Bahlil Buka Suara soal Impor Minyak AS, Harga dan Volume Masih Dirahasiakan

Bahlil - ESDM - 2

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dalam acara Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) yang digelar di Jakarta, Senin (12/10/2026). (Foto: ANTARA/Putu Indah Savitri)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui Indonesia telah mulai menerima impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS). Namun, pemerintah belum mengungkapkan volume maupun nilai pembelian minyak tersebut di tengah upaya mencari alternatif pasokan energi global.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil kepada awak media seusai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Senin (12/10/2026). “Adinda kok tahu banget. Ya, makasih, ya,” kata Bahlil saat dikonfirmasi mengenai pembelian minyak mentah dari AS.

Bahlil menegaskan, pemerintah terbuka terhadap pasokan minyak mentah dari berbagai negara. Menurut dia, pertimbangan utama dalam menentukan sumber impor adalah efisiensi harga, kepentingan nasional, dan kepatuhan terhadap peraturan. “Bagi kita, bagi kita adalah dari manapun sumber minyaknya, selama itu efisien untuk kebaikan negara, dan tidak melanggar aturan maka itu akan menjadi prioritas negara,” tegas Bahlil.

Impor Minyak Mentah AS Tercatat dalam Data BPS
Impor minyak mentah dari AS bukan hanya muncul dalam pernyataan Bahlil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa AS telah menjadi salah satu negara pemasok minyak mentah ke Indonesia. Berdasarkan data impor dengan kode HS 27090010 atau crude petroleum, Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sebanyak 134.430 metrik ton senilai US$74,23 juta pada Agustus 2026. Secara keseluruhan, impor minyak mentah Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 11,69 juta metrik ton.

Nigeria menjadi pemasok terbesar dengan volume 2,89 juta metrik ton. Arab Saudi menempati posisi kedua dengan 2,02 juta metrik ton, disusul Angola dengan sekitar 1,93 juta metrik ton. Data tersebut memperlihatkan bahwa pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari sejumlah negara. Kehadiran AS sebagai salah satu pemasok menjadi bagian dari upaya diversifikasi sumber impor di tengah dinamika pasar energi internasional.

Data resmi perdagangan luar negeri dapat ditelusuri melalui portal ekspor-impor BPS. Berdasarkan data BPS, berikut daftar negara pemasok minyak mentah ke Indonesia sepanjang Januari—Agustus 2026:

  1. Nigeria: 2.887.024 metrik ton
  2. Arab Saudi: 2.020.705 metrik ton
  3. Angola: 1.928.013 metrik ton
  4. Brasil: 1.447.381 metrik ton
  5. Gabon: 695.155 metrik ton
  6. Malaysia: 513.747 metrik ton
  7. UAE: 284.154 metrik ton
  8. Cote D’Ivoire: 240.265 metrik ton
  9. Equatorial Guinea: 237.388 metrik ton
  10. Kazakhstan: 220.361 metrik ton
  11. Algeria: 190.589 metrik ton
  12. Guyana: 139.371 metrik ton
  13. Azerbaijan: 135.958 metrik ton
  14. Cameroon: 135.489 metrik ton
  15. Amerika Serikat (AS): 134.426 metrik ton
  16. Libya: 132.705 metrik ton
  17. Congo: 119.768 metrik ton
  18. Rusia: 103.670 metrik ton
  19. Papua Nugini: 81.888 metrik ton
  20. Brunei: 43.461 metrik ton

Indonesia Kehilangan 25 Persen Sumber Impor Minyak
Langkah mencari pasokan alternatif dilakukan ketika Indonesia menghadapi gangguan pada sebagian sumber impor minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya mengungkapkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 25 persen sumber impor sejak konflik di kawasan tersebut terjadi. “Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak Ibu sekalian. Nah, apa yang dilakukan sekarang? [Strategi] yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting,” kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (5/10/2026).

Menurut Laode, situasi tersebut mengharuskan pemerintah mencari alternatif pasokan minyak mentah di pasar global agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.

Pertamina Berburu Pasokan Minyak ke Negara Lain
Laode menjelaskan bahwa mekanisme pencarian pasokan minyak mentah mengalami perubahan. Pemerintah tidak lagi hanya menunggu penawaran dari pemasok melalui mekanisme tender seperti sebelumnya. Sebaliknya, PT Pertamina (Persero) secara aktif mencari negara yang memiliki kelebihan pasokan minyak mentah, kemudian melakukan pendekatan untuk membeli minyak secara langsung.

Strategi tersebut ditujukan untuk memperluas pilihan sumber pasokan sekaligus menjaga ketersediaan minyak bagi kebutuhan dalam negeri. Dalam situasi pasar energi yang dinamis, diversifikasi negara pemasok menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber impor tertentu. Meski demikian, efektivitas strategi ini tetap bergantung pada harga pembelian, ketersediaan pasokan, biaya pengiriman, dan kesesuaian minyak mentah dengan kebutuhan pengolahan di dalam negeri.

Harga dan Volume Impor Terbaru Masih Rahasia
Meski mengonfirmasi masuknya minyak mentah dari AS, Bahlil belum memberikan rincian mengenai volume dan harga pembelian terbaru yang dimaksud dalam keterangannya pada Senin (12/10/2026).

Karena itu, belum dapat dipastikan apakah pengiriman yang dikonfirmasi Bahlil merupakan bagian dari transaksi yang tercatat dalam data BPS Agustus 2026 atau mencakup pengadaan pada periode berikutnya.

Pemerintah menegaskan bahwa keputusan memilih pemasok harus mempertimbangkan efisiensi dan kepentingan negara. Keterbukaan informasi mengenai volume, harga, dan periode pengiriman akan membantu publik menilai dampak kebijakan tersebut terhadap ketahanan energi dan biaya pengadaan minyak nasional. (*)

(Zaky Al Hamzah/bloombergtechnoz)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID