Ana/Meilysa Tersingkir di Denmark Open 2026 karena Sulit Atasi Tempo Permainan Lawan
Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari saat bertanding dalam babak pertama Denmark Open 2026 di pertandingan yang berlangsung di SJF Arena, Odense, Denmark, Selasa (13/10/2026). (Foto: PBSI)
GEBRAK.ID — Pasangan ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, harus mengakhiri langkah pada babak pertama Denmark Open 2026. Mereka mengakui kesulitan membaca tempo permainan lawan menjadi salah satu penyebab kekalahan dari wakil Amerika Serikat, Lauren Lam/Allison Quynh.
Dalam pertandingan yang berlangsung di SJF Arena, Odense, Denmark, Selasa (13/10/2026), Ana/Meilysa kalah melalui pertarungan tiga gim dengan skor 21-9, 20-22, 14-21. Hasil tersebut membuat unggulan kedelapan turnamen itu gagal melanjutkan perjuangan ke babak berikutnya.
Meilysa mengungkapkan, lawan tampil konsisten dengan pola permainan yang menyulitkan. Selain itu, kekuatan pukulan Lauren/Allison juga menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan Indonesia tersebut.
“Mereka fokus dan konsisten dalam menerapkan pola permainan. Power mereka juga besar. Itu menyulitkan kami,” ujar Meilysa dalam keterangan PBSI.
Menurut Meilysa, dirinya dan Ana juga belum mampu mengambil keputusan secara tepat dalam sejumlah momen penting. Mereka terkadang terlalu terburu-buru ketika menentukan arah permainan, sehingga lawan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan serangan.
Baca Juga
Situasi tersebut semakin terasa ketika pertandingan memasuki gim kedua dan ketiga. Setelah unggul jauh pada gim pembuka, Ana/Meilysa kehilangan kendali permainan dan gagal mempertahankan keunggulan hingga akhir pertandingan.
Ana menilai, karakter laju shuttlecock turut memengaruhi strategi yang harus diterapkan di lapangan. Kondisi tersebut menuntut kedua pasangan lebih siap menghadapi reli cepat dan adu pukulan.
“Dengan laju shuttlecock yang kencang, mainnya memang harus banyak mengadu. Di saat mengadu itu ada momen kami terlalu terburu-buru dan itu menguntungkan mereka,” kata Ana.
Ana menambahkan, persoalan konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi. Menurutnya, pola permainan yang sudah berjalan baik terkadang mendadak berubah sehingga membuat mereka kesulitan menjaga momentum.
“Kami belum konsisten dalam menerapkan pola, kadang sudah enak main malah tiba-tiba hilang, tiba-tiba berubah. Ini yang harus cepat kami cari solusinya,” kata Ana.
Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi bagi Ana/Meilysa untuk memperbaiki pengambilan keputusan, menjaga kesabaran dalam reli, serta mempertahankan strategi sepanjang pertandingan. Kemampuan beradaptasi dengan tempo dan kondisi permainan lawan juga perlu mereka tingkatkan agar dapat tampil lebih stabil pada turnamen berikutnya.
(A. Rayyan K/Sumber: PBSI)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID