AS Serang Iran Lagi, 13 Ledakan Hantam Selat Hormuz saat Gencatan Senjata

 

AS kembali melancarkan serangan udara ke Iran, 13 ledakan hantam Selat Hormuz. Gencatan senjata terancam buntut serangan balasan atas kapal tanker. ( berbagai sumber) 

Editor: Devona R

GEBRAK.ID,JAKARTA — Amerika Serikat kembali melancarkan serangkaian serangan udara dahsyat terhadap Iran pada Selasa (7/7), mengguncang kawasan Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah tiga kapal komersial diserang di jalur perairan internasional tersebut. Rentetan ledakan dilaporkan menghantam tiga lokasi strategis di pesisir selatan Iran, mengancam langsung gencatan senjata yang baru saja disepakati kedua negara.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan ini sebagai respons keras atas agresi Iran yang dinilai tidak beralasan dan berbahaya. Serangan udara tersebut dilancarkan menggunakan jet tempur dan pesawat taktis Angkatan Laut AS, menargetkan infrastruktur militer vital Iran di sekitar Selat Hormuz. 

13 Ledakan di Tiga Titik Strategis

Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sedikitnya 13 ledakan terdengar di wilayah selatan Iran. Pulau Qeshm dilaporkan menjadi sasaran enam ledakan, sementara tujuh ledakan mengguncang kota pelabuhan Sirik. Kota pelabuhan utama Bandar Abbas juga dilaporkan menjadi target serangan. 

Video yang beredar dan diverifikasi menunjukkan kepulan asap tebal berwarna oranye membubung di atas Bandar Abbas, khususnya di sekitar pelabuhan Shahid Haqqani yang merupakan markas utama angkatan laut Iran . Serangan ini merupakan yang terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu, dengan kekuatan diperkirakan empat hingga lima kali lipat lebih besar dari serangan balasan sebelumnya. 

Target Strategis Militer Iran

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa serangan menyasar sejumlah fasilitas militer strategis. Targetnya meliputi sistem pertahanan udara, lokasi pengawasan pantai, instalasi rudal permukaan-ke-udara, lokasi peluncuran rudal jelajah anti-kapal, serta pangkalan drone. 

Pemilihan target ini menunjukkan upaya AS untuk melumpuhkan kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz. Bandar Abbas merupakan markas utama angkatan laut Iran di utara selat, sementara Sirik menjadi lokasi pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di timur selat. Pulau Qeshm, pulau terbesar di Teluk Persia, menjadi pusat operasi utama IRGC yang dikenal memiliki jaringan fasilitas bawah tanah atau "kota rudal" untuk menyimpan rudal balistik anti-kapal dan drone. 

Pulau Kharg, yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dan disebut sebagai "pusat seluruh pasokan minyak Iran," juga dilaporkan terkena ledakan pada serangan terbaru ini. 

Kronologi Pemicu Serangan

Serangan ini dipicu oleh insiden penembakan tiga kapal tanker di Selat Hormuz pada Senin dan Selasa. Kapal tanker Qatar, Al-Rekayyat, yang mengangkut gas alam cair, terkena proyektil hingga mengalami kebakaran di ruang mesin saat melintas di dekat perairan Oman. Dua kapal tanker lainnya, termasuk satu milik Arab Saudi, juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan proyektil dan drone. 

Qatar dan Arab Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menuding Iran sebagai dalangnya. Iran membantah bertanggung jawab penuh, namun menyatakan bahwa kapal-kapal yang tidak menggunakan rute terkoordinasi dengan Iran akan menghadapi risiko serangan

Gencatan Senjata Terancam dan Respons Iran

Serangan AS terjadi di tengah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu . Momen ini semakin memperkeruh situasi ketika Iran sedang berkabung. 

Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas mengecam serangan AS sebagai pelanggaran berat terhadap nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata yang ditandatangani kedua negara. Iran memperingatkan akan mengambil "tindakan tegas" untuk membela kepentingan dan keamanan nasionalnya, serta menyebut Amerika Serikat telah berulang kali melanggar komitmennya. 

Sebelum serangan dilancarkan, AS juga mencabut izin penjualan minyak Iran yang sebelumnya diberikan sebagai insentif dalam kesepakatan sementara, langkah yang semakin meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. 

Analisis: Titik Panas Baru di Timur Tengah

Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik AS-Iran, mengancam runtuhnya gencatan senjata yang baru saja memberikan secercah harapan perdamaian. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak global, kembali menjadi medan ketegangan yang membayangi stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia. Dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan dan tuduhan, masa depan perjanjian perdamaian permanen kini berada di ujung tanduk.

( berbagai sumber)