LFP Disebut Lebih Stabil, Benarkah Lebih Aman dari NMC? Ini Faktanya
LFP dinilai memiliki stabilitas termal lebih baik dibandingkan NMC, tetapi sistem manajemen baterai dan perlindungan kendaraan tetap menjadi faktor penting dalam keselamatan.
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID,JAKARTA – Teknologi baterai menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan kendaraan listrik. Selain menentukan jarak tempuh, kapasitas, bobot, dan biaya kendaraan, jenis baterai juga berkaitan dengan aspek keselamatan.
Dua jenis baterai lithium-ion yang banyak digunakan pada kendaraan listrik adalah Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Keduanya memiliki karakteristik berbeda, termasuk dalam hal kepadatan energi dan stabilitas termal.
LFP menggunakan lithium iron phosphate sebagai material katoda. Sementara itu, NMC menggunakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt. Dalam perkembangan industri kendaraan listrik, LFP semakin banyak digunakan karena menawarkan sejumlah keunggulan, terutama dari sisi biaya, usia pakai, serta stabilitas termal.
Data yang dikutip pada Juli 2026 menyebutkan bahwa pangsa LFP telah mencapai sekitar 50 persen dari pasar baterai kendaraan listrik global pada 2025. Di Indonesia, lebih dari 90 persen mobil listrik yang terjual juga disebut menggunakan baterai LFP.
LFP Lebih Stabil Secara Termal
Salah satu keunggulan utama LFP adalah karakter kimianya yang relatif lebih stabil ketika menghadapi kondisi panas.
Stabilitas tersebut menjadi penting karena baterai lithium-ion dapat mengalami fenomena thermal runaway, yakni kondisi ketika peningkatan temperatur memicu reaksi berantai yang menyebabkan suhu sel baterai terus meningkat dan berpotensi menimbulkan kebakaran.
Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy) menjelaskan bahwa thermal runaway pada baterai lithium-ion terjadi ketika sebuah sel atau bagian dari sel mencapai temperatur tinggi yang dapat memicu proses berkelanjutan di dalam baterai.
Pada kondisi tersebut, LFP secara umum memiliki ketahanan termal yang lebih baik dibandingkan sejumlah kimia baterai berbasis nikel seperti NMC. Karakter tersebut membuat LFP menjadi salah satu pilihan menarik untuk kendaraan listrik yang mengutamakan keamanan, umur baterai panjang, serta biaya produksi yang lebih rendah.
NMC Unggul dalam Kepadatan Energi
Meski LFP memiliki keunggulan dari sisi stabilitas, bukan berarti NMC kalah dalam seluruh aspek. Baterai NMC memiliki kepadatan energi lebih tinggi. Artinya, dengan bobot baterai yang sama, NMC dapat menyimpan energi lebih besar dibandingkan LFP.
Keunggulan tersebut membuat NMC banyak digunakan pada kendaraan yang membutuhkan performa tinggi dan jarak tempuh panjang. Kepadatan energi yang lebih tinggi memungkinkan produsen mendapatkan kapasitas baterai besar tanpa harus meningkatkan bobot baterai secara berlebihan.
Sebaliknya, LFP umumnya memiliki kepadatan energi lebih rendah. Konsekuensinya, untuk mendapatkan kapasitas energi yang sama, paket baterai LFP dapat membutuhkan ukuran atau bobot lebih besar.
Namun, perkembangan teknologi membuat kesenjangan tersebut terus berubah. Pengembangan material katoda dan desain sel memungkinkan baterai LFP memiliki kepadatan energi yang semakin tinggi.
Bukan Berarti NMC Tidak Aman
Perbedaan karakteristik LFP dan NMC tidak berarti kendaraan dengan baterai NMC otomatis tidak aman. Keselamatan baterai kendaraan listrik merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari desain sel, kualitas produksi, sistem pendinginan, Battery Management System (BMS), perlindungan terhadap benturan, hingga sistem pengamanan ketika terjadi kerusakan.
Bahkan baterai dengan karakter kimia yang lebih stabil tetap dapat mengalami masalah apabila terjadi kerusakan fisik, kesalahan pengisian, cacat produksi, atau kegagalan sistem pengendalian. Karena itu, membandingkan keamanan LFP dan NMC hanya berdasarkan nama kimianya tidak cukup untuk menentukan tingkat keselamatan sebuah kendaraan listrik.
LFP Punya Keunggulan dari Sisi Umur Pakai
Selain stabilitas termal, LFP dikenal memiliki siklus hidup yang panjang. Karakter tersebut menjadi keuntungan bagi kendaraan yang digunakan secara intensif karena baterai dapat menjalani lebih banyak siklus pengisian dan pengosongan sebelum mengalami penurunan kapasitas yang signifikan.
LFP juga tidak menggunakan kobalt pada material katodanya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat teknologi tersebut menarik dari sisi biaya dan rantai pasok material.
Departemen Energi AS mencatat bahwa komposisi kimia baterai turut memengaruhi nilai material ketika baterai memasuki tahap daur ulang. Baterai NMC dan NCA memiliki kandungan material bernilai seperti kobalt, sedangkan LFP tidak mengandung kobalt.
Jadi, LFP atau NMC Lebih Aman?
Jika indikator yang digunakan adalah stabilitas termal dan kecenderungan terhadap thermal runaway, LFP memiliki keunggulan dibandingkan NMC. Namun, hal tersebut tidak berarti semua kendaraan listrik dengan baterai LFP pasti lebih aman daripada kendaraan dengan NMC.
Keselamatan kendaraan listrik juga sangat bergantung pada bagaimana baterai tersebut dirancang dan diintegrasikan ke dalam kendaraan. Sistem manajemen baterai berfungsi memantau berbagai parameter seperti temperatur, tegangan, arus, dan kondisi sel. Sistem pendinginan juga berperan menjaga baterai tetap berada dalam rentang temperatur operasional yang aman.
Dengan demikian, LFP dapat disebut memiliki karakter kimia yang lebih stabil, tetapi keselamatan kendaraan listrik secara keseluruhan tetap merupakan hasil dari kombinasi teknologi baterai, sistem proteksi, desain kendaraan, kualitas produksi, serta standar keselamatan.
Meningkatnya penggunaan LFP di pasar kendaraan listrik Indonesia menunjukkan bahwa teknologi ini semakin menjadi pilihan utama produsen. Namun, konsumen tetap perlu melihat kendaraan secara keseluruhan dan tidak menjadikan jenis baterai sebagai satu-satunya indikator keselamatan.
( berbagai sumber)
