Jonatan Christie Turun dari Puncak Setelah Sebulan Jadi Pebulu Tangkis Nomor 1 Dunia
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie. (Foto: PBSI)
GEBRAK.ID – Jonatan Christie harus melepas posisi nomor satu dunia setelah hanya sebulan menikmati takhta tertinggi tunggal putra. Pebulu tangkis Indonesia tersebut kini turun dua tingkat ke peringkat ketiga dalam pembaruan ranking BWF.
Kunlavut Vitidsarn dan Christo Popov menjadi dua pemain yang menggeser Jonatan dari posisi teratas. Perubahan itu sekaligus mengakhiri periode singkat Jojo, sapaan akrab Jonatan, sebagai pebulu tangkis nomor satu dunia.
Jonatan mulai menempati posisi puncak pada pekan ke-35 atau 25 Agustus 2026. Namun, pada pekan ke-40 yang diperbarui 29 September 2026, namanya sudah turun ke peringkat ketiga.
Penurunan tersebut tidak terlepas dari hasil Jonatan dalam beberapa turnamen terakhir. Ia belum mampu menembus semifinal pada empat ajang, yakni Japan Open, China Open, Kejuaraan Dunia, dan China Masters.
Situasi semakin berat karena Jonatan juga kehilangan poin dari gelar Korea Open yang diraihnya pada tahun sebelumnya. Sistem ranking BWF membuat hasil turnamen pada periode sebelumnya turut memengaruhi posisi pemain ketika poin lama harus diperbarui.
Peringkat ketiga pun belum sepenuhnya aman. Jonatan memiliki poin besar yang harus dipertahankan dari Denmark Open dan Hylo Open 2025. Pada kedua turnamen tersebut, ia berhasil menjadi juara.
Artinya, hasil Jonatan pada turnamen-turnamen mendatang akan berpengaruh terhadap posisinya di papan atas ranking dunia. Jika gagal mengulang pencapaian tahun lalu, jumlah poinnya berpotensi berkurang dan membuka peluang bagi pemain lain untuk mendekat.
Penurunan peringkat ini juga datang setelah Jonatan melewati Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan hasil berbeda pada nomor beregu dan perorangan.
Pada nomor tunggal putra, Jonatan terhenti di perempat final setelah kalah dari Loh Kean Yew asal Singapura dengan skor 14-21, 19-21. Kekalahan tersebut terjadi setelah jadwal pertandingan yang sangat padat.
Jonatan menyebut dirinya mengalami penurunan stamina karena baru menyelesaikan laga babak 16 besar sekitar pukul 02.00 dan harus kembali bertanding pada siang harinya.
“Jam dua baru selesai, perjalanan (dari venue ke wisma atlet) 50 menit, baru tidur mungkin 03.30, bangun jam 09.00. Waktu datang ke sini badan terasa oke, tapi pas sudah bertanding powernya, speednya, dipakai sedikit langsung lemas,” ungkap Jonatan.
Meski gagal membawa pulang medali dari nomor perorangan, Jonatan tetap menjadi bagian penting dari keberhasilan Indonesia merebut emas beregu putra. Tim Merah Putih mengalahkan China pada partai final.
Chef de Mission (CdM) Tim Kontingen Indonesia Todotua Pasaribu juga memberikan apresiasi kepada Jonatan bersama sejumlah pemain Indonesia lainnya.
“Terima kasih Jojo, Fajar, Fikri dan Alwi. Kalian adalah pahlawan olahraga Indonesia. Terima kasih atas setiap keringat, perjuangan dan pengabdian yang sudah kalian berikan untuk Merah Putih,” ujar Todotua.
Kini, Jonatan menghadapi persaingan baru untuk mempertahankan posisinya di papan atas ranking BWF sekaligus mengejar kembali takhta nomor satu dunia.
(A. Rayyan K/Sumber: BWF)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID