
"Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan, sementara anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan. Harapan kami, anak menjadi lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan semakin berkarakter," kata Fathur.
Kemendikdasmen Tekankan PAUD sebagai Fondasi Pendidikan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini memegang peran penting dalam membentuk perkembangan anak pada masa mendatang.
Menurutnya, berbagai teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan.
"Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya," ujar Abdul Mu'ti.
Karena itu, pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun sekaligus memperluas dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik dari keluarga yang memenuhi syarat serta meningkatkan kompetensi guru PAUD.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan agar sekolah tidak memberikan beban akademik yang berlebihan kepada anak-anak usia dini.
"Jangan membebani anak-anak TK dengan tuntutan akademik yang berlebihan. Pendidikan di usia dini adalah ruang bagi anak untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, menanamkan kebiasaan baik, dan membangun karakter," tegasnya.
Sekolah Bangun Kemitraan dengan Orang Tua
Kepala TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Ami, mengatakan proses SPMB tidak hanya berfungsi sebagai tahapan administrasi, tetapi juga menjadi momentum membangun komunikasi dan kemitraan dengan orang tua.
Seluruh informasi mengenai visi sekolah, kurikulum, hingga pola pendampingan anak disampaikan secara terbuka sejak awal.
"Kami ingin memastikan setiap orang tua memahami sejak awal visi sekolah, kurikulum, hingga pola kolaborasi yang akan dibangun. TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, tetapi tempat membangun fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar," jelas Ami.
Sementara itu, Ketua Panitia SPMB, Lelly, menjelaskan sekolah menyediakan berbagai jalur pendaftaran, mulai dari layanan langsung, sistem daring, hingga melalui WhatsApp agar memudahkan masyarakat.
"Target kami sederhana, orang tua merasa tenang saat mendaftarkan anaknya. Karena itu kami menyediakan berbagai jalur komunikasi, mendampingi selama proses pendaftaran, dan memastikan setiap berkas diverifikasi secara teliti," ujar Lelly.
Praktik SPMB yang ramah anak dinilai menjadi langkah awal menciptakan pengalaman belajar yang positif sejak dini. Dengan mengedepankan dunia bermain dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, serta pemerintah, proses pendidikan diharapkan mampu membentuk karakter, rasa percaya diri, dan kecintaan anak terhadap kegiatan belajar sejak usia dini.
(Sumber: Kemendikdasmen)