Karhutla Kalteng dan Sumsel Masih Berat, BNPB Ungkap Kondisi 4 Provinsi Lain

1791964713160

BNPB mencatat sekitar 663 hektare lahan gambut masih terbakar. Penanganan kini dipusatkan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. (Foto: BPBD Kalteng)

GEBRAK.ID,JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Dua provinsi tersebut dinilai masih menghadapi kondisi karhutla yang relatif berat dibandingkan empat provinsi prioritas lainnya, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan situasi karhutla di enam provinsi prioritas saat ini berbeda-beda. “Di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan adalah dua provinsi yang memang menjadi titik poin kita sekarang, titik prioritas kita, lebih prioritas,” kata Berton dalam konferensi pers perkembangan penanganan karhutla di Gedung Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut data BNPB per 13 Oktober 2026, masih terdapat sekitar 663 hektare lahan gambut yang terbakar di sejumlah wilayah yang menjadi perhatian pemerintah. Di Kalimantan Tengah, sekitar 7,8 hektare lahan gambut masih dalam penanganan. Selain itu, kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian serius karena luas area terdampak mencapai sekitar 513 hektare.

Sementara di Sumatera Selatan, BNPB mencatat hampir 50 hektare lahan gambut masih terbakar. Adapun di Jambi terdapat sekitar 74,5 hektare lahan gambut yang juga masih dalam penanganan.

Riau Sudah Tidak Ada Titik Api

Perkembangan lebih positif terlihat di empat provinsi lainnya. BNPB memastikan kondisi di Riau telah membaik. Berdasarkan laporan terbaru, tidak lagi ditemukan titik api maupun laporan lahan terbakar di provinsi tersebut. “Di Riau saat ini tidak ditemukan lagi titik api dan sudah tidak ada lagi yang dilaporkan kepada kami ada titik api dan lahan terbakar,” ujar Berton.

BNPB juga menyebut kondisi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Jambi relatif lebih terkendali dibandingkan Kalteng dan Sumsel. Kebakaran di wilayah tersebut dinilai lebih mudah dipadamkan sehingga perhatian utama saat ini diarahkan pada dua provinsi yang masih menghadapi kondisi lebih berat.

Pemadaman Darat Jadi Andalan

Dalam penanganan karhutla, BNPB mengutamakan operasi pemadaman dari darat. Strategi tersebut dinilai lebih efektif untuk menangani kebakaran, khususnya pada kawasan gambut. Menurut Berton, operasi udara melalui water bombing memang dapat membantu memadamkan api dengan cepat.

Namun, metode tersebut belum tentu mampu menjangkau api yang berada di dalam lapisan gambut. “Yang lebih efektif itu memang dari operasi darat,” kata Berton. Operasi udara tetap dilakukan ketika kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan. BNPB juga mengoptimalkan teknologi modifikasi cuaca atau TMC untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Upaya tersebut sebelumnya juga diterapkan di Sumatera Selatan. Karena kabut asap menyebabkan jarak pandang rendah, BNPB memindahkan sementara pusat operasi modifikasi cuaca dari Palembang ke Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, sejak 9 Oktober 2026.

Kabut Asap Jadi Kendala Operasi Udara

Kondisi jarak pandang menjadi salah satu kendala dalam pemadaman melalui udara, terutama di Kalimantan Tengah. Dalam laporan kepada Presiden Prabowo Subianto pada 12 Oktober 2026, Kepala BNPB Suharyanto menyebut operasi udara di Kalteng sempat terkendala visibilitas yang sangat rendah. Saat itu, helikopter water bombing maupun penerbangan lainnya tidak dapat beroperasi secara optimal.

Pemerintah kemudian memperkuat operasi darat dengan mengerahkan personel gabungan. Sekretariat Negara sebelumnya menyebut lebih dari 60.177 personel gabungan terlibat dalam penanganan karhutla, dengan tingkat keberhasilan pemadaman rata-rata di atas 80 persen dari luas lahan yang baru terbakar setiap harinya.

BNPB berharap kondisi karhutla semakin membaik seiring datangnya musim hujan. Pemerintah sebelumnya memperkirakan awal musim hujan mulai merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026.

Meski demikian, pemerintah tetap meminta seluruh unsur terkait meningkatkan pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas, terutama di wilayah dengan lahan gambut yang memiliki potensi api kembali muncul dari bawah permukaan.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Karhutla, Kebakaran Hutan, Kebakaran Lahan, BNPB, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jambi, Lahan Gambut, Kabut Asap, Bencana Alam, NasionalAlternatif judul yang lebih klikable:Karhutla Makin Mengkhawatirkan, BNPB Fokus Padamkan Api di Kalteng dan SumselBNPB Ungkap Kondisi Terbaru Karhutla: Kalteng-Sumsel Masih Berat, Riau Sudah Aman663 Hektare Lahan Gambut Masih Terbakar, BNPB Prioritaskan Kalteng dan SumselSumber utama dan pembanding yang digunakan: BNPB, Sekretariat Negara, RRI, serta laporan media nasional terbaru mengenai konferensi pers BNPB 14 Oktober 2026. �RRI.co.id +2

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID