Hery Haryanto Azumi Sambut Andrea Bocelli di Indonesia: Musik Bisa Jadi Jembatan Peradaban
Inisiator QUTB GLOBAL, Hery Haryanto Azumi. (Foto: Istimewa)
GEBRAK.ID — Kedatangan maestro tenor dunia Andrea Bocelli ke Indonesia pada akhir Oktober hingga awal November 2026 tidak hanya menjadi momentum bagi pecinta musik klasik, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang peran kebudayaan dalam membangun perdamaian dunia.
Inisiator QUTB GLOBAL, Hery Haryanto Azumi, menilai musik memiliki kekuatan untuk mempertemukan manusia dari berbagai bangsa dan latar belakang di tengah konflik serta ketegangan geopolitik yang masih mewarnai dunia.
Menurut Hery, musik tidak sekadar menjadi hiburan atau pertunjukan seni. Lebih dari itu, musik dapat berfungsi sebagai instrumen diplomasi kebudayaan yang membuka dialog, menumbuhkan empati, dan menjembatani perbedaan identitas.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, perjumpaan melalui kebudayaan dinilai penting untuk memperkuat sikap saling menghormati dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Musik menjadi jembatan, kebudayaan menjadi ruang perjumpaan, dan kemanusiaan menjadi tujuan bersama,” demikian pesan yang ditegaskan Hery dalam pernyataan QUTB GLOBAL.
Baca Juga
Melalui visi “Poros Islam untuk Peradaban Kemanusiaan”, QUTB GLOBAL mendorong pertemuan nilai spiritual, intelektual, dan kebudayaan sebagai fondasi untuk membangun peradaban yang inklusif, berkeadilan, serta menghormati martabat manusia.
Hery juga memandang Indonesia memiliki peluang untuk berperan lebih aktif dalam dialog kebudayaan dunia. Keragaman masyarakat, tradisi, dan kekayaan spiritual Nusantara dapat menjadi modal untuk membangun hubungan yang terbuka dengan bangsa-bangsa lain.
Bagi Direktur Eksekutif QUTB GLOBAL ini, dialog antarperadaban bukan berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, setiap pihak perlu bersedia mendengarkan dan memahami identitas satu sama lain.
Andrea Bocelli Kenang Kehangatan Publik Indonesia
Andrea Bocelli sendiri menyimpan kenangan positif tentang penonton Indonesia. Penyanyi tenor asal Italia tersebut pernah tampil di Jakarta pada 2011 dan mengingat audiens Tanah Air sebagai penikmat musik yang hangat serta penuh perhatian.
“Saya pernah berjumpa langsung dengan publik Indonesia, dan kenangan yang tertinggal adalah mereka merupakan audiens yang sangat hangat, penuh perhatian, dan sangat menghargai musik,” kata Bocelli dalam konferensi pers yang diikuti secara daring dari Jakarta, Sabtu.
Bocelli dijadwalkan menggelar konser untuk memperingati 30 tahun album “Romanza” di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 2026, kemudian melanjutkan pertunjukan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Album “Romanza” dirilis pada 1997. Dalam rangkaian tur peringatan tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang disinggahi Bocelli.
Bocelli menjelaskan, pemilihan lokasi konser diajukan oleh agensi manajemennya, tetapi keputusan tersebut mendapat persetujuan penuh darinya. “Namun, ini adalah keputusan yang sepenuhnya saya sepakati dan dengan senang hati saya jalankan, karena saya menyimpan kenangan yang sangat indah tentang negara Anda,” ujarnya.
Bocelli mengaku belum mempelajari bahasa Indonesia maupun mengenal lagu-lagu Indonesia. Meski demikian, ia berkomitmen memberikan penampilan terbaik bagi penonton Tanah Air.
Bocelli juga menyambut antusias kesempatan tampil di kawasan Candi Borobudur yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. “Saya berharap dan percaya bahwa perpaduan antara musik yang baik dan keindahan alam bersejarah ini akan bersatu secara sempurna,” kata dia.
Bagi Hery, momentum ini diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan seni. Kehadiran Bocelli juga dapat mengingatkan masyarakat bahwa musik dan kebudayaan mampu mempertemukan perbedaan sekaligus memperkuat ikhtiar membangun dunia yang lebih damai dan bermartabat.
Penolakan MUI
Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah untuk segera membatalkan rencana konser penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur pada 31 Oktober dan di Jakarta pada 3 November 2026.
Desakan tegas ini disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, sebagai bentuk konsistensi penolakan terhadap figur-figur internasional yang memiliki rekam jejak mendukung Zionisme, menyusul langkah pemerintah yang sebelumnya membatalkan konser musisi asal Amerika Serikat, Israel Houghton.
“Kali ini kembali saya ingin menegaskan bahwa rencana konser Andrea Bocelli harus dibatalkan demi menjaga prinsip keberpihakan kita pada kemanusiaan,” ujar Sudarnoto dalam keterangannya di laman resmi MUI, Sabtu (10/10/2026). “Jangan berikan panggung kepada siapa pun yang ikut mendanai pembunuh warga Gaza dan Palestina.”
Sudarnoto merujuk pada Fatwa MUI yang mengharamkan segala bentuk dukungan terhadap penjajahan Israel atas Palestina. Penolakan keras terhadap musisi berusia 68 tahun ini berakar dari deretan rekam jejaknya yang dinilai secara terbuka mendukung Israel dan militernya.
Penyelidikan atas riwayat aktivitas Bocelli mencatat keterlibatannya dalam acara penggalangan dana khusus untuk menyokong tentara pendudukan militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 2010 silam.
Selain menyumbangkan suaranya untuk pengumpulan dana militer, Bocelli juga secara terbuka mengabaikan seruan boikot global dari aktivis pro-Palestina dengan menggelar konser megah di Stadion Tel Aviv pada 2022 yang turut dihadiri langsung oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
(Samsul Muarif/Sumber: QUTB GLOBAL, MUI)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID