BI Proyeksi The Fed Kembali Kerek Bunga Acuan Akhir 2026

Destry Damayanti - 1

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti saat konferensi pers RDG di Gedung Bank Indonesia, Rabu (23/9/2026). (Foto: Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada kuartal IV-2026.

Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan proyeksi tersebut menyusul terus terjadinya lonjakan harga minyak dunia yang pada posisi 24 September 2026 mencapai US$125,53 per barel yang mana lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel.

Disamping itu, keputusan tersebut juga didukung oleh naiknya suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) dalam keputusan terbarunya. Sebagai catatan, September 2026, The Fed memang menaikkan FFR sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%-4%. “Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV-[2026],” kata Destry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, dikutip Selasa (29/9/2026).

Menurut Destry, prospek kenaikan suku bunga tersebut turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun mata uang negara Asia. “Dan akhirnya ini mendorong penguatan pada dolar terhadap mata uang kuat lainnya di mana DXY mencapai 101,11 dan untuk negara Asia mencapai 96,26,” jelas Destry. Penguatan dolar AS tersebut, pada akhirnya juga berdampak terhadap arus modal global.

Destry mengatakan terjadi kembali pergeseran arus modal dari negara-negara berkembang atau emerging market menuju negara maju, terutama Amerika Serikat. Di tengah kondisi tersebut, BI sebelumnya menyatakan akan memperkuat stabilisasi rupiah dengan mengoptimalkan instrumen intervensi di pasar valuta asing serta memperdalam pasar keuangan domestik.

Di samping itu, bank sentral juga terus mendorong diversifikasi mata uang melalui transaksi local currency transaction (LCT) dan memperkuat likuiditas mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Sebelumnya, pada pertengahan September Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) ke 3,75-4,00% dan merencanakan kenaikan tambahan di akhir tahun ini. Langkah-langkah ini diambil untuk mengendalikan inflasi. “Kami mengurangi kebijakan akomodatif agar kondisi keuangan dan kredit lebih konsisten dengan tujuan utama kami,” kata Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut. “Tindakan hari ini mulai menunjukkan bahwa kami serius tentang hal ini, dan kami akan mewujudkan tujuan stabilitas harga.”

FOMC dengan suara bulat memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan dana federal ke kisaran 3,75% hingga 4% pada Rabu. Ini adalah kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023. (*)

(Zaky Al Hamzah/bloombergtechnoz.com)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID