137 Hotel BUMN Bakal Digabung Danantara, Kejar Efisiensi dan Produktivitas Aset
Rosan Roeslani mengatakan,konsolidasi hotel menjadi bagian dari langkah Danantara merampingkan struktur BUMN dan mengoptimalkan aset negara.(Foto:instagram)
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus melakukan penataan dan konsolidasi perusahaan milik negara untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengoptimalkan produktivitas aset. Terbaru, sekitar 137 hotel milik BUMN akan dikonsolidasikan sebagai bagian dari program penataan sektor hospitality.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan konsolidasi hotel tersebut merupakan salah satu contoh langkah Danantara dalam menyederhanakan struktur bisnis BUMN. “Contohnya misal kita menggabungkan perusahaan aset manajemen yang tadinya setiap bank dan juga financial institution di bawah BUMN punya perusahaan aset manajemen sendiri itu kita gabungkan. Kemudian juga kita terus menggabungkan baik itu rumah sakit, hospital, kurang lebih setelah kita gabungkan ini kita punya ada 137 hotel, kita juga kita gabungkan,” kata Rosan dalam konferensi pers terkait RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027, Jumat (14/8/2026).
Hotel BUMN Disatukan di Bawah InJourney
Konsolidasi hotel sebenarnya telah berjalan sejak pertengahan 2026. Pada Juni lalu, Danantara bersama Badan Pengaturan BUMN mengarahkan penyatuan hotel BUMN ke dalam ekosistem PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Sebanyak 45 hotel dari sejumlah BUMN telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) pada 26 Juni 2026 sebagai bagian dari proses penyatuan aset hotel ke bawah InJourney.
InJourney kemudian mengembangkan pengelolaan hotel tersebut melalui PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality). Dalam proses konsolidasi tahap awal, aset hotel dari sejumlah BUMN, antara lain Adhi Karya, ASDP Indonesia Ferry, Garuda Indonesia, Hutama Karya, Krakatau Steel, Nindya Karya, Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, dan Wijaya Karya, masuk dalam skema penataan.
Pada saat itu, InJourney menyebut konsolidasi dilakukan untuk membangun sektor perhotelan BUMN yang lebih terintegrasi, efisien dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Jumlah Hotel Berkembang dari Proyeksi Awal
Sebelumnya, pada Juni 2026, jumlah hotel yang diproyeksikan masuk dalam ekosistem InJourney disebut sekitar 120 hotel. Integrasi tersebut bahkan diproyeksikan menjadikan InJourney sebagai salah satu operator hotel terbesar di Indonesia. Pernyataan terbaru Rosan pada 14 Agustus menunjukkan angka yang akan dikonsolidasikan kini sekitar 137 hotel.
Dengan demikian, angka 137 merupakan perkembangan terbaru dari proses inventarisasi dan konsolidasi aset hotel BUMN yang sebelumnya diberitakan sekitar 120 hotel.
Bukan Sekadar Menggabungkan Perusahaan
Danantara menempatkan konsolidasi sebagai bagian dari program streamlining BUMN. Tujuannya bukan sekadar mengurangi jumlah badan usaha, tetapi memastikan aset yang telah ditata dapat dikelola lebih produktif.
Danantara sebelumnya menegaskan bahwa proses penataan portofolio BUMN dilakukan melalui berbagai skema, termasuk restrukturisasi, merger, likuidasi maupun divestasi. Fokus akhirnya adalah meningkatkan kualitas pengelolaan aset dan menciptakan nilai tambah bagi negara.
Pada sektor manajemen investasi, misalnya, Danantara pada Juli 2026 telah mengalihkan pengendalian empat perusahaan manajer investasi BUMN ke Danantara Asset Management. Keempat perusahaan tersebut memiliki total dana kelolaan lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026.
InJourney Jadi Pengelola Terintegrasi
Untuk sektor hospitality, konsolidasi diarahkan ke InJourney sebagai holding BUMN bidang aviasi dan pariwisata. InJourney Hospitality menjadi entitas yang menjalankan pengelolaan bisnis hotel dalam ekosistem tersebut. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan hotel BUMN tidak lagi berjalan secara terpisah di masing-masing perusahaan, sehingga dapat menciptakan skala ekonomi, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat standar layanan dan meningkatkan daya saing.
InJourney sendiri saat ini mengelola jaringan hotel yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Bali dan Sumatera. Bagi Danantara, konsolidasi 137 hotel tersebut menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk merapikan struktur BUMN sekaligus memastikan aset negara memberikan kontribusi ekonomi yang lebih optimal.
( berbagai sumber)
