Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Di tengah gencarnya pemerintah Indonesia mendorong hilirisasi nikel untuk ekosistem kendaraan listrik (EV), pertanyaan besar muncul: kapan para pabrikan akan mulai memanfaatkan kekayaan mineral ini secara masif untuk kebutuhan lokal? Salah satu pemain utama, Wuling, memberikan sinyal jelas bahwa keputusan tersebut tidak bisa diambil sendiri, melainkan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem dan mitra bisnis .
Vice President SAIC-GM-Wuling (SGMW) Han Dehong menyatakan bahwa pemanfaatan nikel Indonesia memerlukan diskusi mendalam dengan mitra baterai strategis seperti CATL, Gotion, dan Tsingshan. Wuling sendiri selama ini dikenal menggunakan teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak memerlukan nikel, berbeda dengan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC).
"Menurut saya itu tergantung pada ekosistem. Kita perlu meminta partner ekosistem kita untuk membangun industri terlebih dahulu," ujar Han Dehong saat ditanya soal rencana pemanfaatan nikel dari Indonesia. Ia menambahkan bahwa meskipun nikel Indonesia sudah banyak digunakan di China, penggunaannya untuk pasar lokal memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Komitmen Investasi Wuling dan Dominasi LFP di Pasar
Di sisi lain, Wuling telah menunjukkan keseriusannya dengan berinvestasi untuk fasilitas produksi baterai lokal. PT SGMW Motor Indonesia (Wuling) meresmikan lini produksi baterai MAGIC di kawasan supplier park pabrik Cikarang, Jawa Barat, dengan nilai investasi mencapai 40 juta RMB atau sekitar Rp 87 miliar . Fasilitas ini memproduksi battery pack dan merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Wuling dalam mendukung ekosistem EV Tanah Air.
Dominasi baterai LFP di pasar Indonesia memang masih terlihat jelas. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada 2025 penjualan mobil listrik berbasis LFP mencapai 88.344 unit atau 77,2 persen dari total pasar. Sementara itu, kendaraan berbasis NMC tercatat 26.069 unit atau 22,8 persen, meskipun pertumbuhannya tercatat lebih cepat.
Insentif Jumbo untuk Nikel yang Tertunda
Pemerintah Indonesia sendiri terus mendorong penggunaan nikel melalui berbagai insentif. Kebijakan terbaru yang tengah disiapkan adalah skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dengan besaran berbeda berdasarkan jenis baterai. Kendaraan listrik berbasis nikel (NMC) direncanakan mendapat insentif hingga 100 persen, sementara kendaraan dengan baterai non-nikel (LFP) hanya mendapat sekitar 40 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa skema ini bertujuan untuk mengurangi impor BBM sekaligus memperkuat hilirisasi industri nikel nasional. Langkah ini dinilai strategis mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.
Namun, realisasi insentif ini sudah dua kali mengalami penundaan. Semula ditargetkan berlaku pada Juni 2026, kemudian mundur ke Juli 2026, dan paling cepat direncanakan pada Agustus 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa skema tersebut masih dalam pengkajian karena masih ada sejumlah perhitungan teknis yang belum final.
Pengembangan Ekosistem oleh Mitra Strategis
Keseriusan pengembangan ekosistem nikel juga terlihat dari langkah mitra strategis Wuling. Sebagai informasi, Gotion, yang merupakan pemasok baterai untuk Wuling, DFSK, dan Neta, telah memiliki fasilitas perakitan baterai di Klapanunggal, Bogor . Perusahaan yang pertama kali masuk ke Indonesia melalui kolaborasi dengan Wuling ini terus melebarkan sayap bisnisnya.
Selain itu, proyek besar ekosistem baterai terintegrasi juga digarap di Karawang melalui PT HLI Green Power, joint venture Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution . Proyek ini diproyeksikan mampu memproduksi baterai setara kebutuhan 150.000 unit EV per tahun . Pabrik CATL juga dikabarkan mulai beroperasi secara komersial di akhir Juli 2026, menambah keyakinan terhadap pertumbuhan ekosistem baterai nasional.
Dengan kompleksitas ekosistem yang masih dibangun dan perbedaan teknologi baterai yang dianut para pabrikan, tampaknya pemanfaatan nikel Indonesia oleh Wuling masih membutuhkan waktu. Keputusan akhir tetap berada di tangan para pemangku kepentingan, menunggu kesiapan industri dari hulu hingga hilir.
( berbagai sumber)
