Chatbot AI untuk Curhat Remaja Jadi Sorotan, Studi Ungkap Risiko Masalah Emosional
Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk mencari dukungan emosional pada anak dan remaja mulai mendapat perhatian serius. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics menemukan adanya hubungan antara penggunaan AI untuk kebutuhan emosional dan meningkatnya masalah emosional pada kelompok usia tersebut. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID — Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk mencari dukungan emosional pada anak dan remaja mulai mendapat perhatian serius. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics menemukan adanya hubungan antara penggunaan AI untuk kebutuhan emosional dan meningkatnya masalah emosional pada kelompok usia tersebut.
Penelitian itu melibatkan hampir 40.000 siswa kelas empat hingga kelas 12 di Ontario, Kanada. Hasilnya menunjukkan lebih dari 21 persen responden mengaku menggunakan AI generatif untuk tujuan afektif, seperti mencari dukungan emosional atau meminta saran mengenai persoalan dengan teman maupun keluarga.
Para peneliti menemukan bahwa siswa yang menggunakan chatbot untuk kebutuhan tersebut memiliki skor masalah emosional yang lebih tinggi. Mereka juga hampir dua kali lebih mungkin menunjukkan gejala tekanan emosional yang tergolong signifikan secara klinis.
Hubungan tersebut terlihat lebih kuat pada sejumlah kelompok, termasuk siswa perempuan dan mereka yang memiliki identitas gender beragam. Pola serupa juga ditemukan pada siswa kulit hitam, masyarakat adat, serta kelompok rasial lainnya.
Studi tersebut turut menemukan bahwa anak muda yang mencari dukungan emosional melalui AI lebih sering melaporkan rasa kesepian dan merasa dirinya tidak berarti bagi orang lain. Bahkan setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan, hubungan antara penggunaan chatbot AI dan masalah emosional tetap terlihat.
Direktur divisi psikiatri anak dan remaja di Northwell Zucker Hillside Hospital dan Cohen Children’s Medical Center, New York, Dr. Consuelo Cagande, menyebut temuan tersebut sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Cagande tidak terlibat langsung dalam penelitian.
“Anak muda secara bertahap menggantikan kelompok sosial tradisional dan model pengobatan tradisional dengan chatbot dan algoritma ini,” kata Cagande dikutip pada Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan utama terletak pada belum adanya perlindungan, tindak lanjut klinis, serta sistem penanganan krisis yang memadai bagi pengguna chatbot yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Cagande menilai sebagian remaja mungkin memilih berbicara dengan AI karena merasa lebih aman dan tidak takut mendapat penilaian dari orang lain. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pendampingan dan literasi digital agar anak memahami bahwa informasi dari chatbot tidak selalu benar.
Cagande menegaskan AI generatif sebaiknya hanya menjadi alat pelengkap, bukan tempat pertama untuk mencari bantuan ketika menghadapi tekanan emosional atau persoalan kesehatan mental.
Sebagai gantinya, anak dan remaja dianjurkan membicarakan masalah yang mereka hadapi kepada orang dewasa tepercaya, dokter, guru, atau konselor sekolah. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, tenaga profesional dapat membantu memberikan rujukan yang sesuai.
“Jika seorang anak memang menggunakan chatbot AI, mereka harus memberi tahu tenaga klinis mengenai informasi yang mereka dapatkan dari chatbot tersebut terkait masalah kesehatan mental mereka dan tidak serta-merta menganggapnya sebagai saran akhir,” ujar Cagande menandaskan.
(Devona R / Sumber: New York Post)
