PBSI Ingin Jaga Momentum Asian Games 2026, Tur Eropa Jadi Ujian Berikutnya
Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia mengakhiri penantian selama 28 tahun untuk kembali meraih medali emas Asian Games. Kepastian itu diperoleh setelah Indonesia menundukkan China dengan skor 3-2 pada final Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, Kamis (24/9/2026). (Foto: Reuters)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) bertekad menjaga momentum positif para pebulu tangkis Indonesia setelah meraih hasil menjanjikan pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Perhatian PBSI kini beralih ke rangkaian tur Eropa yang akan dimulai pekan depan. Tantangan pertama menanti di Denmark Open 2026, sebelum berlanjut ke French Open dan HYLO Open.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian mengatakan, kondisi fisik pemain menjadi perhatian utama. Waktu pemulihan setelah tampil di Asian Games cukup singkat sehingga tim pelatih harus mengatur kembali program latihan secara cermat.
“Untuk Eropa, kami harapkan momentum ini jangan sampai turun. Itu yang pertama. Tapi kami juga harus menyadari bahwa waktu persiapan kami sangat mepet,” kata Eng Hian di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Tur Eropa akan dibuka melalui Denmark Open 2026 di Odense pada 13-18 Oktober. Turnamen tersebut memiliki level BWF World Tour Super 750.
Selang dua hari setelah Denmark Open berakhir, para pemain langsung menghadapi French Open 2026 di Paris pada 20-25 Oktober yang juga berstatus Super 750.
Rangkaian kemudian berlanjut ke HYLO Open di Saarbrucken, Jerman, pada 27 Oktober hingga 1 November. Turnamen ini berada satu tingkat di bawah dua ajang sebelumnya dengan status BWF World Tour Super 500.
Transisi Jadi Perhatian
Eng Hian menyebut para pemain harus menjalani masa transisi setelah melewati rangkaian Asian Games selama sekitar dua hingga tiga pekan di Jepang.
Indonesia membawa pulang dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dari Aichi-Nagoya. Capaian tersebut tentu layak dirayakan, tetapi PBSI tidak ingin euforia membuat persiapan menuju tur Eropa terganggu.
“Pulang dari Asian Games bukan berarti kami tidak mau ada euforia atau perayaan. Kami tentu menghargainya karena ini merupakan hasil dari jerih payah seluruh atlet dan pelatih,” ujar Eng Hian.
Setelah perayaan, fokus harus segera kembali kepada persiapan pertandingan. PBSI ingin memaksimalkan waktu yang tersedia untuk memulihkan kondisi pemain sekaligus mencegah cedera.
“Tapi bagaimana sekarang kami harus beradaptasi dengan kondisi ini. Ada sela waktu, kami coba maksimalkan. Yang penting adalah bagaimana atlet-atlet ini menjaga kebugaran supaya tidak cedera,” katanya.
Dari sisi mental dan motivasi, Eng Hian menilai para pemain berada dalam kondisi baik setelah mendapatkan hasil positif di Asian Games. Namun, tim pelatih dan tim pendukung tetap harus mengatur beban latihan agar kebugaran atlet terjaga sepanjang tur Eropa.
Target Gelar Tetap Dipasang
PBSI tidak sekadar mengirimkan pemain untuk menjalani rangkaian turnamen. Gelar juara tetap menjadi target, terutama melalui sektor ganda putra dan ganda campuran.
“Tentunya kami mengharapkan tetap membawa gelar. Terutama di ganda putra. Ganda putra dan ganda campuran kami harapkan terus ditingkatkan,” kata Eng Hian.
Harapan tersebut memiliki modal kuat. Ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin baru saja merebut medali emas perorangan Asian Games 2026, sedangkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri membawa pulang medali perunggu.
Sementara itu, sektor ganda campuran juga menyumbangkan prestasi melalui Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang meraih medali perak di Aichi-Nagoya.
Kini, tiga turnamen Eropa menjadi panggung berikutnya bagi Indonesia untuk membuktikan bahwa performa positif di Asian Games bukan sekadar momentum sesaat.
(A. Rayyan K/Sumber: PBSI)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID