Bukan Cuma Blue Archive, 2 Game Anime Baru Ini Jadi Sorotan di Tokyo Game Show 2026

Bukan Cuma Blue Archive, 2 Game Anime Baru Ini Jadi Sorotan di Tokyo Game Show 2026. (Foto: Anime News Network).

Bukan Cuma Blue Archive, 2 Game Anime Baru Ini Jadi Sorotan di Tokyo Game Show 2026. (Foto: Anime News Network).

GEBRAK.ID — Tokyo Game Show 2026 tidak hanya menghadirkan berbagai pengumuman untuk konsol dan PC, tetapi juga menjadi ajang untuk melihat perkembangan sejumlah game mobile yang tengah dinantikan para penggemar anime dan budaya otaku.

Di tengah padatnya periode perilisan Fire Emblem: Fortune’s Weave, sejumlah pengumuman dari Tokyo Game Show tahun ini memang sempat terlewat. Namun, setelah menelusuri berbagai informasi yang muncul dari acara tersebut, ada dua game mobile dan PC yang cukup menarik perhatian, yakni Astrae Oratio dan Fareidolia.

Keduanya memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan Blue Archive, game gacha bishoujo besutan Nexon yang telah menjadi salah satu judul besar dalam ranah game bertema anime.

Astrae Oratio Tampilkan Potensi sebagai Penerus Blue Archive

Dibandingkan Fareidolia, Astrae Oratio saat ini terlihat lebih siap meluncur. Game besutan Dynamis One dan diterbitkan oleh NC tersebut baru saja menjalani periode closed beta dalam waktu singkat.

Perilisan Astrae Oratio sendiri tampaknya ditargetkan berlangsung pada akhir 2026 atau awal 2027. Pihak publisher juga telah memulai kampanye promosi secara lebih serius dengan menghadirkan berbagai trailer dan materi pratinjau untuk versi Jepang maupun Global/Inggris.

Salah satu daya tarik utama Astrae Oratio adalah latar belakang tim pengembangnya. Dynamis One didirikan oleh sejumlah mantan anggota penting tim pengembangan Blue Archive di Nexon, termasuk mantan director, lead scenario writer, art director, serta sejumlah kreator lainnya.

Karena itu, sejak pertama kali diperkenalkan dengan nama Project AT sebelum akhirnya mendapatkan judul resmi Astrae Oratio, game ini memang sudah menarik perhatian penggemar Blue Archive.

Perjalanan pengembangnya juga tidak lepas dari kontroversi. Proyek sebelumnya, Project KV, dibatalkan hanya sekitar satu minggu setelah diumumkan. Game tersebut memicu perdebatan karena dinilai memiliki banyak kemiripan dengan Blue Archive.

Kontroversi tersebut kemudian berkembang lebih jauh. Pihak berwenang Korea Selatan diketahui melakukan penyelidikan terhadap jajaran pimpinan Dynamis One terkait dugaan pengambilan materi pengembangan secara tidak sah dari proyek Nexon yang belum dirilis, MX Blade. Hingga kini, belum ada hasil penyelidikan resmi yang diumumkan kepada publik.

Kini, Astrae Oratio mulai mendapat kesempatan untuk dinilai berdasarkan gamenya sendiri.

Nuansa Tokyo Era Heisei

Dari berbagai rekaman closed beta yang beredar, Astrae Oratio terlihat memiliki identitas visual yang cukup kuat. Jika Blue Archive mengandalkan kota futuristis Kivotos sebagai latar, Astrae Oratio justru mengambil inspirasi dari Tokyo pada masa awal era Heisei, yang dimulai pada 1989.

Konsep tersebut menghadirkan berbagai elemen nostalgia, mulai dari mobil dengan desain kotak, perangkat elektronik lawas, monitor CRT, televisi tabung, headphone dengan bantalan busa, hingga berbagai tampilan Tokyo Tower.

Desain karakter dan visual gamenya sendiri memadukan gaya anime modern dengan elemen desain karakter yang mengingatkan pada karya-karya populer yang tumbuh bersama generasi milenial Jepang.

Bahkan, musik menu utama yang digunakan oleh karakter tutorial pada bagian awal permainan terdengar memiliki nuansa yang mengingatkan pada opening Cardcaptor Sakura.

Dari sisi gameplay, Astrae Oratio tampaknya mengambil sejumlah inspirasi dari sistem pertarungan Honkai: Star Rail, tetapi menggabungkannya dengan mekanisme pergantian karakter dan elemen pertarungan real-time.

Pemain harus menyerang musuh sambil memperhatikan pola serangan lawan. Mekanisme dodge dan parry berbasis timing juga menjadi bagian dari sistem pertarungan, sehingga permainan tidak hanya bergantung pada statistik karakter dan sistem gacha.

Dengan Blue Archive yang belakangan dianggap mengalami periode yang kurang stabil, Astrae Oratio berpotensi menjadi salah satu pesaing terdekatnya. Terlebih lagi, latar belakang para pengembang membuat game ini memiliki hubungan yang cukup erat dengan formula yang sebelumnya membawa Blue Archive menuju kesuksesan.

Fareidolia Hadir dengan Pendekatan Berbeda

Jika Astrae Oratio terlihat berusaha merebut perhatian pemain yang sebelumnya menikmati Blue Archive, Fareidolia justru tampaknya ingin membangun tempatnya sendiri.

Game besutan Studio Io Division dari Nexon ini masih menyimpan banyak informasi yang belum diungkap. Namun, demo yang dapat dimainkan di Tokyo Game Show memberikan gambaran bahwa Fareidolia memiliki pendekatan gameplay yang cukup berbeda dari Blue Archive.

Jika Blue Archive menggunakan sistem pertarungan isometrik dengan mekanisme semi-otomatis dan kontrol pemain yang lebih banyak berfokus pada penggunaan skill, Fareidolia menawarkan sistem tactical turn-based.

Pertarungannya mengingatkan pada game seperti Valkyria Chronicles. Pemain dapat menggerakkan unit secara lebih bebas di area pertempuran, sementara posisi karakter menjadi faktor penting untuk menentukan efektivitas kemampuan mereka.

Demo Tokyo Game Show sendiri masih terbatas pada bagian pertarungan. Karena itu, belum banyak informasi yang bisa diketahui mengenai aktivitas di luar pertempuran.

Namun, sejumlah teaser dan laporan awal menunjukkan bahwa Fareidolia juga akan memiliki elemen life simulation. Pemain nantinya akan tinggal bersama sejumlah karakter di Twilight Hall, sebuah asrama yang menjadi tempat untuk membangun hubungan dengan anggota tim.

Para karakter tersebut akan membantu pemain menghadapi berbagai masalah di dunia bernama Anima City.

Anima City sendiri memadukan unsur visual era Showa dengan kehidupan modern. Teknologi dan arsitektur bergaya retro hadir berdampingan dengan smartphone, mesin penjual otomatis, serta berbagai elemen kehidupan masa kini.

Fitur Voice Recognition Jadi Daya Tarik

Salah satu fitur Fareidolia yang cukup menarik adalah kemungkinan penggunaan voice recognition dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut laporan sejumlah media Jepang, pemain nantinya dapat memanggil karakter menggunakan suara ketika mereka sedang beraktivitas di dalam game. Pemain juga disebut dapat memilih dialog dengan membacakan pilihan yang tersedia secara langsung.

Jika fitur tersebut dapat berjalan dengan baik, sistem ini berpotensi memberikan tingkat interaksi yang lebih mendalam dibandingkan game bishoujo gacha pada umumnya.

Biasanya, interaksi dengan karakter dalam genre ini lebih banyak berlangsung melalui animasi yang telah ditentukan atau cerita sampingan. Voice recognition dapat membuat hubungan antara pemain dan karakter terasa lebih interaktif.

Meski demikian, Fareidolia tampaknya masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memiliki jadwal perilisan yang benar-benar jelas.

Love and Deepspace Kembali Jadi Perbincangan

Selain Astrae Oratio dan Fareidolia, game mobile Love and Deepspace juga sempat menarik perhatian melalui kampanye promosinya.

Game tersebut memang dikenal cukup agresif dalam menjalankan promosi melalui media sosial, terutama dengan materi yang menggoda dan menggambarkan interaksi romantis dengan para karakter.

Namun, promosi terbaru mereka justru menimbulkan perhatian karena alasan yang berbeda.

Pada 29 September, akun resmi Love and Deepspace mengadakan sebuah event berbasis web bertajuk Drink Event. Dalam event tersebut, pemain diminta memberikan saran bahan yang dapat digunakan untuk membuat sejumlah mocktail bernama Shimmering Blend.

Minuman tersebut pada dasarnya menjadi bagian dari promosi dan undian ringan yang memungkinkan pemain berinteraksi dengan karakter favorit mereka.

Masalahnya muncul ketika beberapa bahan yang disarankan untuk minuman tersebut ternyata merupakan tanaman beracun di dunia nyata.

Datura dan Fire Lily, yang digunakan sebagai garnish dalam dua minuman virtual, diketahui memiliki sifat toksik. Meski garnish pada umumnya tidak dimaksudkan untuk dimakan, keberadaan kedua tanaman tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran apabila ada pemain yang mencoba meniru resep tersebut di dunia nyata.

Unggahan tersebut kemudian mendapatkan peringatan melalui fitur Community Notes di X. Akun resmi Love and Deepspace juga mengeluarkan Safety Notice yang mengingatkan pemain agar tidak mencoba membuat atau mengonsumsi resep tersebut dalam kehidupan nyata.

Kontroversi tersebut pada akhirnya tidak berkembang menjadi masalah besar, tetapi cukup disayangkan karena konsep minuman bertema game sebenarnya dapat menjadi materi promosi yang menarik.

Beberapa tahun lalu, tren membuat makanan yang terinspirasi dari game dan anime sempat berkembang cukup pesat. Para penggemar mencoba membuat kembali makanan fiksi seperti LeBlanc Curry dari Persona 5 maupun ohagi dari Sekiro.

Dengan sedikit penyesuaian, promosi semacam itu sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi pengembang untuk menciptakan pengalaman yang lebih interaktif tanpa membuat penggemar mempertanyakan aspek keamanannya.

Tokyo Game Show 2026 pun menunjukkan bahwa persaingan di pasar game mobile bertema anime semakin beragam. Astrae Oratio datang dengan hubungan kuat terhadap warisan Blue Archive, sementara Fareidolia mencoba menawarkan formula tactical RPG dan life simulation yang berbeda. Di sisi lain, Love and Deepspace terus menunjukkan bagaimana kreativitas pemasaran dapat menjadi senjata penting untuk mempertahankan perhatian pemain. :::

Kalau ingin, saya juga bisa mengubah artikel ini menjadi versi yang lebih “media gaming Indonesia”, dengan judul yang lebih click-worthy, pembuka yang lebih kuat, dan paragraf yang lebih pendek agar nyaman dibaca di HP.

(Damar Pratama/Sumber: Anime News Network 8 Oktober 2026)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID