GEBRAK.ID, YOGYAKARTA – Dunia pendidikan dan gerakan perempuan Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno, wafat pada Selasa (7/7/2026), pukul 20.13 WIB di RSA UGM, Yogyakarta.
Kepergian akademisi yang juga pernah memimpin Pimpinan Pusat 'Aisyiyah itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sivitas akademika UGM, Muhammadiyah, serta ribuan murid dan kolega yang pernah merasakan dedikasi dan keteladanan beliau selama puluhan tahun.
Prof. Chamamah dikenal sebagai sosok ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan literasi, filologi, pendidikan, hingga pemberdayaan perempuan. Di lingkungan kampus, ia bukan hanya dihormati karena keilmuan yang dimiliki, tetapi juga karena kepribadiannya yang hangat dan penuh perhatian kepada mahasiswa.
Kenangan itu masih membekas di hati Sri Hartatik, M., S.S., alumnus Sastra Arab UGM yang pernah menjadi mahasiswa Prof. Chamamah.
"Beliau sangat keibuan," ujar Sri Hartatik saat mengenang sosok dosennya.
Menurut Sri, suasana perkuliahan selalu terasa nyaman karena Prof. Chamamah mampu membangun kedekatan dengan mahasiswa tanpa menghilangkan wibawa sebagai seorang guru besar. Sosoknya menjadi mentor yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan keteladanan.
Selain berkiprah di dunia akademik, Prof. Chamamah juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi Muhammadiyah. Almarhumah pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2010.
Melalui organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut, Prof. Chamamah aktif memperjuangkan pendidikan, dakwah, serta pengembangan pemikiran Islam berkemajuan. Kiprahnya menjadikan dirinya sebagai salah satu tokoh perempuan yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memimpin sekaligus menjadi imam salat jenazah Prof. Chamamah di Musala RS PKU Muhammadiyah Gamping setelah proses pemandian jenazah selesai dilaksanakan.
Haedar juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya tokoh yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan dan Persyarikatan Muhammadiyah.
"Semoga almarhumah Prof. Chamamah Soeratno husnul khatimah, dilapangkan kuburnya, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya, dan dianugerahi tempat di surga dalam rida Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran, serta jejak kebaikan dan perjuangan almarhumah dapat dilanjutkan oleh keluarga dan generasi muda yang mencintai ilmu serta pengkhidmatan dakwah di jalan Allah," ujar Haedar Nashir.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Universitas Gadjah Mada menjadwalkan prosesi penghormatan terakhir di Balairung UGM pada Rabu (8/7/2026) pukul 13.00 WIB.
Selanjutnya, jenazah akan diberangkatkan menuju Masjid Besar Kauman Yogyakarta untuk prosesi penghormatan dan takziah mulai pukul 14.30 WIB sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karangkajen, Yogyakarta, setelah shalat Ashar.
Keluarga besar almarhumah, termasuk suami Drs. H. Moh. Soeratno beserta putra-putri tercinta, memohon doa dari masyarakat serta membuka pintu maaf atas segala kekhilafan yang mungkin pernah dilakukan almarhumah selama hidupnya.
Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno memang meninggalkan kehilangan yang besar. Namun dedikasi, pemikiran, dan keteladanannya diyakini akan terus hidup melalui karya ilmiah, pengabdian, serta generasi akademisi yang pernah dibimbingnya.
(Sumber: Muhammadiyah)
