Danantara Pangkas 290 BUMN, Prabowo Targetkan Restrukturisasi Terbesar di Dunia
Danantarta reformasi BUMN: Dari 1.074 perusahaan tersisa 300, hemat Rp50 triliun per tahun. (Foto: Danantara)
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus menggencarkan program perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengumumkan bahwa sebanyak 290 BUMN telah resmi ditutup. Penutupan ini merupakan bagian dari transformasi besar-besaran untuk menjadikan pengelolaan BUMN lebih ramping, efektif, dan efisien.
Langkah pemangkasan ini menjadi sorotan utama setelah sebelumnya Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraannya mengungkapkan temuan mengejutkan: jumlah entitas BUMN mencapai 1.074 perusahaan ketika dihitung bersama anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Angka ini jauh melebihi perkiraan awal pemerintah yang hanya sekitar 300-400 perusahaan. Presiden Prabowo pun menyebut restrukturisasi ini mungkin menjadi yang terbesar di dunia.
Target Akhir Tahun: Hanya 300 BUMN
Perampingan 290 BUMN dilakukan melalui berbagai skema, termasuk divestasi, merger, likuidasi, hingga konsolidasi vertikal. Rosan Roeslani memaparkan bahwa proses penyederhanaan ini terus berlanjut dengan target ambisius. “Pada akhir tahun ini, kita targetkan hanya memiliki paling banyak 300 BUMN,” tegas Rosan dalam konferensi pers RAPBN & Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026) . Ini berarti masih ada lebih dari 750 BUMN yang akan ditutup.
Salah satu contoh nyata konsolidasi adalah penggabungan perusahaan manajer investasi yang sebelumnya terpisah di setiap bank BUMN dan lembaga keuangan pemerintah, serta penyatuan pengelolaan 137 unit hotel milik BUMN ke dalam satu grup.
Hemat Rp50 Triliun dari Biaya Overhead
Perampingan ini tidak hanya menyederhanakan struktur, tetapi juga berdampak signifikan pada keuangan negara. Presiden Prabowo mengungkapkan, restrukturisasi ini telah menghasilkan penghematan biaya overhead hingga Rp50 triliun per tahun. Penghematan ini berasal dari berkurangnya belanja untuk gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, sewa kendaraan, serta perjalanan dinas yang dinilai tidak produktif. Pemerintah menargetkan penghematan meningkat menjadi lebih dari Rp70 triliun pada akhir 2026.
“Uang itu sekarang kita gunakan untuk investasi, untuk industrialisasi, untuk peningkatan pelayanan, dan hal-hal yang langsung bermanfaat bagi rakyat,” tegas Presiden Prabowo. Dana hasil penghematan ini akan dialokasikan untuk kebutuhan masyarakat, seperti perbaikan puskesmas, renovasi sekolah, dan penyediaan rumah bagi masyarakat.
Tantangan Berat dan Pandangan Ekonom
Rosan Roeslani mengakui bahwa proses konsolidasi ini bukanlah pekerjaan mudah dan menghadapi tantangan berat dari berbagai aspek hukum, finansial, dan operasional. Meskipun demikian, ia optimistis target tersebut dapat tercapai demi menciptakan BUMN yang lebih produktif.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listyanto, menilai langkah awal Danantara ini positif. Menurutnya, perubahan kelembagaan internal yang cepat merupakan sinyal baik bagi efisiensi BUMN. “Dari yang seribu sekian BUMN, sudah dipangkas dan targetnya nanti akan lebih dipangkas lagi. Itu kan memang secara langsung memberikan dampak efisiensi,” jelas Eko.
Presiden Prabowo menegaskan komitmennya untuk membersihkan tata kelola BUMN. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan pembentukan pengadilan ad hoc untuk mengusut dugaan kesalahan pengurus BUMN dalam 30 tahun terakhir, seraya memberikan opsi amnesti bagi yang mengakui kesalahan dan bertobat.
(berbagai sumber)
