GEBRAK.ID, JAKARTA -- Makanan tradisional ternyata tidak kalah bernutrisi dibandingkan pola makan modern yang diterapkan para atlet profesional. Bahkan, sejumlah hidangan khas dari berbagai negara dinilai telah lama menerapkan prinsip gizi seimbang yang mampu mendukung performa tubuh sekaligus menjaga kesehatan.
Hal itu disampaikan Vice President of Health and Wellness Herbalife, Dr. Luigi Gratton. Menurutnya, banyak resep warisan nenek moyang yang justru memiliki komposisi nutrisi ideal untuk memenuhi kebutuhan energi, mempercepat pemulihan tubuh, dan menjaga kebugaran sehari-hari.
"Selama puluhan tahun berkecimpung di bidang nutrisi olahraga, saya justru belajar bahwa makanan yang dahulu dimasak oleh nenek kita sesungguhnya jauh lebih dekat dengan prinsip nutrisi atlet elite daripada yang kita bayangkan," ujar Gratton dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Gratton menjelaskan, banyak makanan tradisional mengadopsi konsep yang dikenal sebagai Performance Plate. Konsep ini merupakan panduan penyusunan menu bagi atlet dengan mengombinasikan karbohidrat, protein berkualitas, lemak sehat, serta sayur dan buah dalam porsi yang seimbang.
Menurut Gratton, berbagai kuliner Asia menjadi contoh nyata penerapan konsep tersebut. Bibimbap dari Korea Selatan, misalnya, memadukan nasi, sayuran, protein, dan telur dalam satu sajian. Sementara sup miso dari Jepang menghadirkan protein, pangan fermentasi, dan nutrisi yang baik untuk kesehatan pencernaan.
Gratton juga menyoroti penggunaan rempah-rempah seperti kunyit yang banyak ditemukan dalam masakan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Kandungan antiinflamasi alami pada kunyit dipercaya membantu proses pemulihan tubuh setelah melakukan aktivitas fisik.
Tak hanya di Asia, konsep serupa juga ditemukan di berbagai belahan dunia. Di Amerika Tengah dan Meksiko, hidangan seperti huevos rancheros yang memadukan telur, nasi, dan kacang-kacangan dinilai mampu menyediakan energi sekaligus protein yang dibutuhkan tubuh sebelum maupun sesudah berolahraga.
Sementara itu, Amerika Selatan memiliki makanan seperti feijoada dan ceviche yang kaya protein dan karbohidrat untuk membantu pemulihan otot. Minuman tradisional yerba mate juga kerap dimanfaatkan atlet karena kandungan kafeinnya yang dapat meningkatkan performa.
Gratton menambahkan bahwa pola makan Mediterania tetap menjadi salah satu contoh terbaik pola makan sehat karena mengutamakan konsumsi ikan, minyak zaitun, biji-bijian utuh, buah, dan sayuran yang telah terbukti mendukung kesehatan jantung serta proses pemulihan tubuh.
Di kawasan Timur Tengah, makanan seperti hummus, falafel, tabbouleh, hingga kurma juga dinilai memiliki kandungan protein nabati, lemak sehat, vitamin, mineral, dan karbohidrat alami yang sangat baik sebagai sumber energi.
Begitu pula dengan kuliner khas Afrika seperti jollof rice dan shakshuka yang mampu memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, serta berbagai mikronutrien penting untuk menunjang aktivitas harian.
Gratton menegaskan, menerapkan pola makan sehat tidak berarti harus meninggalkan makanan tradisional yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat.
"Yang terpenting adalah memahami bahwa keseimbangan makronutrien, konsumsi makanan utuh, sayur dan buah berwarna-warni, hidrasi yang cukup, serta pola makan yang disesuaikan dengan tingkat aktivitas merupakan prinsip yang bersifat universal," katanya.
Gratton mengajak masyarakat memanfaatkan makanan tradisional yang tersedia di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari pola hidup sehat. Selama diolah dengan baik dan dikonsumsi secara seimbang, makanan tradisional dapat menjadi sumber nutrisi berkualitas untuk menjaga kebugaran maupun mendukung aktivitas fisik.
(Siaran Pers)
