Editor: Devona R
Sukun yang memiliki nama ilmiah Artocarpus altilis tumbuh luas di
berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi hingga Papua. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID, BOGOR -- Selama ini sukun kerapkali dipandang sebagai buah kampung yang tumbuh di pekarangan rumah dan hanya diolah menjadi gorengan atau camilan tradisional. Namun, siapa sangka buah lokal ini ternyata memiliki potensi besar menjadi superfood masa depan.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Edi Santosa, menyebut sukun memiliki kandungan gizi yang tinggi, ramah lingkungan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Berbagai keunggulan tersebut membuat sukun dinilai layak menjadi salah satu pangan unggulan Indonesia di masa mendatang.
Menurut Prof Edi, sukun bukan hanya kaya karbohidrat, tetapi juga memiliki kandungan serat yang tinggi dan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan sejumlah sumber karbohidrat lainnya.
"Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan," ujar Prof Edi seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (1/8/2026).
Sukun yang memiliki nama ilmiah Artocarpus altilis tumbuh luas di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Selain di Nusantara, tanaman ini juga banyak ditemukan di kawasan kepulauan Pasifik.
Selama ini masyarakat lebih mengenal sukun sebagai makanan yang direbus atau digoreng. Padahal, buah tersebut memiliki potensi lebih besar sebagai bahan baku aneka produk pangan modern.
Prof Edi menambahkan, suatu bahan pangan dapat dikategorikan sebagai superfood apabila memiliki kandungan nutrisi tinggi, memberikan manfaat kesehatan, tidak mengandung antinutrisi dalam kadar yang merugikan, serta dibudidayakan dengan emisi karbon yang rendah dan tahan terhadap perubahan iklim.
"Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," jelas Prof Edi..
Selain menjadi sumber karbohidrat, sukun juga mengandung vitamin C. Sejumlah penelitian turut menemukan adanya kandungan vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn) yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta membantu upaya pencegahan stunting.
Tak hanya itu, kandungan serat yang tinggi menjadikan sukun baik untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Sementara kandungan asam lemak omega-3 pada beberapa olahan sukun disebut memiliki manfaat bagi kesehatan kulit.
Potensi sukun juga semakin besar karena buah ini dapat diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah. Salah satunya adalah tepung sukun yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan roti, mi, kue, hingga berbagai makanan olahan lainnya.
Keunggulan lain yang dimiliki sukun adalah kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Pohonnya mampu tumbuh baik di daerah dengan curah hujan tinggi maupun wilayah yang relatif kering.
"Dengan perawatan yang relatif minim, pohon sukun tetap mampu berproduksi hampir sepanjang tahun," kata Prof Edi.
Pohon sukun juga tergolong cepat menghasilkan buah. Tanaman ini umumnya mulai berbuah saat berusia tiga hingga empat tahun dan mampu terus menghasilkan panen setiap tahun, dengan puncak musim panen biasanya berlangsung antara Januari hingga Maret.
Dengan kombinasi kandungan gizi yang lengkap, kemudahan budidaya, serta kemampuannya tumbuh di tengah perubahan iklim, sukun dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pangan lokal andalan Indonesia di masa depan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
(Sumber: Laman IPB)