Menlu Iran Sebut Lebih dari 5.000 Orang Warga Tewas dalam Serangan AS-Israel
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan lebih dari 5.000 orang, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak, tewas dalam "agresi" Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, demikian dilansir media Iran pada Sabtu (26/9/2026) dini hari WIB. (Foto: Antara/Xinhua)
GEBRAK.ID — Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi menyebut lebih dari 5.000 orang tewas selama serangkaian serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Menurut Araghchi, korban tewas tersebut termasuk ratusan perempuan dan anak-anak.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi kepada wartawan di New York pada 25 September 2026, di tengah berlangsungnya Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pernyataannya, ia menyebut serangan tersebut sebagai “agresi” AS dan Israel terhadap Iran.
“Selama agresi AS-Israel terhadap Iran, lebih dari 5.000 orang telah tewas, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak,” kata Araghchi dalam pernyataan yang dipublikasikan PBB, Minggu (27/9/2026).
Araghchi juga menuding sejumlah fasilitas sipil menjadi sasaran serangan. Ia menyebut kawasan permukiman, sekolah, rumah sakit, fasilitas energi, fasilitas olahraga, lokasi budaya, hingga infrastruktur transportasi.
Menlu Iran turut menyinggung tewasnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat politik dan militer senior. Araghchi menyebut pembunuhan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Tuduhan tersebut merupakan posisi pemerintah Iran dan belum menjadi kesimpulan hukum internasional.
Angka korban yang disampaikan Araghchi juga perlu dibaca sebagai klaim dari pemerintah Iran. PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) sebelumnya mencatat lebih dari 2.100 warga sipil tewas hingga 30 Maret 2026 berdasarkan data Kementerian Kesehatan Iran.
Angka tersebut mencakup periode sejak serangan 28 Februari dan merupakan data pada waktu yang berbeda dari klaim Araghchi pada September 2026.
Konflik AS-Iran bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Perang kemudian mendorong gangguan serius terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Upaya penghentian pertempuran sempat menghasilkan Islamabad Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati pada Juni. Dokumen tersebut memuat komitmen penghentian operasi militer dan membuka ruang negosiasi selama maksimal 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir.
Namun, kesepakatan tersebut tidak menghasilkan penyelesaian permanen. Pada Agustus, batas waktu 60 hari berlalu tanpa kesepakatan final. Perbedaan mengenai Selat Hormuz, sanksi, dan isu nuklir menjadi bagian dari persoalan yang menghambat proses berikutnya.
Ketegangan pun kembali meningkat. Reuters melaporkan pada September bahwa serangan dan aksi balasan antara AS dan Iran masih berlangsung, sementara upaya diplomatik terus dilakukan di tengah Sidang Umum PBB.
Dalam perkembangan terbaru, Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap membawa isu konflik, hukum internasional, program nuklir, sanksi, dan keamanan Selat Hormuz ke forum diplomasi internasional. Situasi tersebut membuat jumlah korban dan perkembangan konflik masih menjadi perhatian dunia.
(A. Rayyan K/Sumber: Xinhua, Reuters)
